
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalaamu’alaikum</em>.</p>
<p>Bagaimanakah batasan bermesraan dengan istri yang diperbolehkan dan tidak makruhkan? Seperti berciuman, meraba, dll.</p>
<p>Jika seorang istri berpuasa kemudian suami ada keinginan yang kemudian suami beronani dengan tangan istri (maaf), apakah diperbolehkan? Apakah puasa istri masih sah. <em>Jazaakumullah khairan</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Seorang Suami<br>
Alamat: Jakarta<br>
Email: mxxxxx@gmail.com</em></p>
<p align="left"><span id="more-1211"> </span></p>
<p><strong>Ustadz  menjawab:</strong></p>
<p><em>Waalaikum salam warahmatullah…</em></p>
<p><strong>Pertama:</strong> Tidak ada batasan dalam hubungan intim antara suami dengan istri, semua bentuk dan cara dibolehkan, kecuali dalam dua hal:</p>
<p><strong>(a)</strong> Menjima’ istri ketika sedang haidh, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ (البقرة: 222)</p>
<p>“<em>Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah: “Itu adalah sesuatu yang kotor, karena itu jauhilah para istri pada waktu haid, dan jangan kamu dekati mereka hingga mereka suci</em>“. (QS. Al-Baqarah: 222)</p>
<p><strong>(b)</strong> Menjima’ istri pada duburnya, dan ini merupakan dosa besar, sebagaimana sabdanya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا (رواه أبو داود: 2162 وغيره, وصححه الألباني)</p>
<p>“<em>Terlaknat, orang yang menjima’ wanita di duburnya</em>” (HR. Abu Dawud: 2162 dan yang lainnya, di-<em>shahih</em>-kan oleh Al Albani)</p>
<p>Selain kedua hal di atas itu dibolehkan, bagaimanapun bentuknya, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ (البقرة: 223) قال في التفسير الميسر: فجامعوهن في محل الجماع فقط وهو القبل, بأي كيفية شئتم.</p>
<p>“<em>Para Istri kalian adalah ladang bagi kalian, maka datangilah ladang kalian itu bagaimana saja kalian menghendaki</em>” (QS. Al-Baqarah: 223). Dalam tafsir <em>Al-Muyassar </em>( 35) dikatakan: “Maka ber-<em>jima’</em>-lah dengan istri kalian di tempat <em>jima’</em>-nya saja, -yakni vaginanya-, dengan cara apapun kalian menghendaki”.</p>
<p><strong>Kedua: </strong>Boleh bagi suami untuk meminta istrinya melakukan hal yang disebutkan oleh penanya diatas, dan puasa istri tetap sah. Karena itu tidak termasuk hal yang membatalkan puasa, <em>wallahu a’lam</em>.</p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Ustadz Musyaffa Ad Darini, Lc.<br>
Sumber: <a href="http://ustadzkholid.com/">UstadzKholid.Com</a></p>
 