
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[1] Amalan-Amalan Paling Utama</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu ‘Amr asy-Syaibani</strong>, dia berkata: Pemilik rumah ini -beliau mengisyaratkan dengan tangan menunjuk rumah <strong>Abdullah (Ibnu Mas’ud)</strong>– menuturkan kepadaku. Beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Amalan apakah yang paling dicintai Allah <em>‘azza wa jalla</em>?”. Beliau menjawab, “<strong>Sholat pada waktunya</strong>.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?”. Beliau menjawab, “Kemudian <strong>berbakti kepada kedua orang tua</strong>.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?”. Beliau menjawab, “Kemudian <strong>berjihad di jalan Allah</strong>.” Beliau -Ibnu Mas’ud- berkata, “Beliau telah menuturkan kepadaku itu semua. Seandainya aku meminta tambahan lagi niscaya beliau juga akan menambahkannya kepadaku.” (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>al-Irwa’</em>. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 33)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[2] Berbakti Kepada Ibu dan Bapak</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Bahz bin Hakim</strong>, dari ayahnya, dari kakeknya. Kakeknya berkata, “Wahai Rasulullah! Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “<strong>Ibumu</strong>.” Lalu aku bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “<strong>Ibumu</strong>.” Lalu aku bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “<strong>Ibumu</strong>.” Lalu aku bertanya, “Kepada siapakah aku harus berbakti?”. Beliau menjawab, “<strong>Ayahmu</strong>. Kemudian kerabat yang terdekat dan seterusnya.” (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dinilai hasan al-Albani dalam <em>al-Irwa’</em>. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 34)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[3] Amalan Penebus Dosa</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Ibnu Abbas</strong> <em>radhiyallahu’anhuma</em>, ada seorang lelaki datang menemui dirinya dan menceritakan, “Suatu ketika aku melamar seorang perempuan, akan tetapi dia tidak mau menikah denganku. Lalu ada orang selainku yang melamarnya dan dia pun mau menikah dengannya. Aku pun merasa cemburu kepadanya, hingga aku pun membunuhnya.<strong>Apakah aku masih bisa bertaubat?</strong>”. Beliau -Ibnu Abbas- bertanya, “<strong>Apakah ibumu masih hidup</strong>?”. Maka beliau mengatakan, “Kalau begitu <strong>bertaubatlah kepada Allah</strong> <em>‘azza wa jalla</em> dan dekatkanlah dirimu kepada-Nya sekuat kemampuanmu.” <strong>‘Atha’ bin Yasar</strong> berkata: Aku pun berangkat kepada Ibnu Abbas dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau bertanya tentang apakah ibunya masih hidup?”. Beliau menjawab, “Sesungguhnya <strong>aku tidak mengetahui ada suatu amalan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah </strong><em><strong>‘azza wa jalla</strong></em><strong> daripada berbakti kepada seorang ibu</strong>.” (<strong>HR. Bukhari </strong>dalam <em><strong>al-Adab al-Mufrad</strong></em>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>ash-Shahihah</em>, lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 34)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[4] Dosa Besar Yang Paling Besar</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu Bakrah</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian, <strong>dosa besar yang paling besar</strong>?” Beliau mengulanginya sampai 3 kali. Mereka -para Sahabat- menjawab, “Tentu saja wahai Rasulullah!”. Maka beliau bersabda, “<strong>Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua</strong>.” Beliau pun duduk setelah sebelumnya bersandar. Lalu beliau meneruskan, “Ketahuilah, demikian pula <strong>berbicara dusta</strong>.” Beliau terus mengulanginya sampai-sampai aku berkata, “Mudah-mudahan beliau diam.” (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>Ghayat al-Maram</em>, lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 37)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[5] Lebih Utama Daripada Berperang</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abdullah bin ‘Amr</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, beliau menceritakan: Ada seorang lelaki yang datang menemui Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ingin ikut berjihad. Maka beliau bertanya, “<strong>Apakah kedua orang tuamu masih hidup?</strong>”. Dia menjawab, “Iya.” Maka beliau bersabda, “Kalau begitu berjihadlah dengan <strong>berbakti kepada keduanya</strong>.” (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>al-Irwa’</em>, lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 39)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[6] Keutamaan Doa Anak Untuk Orang Tua Yang Sudah Meninggal</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu Hurairah</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, beliau berkata: Mayit akan diangkat derajatnya setelah kematiannya. Maka dia pun bertanya, “Wahai Rabbku! Apakah ini?”. Maka dijawab, “<strong>Anakmu telah memintakan ampunan untukmu</strong>.” (<strong>HR. Bukhari</strong> dalam<em><strong>al-Adab al-Mufrad</strong></em>, dinilai al-Albani sanadnya hasan, lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 45)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[7] Amalan Yang Tidak Terputus Setelah Meninggal</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu Hurairah</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>bersabda, “Apabila seorang hamba meninggal maka <strong>terputuslah amalannya kecuali tiga</strong>: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak salih yang mendoakan kebaikan bagi orang tuanya.” (<strong>HR. Muslim</strong>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>al-Irwa’</em>, lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 45)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[8] Jalan Menuju Surga</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu Ayyub al-Anshari</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, beliau menceritakan bahwa suatu saat di tengah-tengah perjalanan ada seorang arab badui muncul dan bertanya kepada Nabi<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Kabarkan kepadaku <strong>apakah yang dapat mendekatkan diriku ke surga dan menjauhkan aku dari neraka?</strong>”. Beliau pun menjawab, “Engkau <strong>beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun</strong>, lalu kamu mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi.” (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>at-Targhib</em>, lihat<em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 48)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[9] Memuliakan Tetangga</strong></span></p>
<p>Dari <strong>‘Aisyah</strong> <em>radhiyallahu’anha</em>, beliau berkata: Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku punya dua orang tetangga. <strong>Kepada siapakah aku harus memberikan hadiah?</strong>”. Beliau menjawab, “Kepada orang yang lebih dekat pintunya denganmu di antara mereka berdua.” (<strong>HR. Bukhari</strong>, dinilai sahih al-Albani. Lihat<em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 66)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[10] Berbagi Makanan Untuk Tetangga</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Ibnu az-Zubair</strong>, beliau berkata: Aku mendengar Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>bersabda, “Bukanlah seorang mukmin sejati, orang yang <strong>senantiasa merasa kenyang sementara tetangganya kelaparan</strong>.” (<strong>HR. Bukhari</strong> dalam <em><strong>al-Adab al-Mufrad</strong></em>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>ash-Shahihah</em>. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 67)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[11] Berbuat Baik Kepada Teman</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash</strong> <em>radhiyallahu’anhuma</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<strong>Sebaik-baik teman</strong> di sisi Allah <em>ta’ala</em> adalah yang paling berbuat baik kepada temannya. Dan <strong>sebaik-baik tetangga</strong> di sisi Allah adalah yang paling berbuat baik kepada tetangganya.” (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dinilai sahih al-Albani dalam<em>ash-Shahihah</em>. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 68)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[12] Tidak Mengganggu Tetangga</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu Hurairah</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>bersabda, “<strong>Tidak akan masuk surga</strong>, orang yang tetangganya tidak bisa merasa aman dari gangguannya.” (<strong>HR. Muslim</strong>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>ash-Shahihah</em>. Lihat<em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 70)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[13] Menyantuni Janda dan Fakir Miskin</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu Hurairah</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Orang yang berusaha untuk menyantuni janda dan orang miskin <strong>seperti orang yang berjihad di jalan Allah</strong>, dan seperti orang yang rajin berpuasa di siang hari dan menegakkan sholat di malam hari.”<em> </em>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>ash-Shahihah</em>. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 74)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[14] Budak Pun Harus Dimuliakan</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu Hurairah</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Seorang budak memiliki hak untuk diberikan makanan dan pakaian, dan <strong>tidak boleh dibebani pekerjaan yang dia tidak mampu untuk mengerjakannya</strong>.” (<strong>HR. Muslim</strong>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>al-Irwa</em>‘. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 91)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[15] Sedekah Yang Paling Utama</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu Hurairah</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, beliau berkata: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>memerintahkan untuk bersedekah. Lalu ada seorang lelaki berkata, “Saya punya uang 1 dinar?”. Beliau menjawab, “Nafkahilah <strong>dirimu sendiri</strong>.” Lalu dia berkata, “Saya masih punya 1 dinar lagi?”. Beliau menjawab, “Nafkahilah <strong>istrimu</strong>.” Lalu dia berkata, “Saya masih punya 1 dinar lagi?”. Beliau menjawab, “Nafkahilah <strong>pembantumu</strong>, kemudian perhatikanlah yang lain.” (<strong>HR. Nasa’i</strong>, dinilai hasan al-Albani dalam <em>Shahih Abu Dawud</em>dan <em>al-Irwa’</em>. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 92)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[16] Membalas Kebaikan Dengan Kebaikan</strong></span></p>
<p>Dari Jabir bin Abdullah al-Anshari <em>radhiyallahu’anhu</em>, beliau berkata: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan dari orang lain maka <strong>balaslah kebaikannya</strong>. Apabila dia tidak memiliki sesuatu yang bisa untuk membalas kebaikannya, maka <strong>pujilah dia</strong>. Karena apabila dia telah memujinya itu merupakan bentuk syukur/ucapan terima kasih kepadanya. Dan apabila dia justru menyembunyikan hal itu, maka dia telah mengingkarinya. Barangsiapa yang berhias diri dengan <strong>sesuatu yang tidak dia miliki</strong> maka seolah-olah dia mengenakan <strong>dua lembar pakaian kedustaan</strong>.” (<strong>HR. Tirmidzi</strong>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>Takhrij at-Targhib</em>dan <em>ash-Shahihah</em>. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 98)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[17] Termasuk Bentuk Syukur Kepada Allah</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu Hurairah</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Tidak dianggap bersyukur kepada <strong>Allah</strong> orang yang tidak pandai berterima kasih kepada <strong>sesama manusia</strong>.” (<strong>HR. Bukhari</strong> dalam <em><strong>al-Adab al-Mufrad</strong></em>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>ash-Shahihah</em>. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 99)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[18] Menjadi Cermin Bagi Saudaranya</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu Hurairah</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, beliau berkata, “Seorang mukmin itu adalah cermin bagi saudaranya. Apabila dia melihat padanya suatu aib/cacat, maka dia pun <strong>berusaha untuk memperbaikinya</strong>.” (<strong>HR. Bukhari</strong> dalam <em><strong>al-Adab al-Mufrad</strong></em>, dinilai sanadnya hasan oleh al-Albani. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 106)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[19] Keutamaan Akhlak Mulia</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abud Darda’</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan melebihi akhlak yang mulia.” (<strong>HR. Bukhari</strong> dalam <em><strong>al-Adab al-Mufrad</strong></em>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>ash-Shahihah</em>. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 117-118)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[20] Hakikat Kekayaan</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu Hurairah</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, “Bukanlah kekayaan itu diukur dengan banyaknya perbendaharaan harta. Akan tetapi hakikat kekayaan adalah <strong>jiwa yang merasa cukup</strong>.” (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>Takhrij al-Misykat</em>. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 119-120)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[21] Sebab Yang Menjerumuskan Ke Dalam Neraka</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu Hurairah</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, beliau berkata: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>bersabda, “Tahukah kalian apa yang <strong>paling banyak menjerumuskan orang ke dalam neraka</strong>?”. Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau mengatakan, “Yaitu dua buah lubang: <strong>kemaluan dan mulut</strong>. Dan apakah yang <strong>paling banyak memasukkan orang ke dalam surga</strong>? <strong>Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang mulia</strong>.” (<strong>HR. Ibnu Majah</strong>, dinilai hasan al-Albani dalam <em>Takhrij at-Targhib</em>. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 123)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[22] Menghormati Yang Lebih Tua, Menyayangi Yang Lebih Muda</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Abu Hurairah</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, “Barangsiapa yang tidak menyayangi <strong>orang yang lebih muda</strong> di antara kami dan tidak mengerti hak <strong>orang yang lebih tua</strong> maka dia <strong>bukan termasuk golongan kami</strong>.” (<strong>HR. Bukhari</strong> dalam <em><strong>al-Adab al-Mufrad</strong></em>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>Shahih at-Targhib</em>. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 142)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[23] Bergaul dan Bersabar Menghadapi Gangguan Orang</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Ibnu ‘Umar</strong> <em>radhiyallahu’anhuma</em>, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda, “Seorang mukmin yang <strong>bergaul dengan manusia dan bersabar</strong>menghadapi gangguan mereka <strong>lebih baik </strong>daripada seorang mukmin yang <strong>tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar</strong> menghadapi gangguan mereka.” (<strong>HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah</strong>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>ash-Shahihah</em>. Lihat <em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 153-154)</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>[24] Menjaga Persatuan dan Persaudaraan</strong></span></p>
<p>Dari <strong>Anas bin Malik</strong> <em>radhiyallahu’anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>bersabda, “Janganlah kalian saling membenci, janganlah saling mendengki, janganlah saling membelakangi. Jadilah kalian wahai hamba-hamba Allah, sebagai orang-orang yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam.” (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, dinilai sahih al-Albani dalam <em>Ghayat al-Maram</em>. Lihat<em><strong>Shahih al-Adab al-Mufrad</strong></em>, hal. 157)</p>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></p>
<div><em>— </em></div>
<div>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a>
</div>
<div>Artikel <a href="https://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a>
</div>
 