
<p>Belajar Agama dan Berteman dengan Orang Sholeh, Benteng dari Kesesatan</p>
<p>Allah menceritakan keadaan para sahabat,</p>
<p dir="RTL">وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ</p>
<p>Bagaimana mungkin kalian menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? (QS. Ali Imran: 101)</p>
<p>Allah menjamin para sahabat yang berada di sekitar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menjadi kafir, karena dua hal:</p>
<ol start="1">
<li>Mereka selalu mempelajari al-Quran</li>
<li>Ada pembimbing, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengan mereka.</li>
</ol>
<p>Banyak orang jadi sesat, karena dia malas belajar, dan tidak mau bergaul dengan orang yang berilmu.</p>
<p>Suatu ketika Maslamah bin Abdul Malik – seorang gubernur – memasuki kota Bashrah untuk menemui Hasan al-Bashri. Sebelum berjumpa dengan Hasan al-Bashri, beliau menemui Khalid bin Shafwan di kota itu, yang kenal dengan Hasan al-Bashri. Beliaupun tanya-tanya tentang kepribadian Hasan al-Bashri.</p>
<p>Si Khalid pun bercerita tentang Hasan al-Bashri. Dia sampaikan bagaimana zuhudnya Hasan, wara’nya beliau, keluasan ilmunya, dan berbagai kelebihan Hasan al-Bashri. Mendengar keterangan ini, Sang gubernur langsung komentar,</p>
<p dir="RTL">كيف يضل قوم فيهم مثل الحسن البصري</p>
<p>“Bagaimana mungkin masyarakat jadi sesat, sementara di tengah-tengah mereka ada orang seperti Hasan al-Bashri.”</p>
 