
<h2><strong>Belajar Diam dan Belajar Berbicara</strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Darda’ mengatakan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">تَعَلَّمُوْا الصَّمْتَ كَمَا تَتَعَلَّمُوْنَ الْكَلَامَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Belajarlah untuk diam sebagaimana kalian belajar untuk berbicara.” (Diriwayatkan oleh al-Khara’ithi dalam kitabnya Makarim al-Akhlaq)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana kita perlu belajar untuk berbicara kita juga perlu belajar untuk diam dan tidak asal komentar. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan belajar berbicara adalah belajar berbicara yang baik dan bijak. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbicara yang bijak adalah membicarakan hal yang tepat, di waktu yang tepat dan dengan cara penyampaian yang tepat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">🔅Mewujudkan tiga hal ini bukanlah hal yang mudah, perlu latihan, perlu menerima teguran dan berbenah serta perlu sensitif untuk menimbang apakah suatu kalimat itu sudah memenuhi tiga kriteria di atas ataukah tidak. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud belajar diam adalah diam yang bijak karena tidak semua diam itu emas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diam pada saat kondisi mengharuskan untuk berbicara adalah tindakan yang tidak bijak. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diam dan tidak berbicara bukan dalam bidang yang dikuasai, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diam saat berbicara hanya akan menimbulkan keributan yang tidak perlu terjadi, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diam manakala berbicara itu dampak negatifnya lebih besar dibandingkan manfaatnya adalah contoh diam yang bijak. </span></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.</strong></p>
 