
<h1><strong>Beberapa Salah Kaprah di Masyarakat Seputar Puasa</strong></h1>
<ol>
<li>
<b> Jika Haid, maka Tidak Perlu Puasa dan Tidak Perlu Meng-</b><b><i>qadha</i></b>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Kami pernah mendapati ada orang yang memahami bahwa jika wanita haid maka tidak perlu puasa di bulan Ramadhan dan tidak perlu menggantinya. Jelas ini pemahaman yang keliru. ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anha</span></i><span style="font-weight: 400;"> pernah ditanya:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">ما بَالُ الحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، ولَا تَقْضِي الصَّلَاةَ. فَقالَتْ: أحَرُورِيَّةٌ أنْتِ؟ قُلتُ: لَسْتُ بحَرُورِيَّةٍ، ولَكِنِّي أسْأَلُ. قالَتْ: كانَ يُصِيبُنَا ذلكَ، فَنُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّوْمِ، ولَا نُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّلَاةِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mengapa wanita haid harus meng-</span><i><span style="font-weight: 400;">qadha</span></i><span style="font-weight: 400;"> puasa dan tidak perlu meng-</span><i><span style="font-weight: 400;">qadha</span></i><span style="font-weight: 400;"> shalat?” ‘Aisyah menjawab, “Apakah engkau seorang wanita Haruriyah (Khawarij)?”. Ia menjawab, “Saya bukan orang Haruriyah, namun saya sekedar bertanya”. Aisyah berkata, “Dahulu juga kami mengalami haid (di masa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">), namun kami diperintahkan untuk meng-</span><i><span style="font-weight: 400;">qadha</span></i><span style="font-weight: 400;"> puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-</span><i><span style="font-weight: 400;">qadha</span></i><span style="font-weight: 400;"> shalat” (HR. Al Bukhari no. 321, Muslim no. 335).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka jelas bahwa wanita haid wajib meng-</span><i><span style="font-weight: 400;">qadha</span></i><span style="font-weight: 400;"> puasanya di luar Ramadhan. </span></p>
<ol start="2">
<li><b> Jika Haid, maka Tidak Perlu Puasa dan Cukup Bayar Fidyah</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini keyakinan yang keliru. Sebagaimana dalam riwayat di atas, wanita haid itu meng-</span><i><span style="font-weight: 400;">qadha</span></i><span style="font-weight: 400;"> puasanya. Kecuali jika ia sakit dengan penyakit yang berat dan tidak diharapkan kesembuhannya atau sudah tua renta dan tidak mampu puasa lagi. Maka ketika itu barulah ia membayar fidyah.</span></p>
<ol start="3">
<li><b> Berbohong Membatalkan Puasa</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak ada dalil yang membuktikan bahwa berbohong itu membatalkan puasa. Namun memang berbohong itu bisa membatalkan pahala puasa, sebagaimana maksiat-maksiat lainnya. Dalam hadis dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به والجَهْلَ، فليسَ لِلَّهِ حاجَةٌ أنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرابَهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalan dusta serta kejahilan (maksiat), maka Allah tidak butuh amalan ia meninggalkan makan atau minum” (HR. Bukhari no. 6057).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka orang yang berbohong ketika sedang puasa, bisa jadi puasanya sah sehingga ia tidak dituntut untuk mengulang kembali namun pahalanya berkurang atau hangus.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Andaikan berbohong membatalkan puasa maka maksiat-maksiat lain juga membuat puasa batal. Karena dalam hadis di atas tidak hanya disebutkan berbohong saja.</span></p>
<ol start="4">
<li><b> Makan Sahur itu Pukul 2 Malam atau Pukul 3 Malam</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Walaupun tidak keliru secara total dan makan sahurnya tetap sah, namun ini tidak sesuai dengan apa yang disunnahkan. Karena dianjurkan untuk menunda sahur hingga mendekati waktu terbitnya fajar, selama tidak dikhawatirkan datangnya waktu fajar ketika masih makan sahur. Ibnu Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;"> bertanya kepada Zaid bin Tsabit </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Berapa biasanya jarak sahur Rasulullah dengan azan (subuh)? Zaid menjawab: sekitar 50 ayat” (HR. Bukhari no. 1921 dan Muslim no. 1097).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga, makan sahur pukul 2 atau 3 malam, membuat seseorang mengantuk setelahnya dan terlewat shalat subuh. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun makan sahur pada waktu demikian tetap sah karena awal waktu sahur adalah pertengahan malam. An Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">وقت السحور بين نصف الليل وطلوع الفجر</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Waktu sahur itu antara pertengahan malam hingga terbit fajar” (Al Majmu’).</span></p>
<ol start="5">
<li><b> Tidurnya Orang Puasa itu Ibadah, maka Perbanyaklah Tidur</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadis:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadis ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di </span><i><span style="font-weight: 400;">Syu’abul Iman</span></i><span style="font-weight: 400;"> (3/1437). Hadis ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Takhrijul Ihya</span></i><span style="font-weight: 400;"> (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadis ini dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah Adh Dha’ifah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (4696).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat juga riwayat yang lain:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadis ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadis ini juga dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di </span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah Adh Dhaifah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (653).</span></p>
<ol start="6">
<li><b> Tidak Keramas di Siang Hari karena Nanti Masuk Pori-pori dan Batal Puasanya</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini keyakinan yang tidak berdasar sama sekali. Karena andaikan air masuk pori-pori kulit pun, maka itu tidak sama dengan minum dan tidak membatalkan puasa. Terlebih lagi terdapat hadis dari sebagian sahabat Nabi:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لقد رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ بالعرجِ يصبُّ علَى رأسِهِ الماءَ ، وَهوَ صائمٌ منَ العطشِ ، أو منَ الحرِّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku pernah melihat Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alahi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> ketika di Al ‘Urj beliau menyiram kepalanya dengan air dalam keadaan sedang berpuasa. Beliau lakukan demikian karena saking hausnya atau saking panasnya” (HR. Abu Daud no.2365, dishahihkan oleh Al Albani dalam</span><i><span style="font-weight: 400;"> Shahih Abu Daud</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<ol start="7">
<li><b> Tidak Boleh Bermaksiat ketika Puasa, namun setelah Berbuka Baru Bermaksiat</b></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Terkadang ada orang yang menahan diri untuk tidak pacaran di siang hari, namun setelah berbuka puasa ia pacaran. Ada yang menahan diri untuk tidak ghibah dan berbohong di siang hari, namun setelah berbuka puasa ia ghibah dan berbohong. Dan sebagainya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini keyakinan yang aneh sekali. Karena maksiat itu diharamkan baik ketika puasa maupun setelah berbuka. Bahkan diharamkan di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan ibadah puasa adalah untuk melatih kita agar terbiasa menjauhkan diri dari maksiat. Karena jika yang mubah saja kita bisa menahan diri, maka apalagi yang haram. Sehingga orang yang bermaksiat setelah berbuka, seakan-akan ibadah puasa tidak ada manfaatnya buat dia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">memberi taufik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disusun oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.</span></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>:</li>
</ul>
<p>BANK SYARIAH INDONESIA<br>
7086882242<br>
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK<br>
Kode BSI: 451</p>
 