
<h2>Bangkitlah Ummatku</h2>
<p>Tidak asing lagi fakta kehidupan yang  sedang dijalani oleh umat islam sekarang ini. Berbagai petaka, bencana,  penindasan, pelecehan, berbagai nestapa dan pilu lainnya dengan  bertubi-tubi terus menyertai setiap lembaran sejarah mereka. Dari hari  ke hari, pendengaran kita tiada hentinya mendengarkan berbagai berita  yang menyayat-nyayat hati.</p>
<p>Musuh dari segala aliran dan bangsa  dengan bengisnya menindas, menjajah, dan merampas hak umat Islam. Dengan  segala kerakusan dan keserakahannya mereka merampas segala  keindahan  umat Islam. Semua itu berlangsung tanpa ada daya dan upaya yang dapat  dilakukan oleh umat Islam  untuk menangkal atau menyingkapnya.</p>
<p>Fakta ini benar-benar seperti yang digambarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam hadits berikut:</p>
<p><em>“Tak  lama lagi berbagai bangsa akan ramai-ramai bersekongkol atas kalian,  bak persekongkolan para pemakan ramai-ramai menuju kepada piring  hidangannya. Maka seorang sahabat bertanya : Apakah karena kami kala itu  berjumlah sedikit? Beliau menjawab: Bahkan kalian kala itu berjumlah  banyak, akan tetapi kalian buih bak buih air bah, dan sungguh Allah akan  menyirnakan rasa takut dari dada musuh-musuh kalian, dan Ia akan  mencampakkan Al Wahanu</em> <em>di jantung-jantung kalian. Maka salah seorang sahabat berkata:</em> <em> Wahai Rasulullah, apakah Al Wahanu itu? Beliau menjawab: Cinta terhadap dunia dan benci akan kematian.” </em>(Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya, serta dishohihkan oleh Al Albany)</p>
<p>Walau  demikian, kita tidak boleh berkecil hati atau merasa putus asa, karena  Allah Ta’ala telah memberikan jaminan bahwa kemenangan, dan kejayaan  pasti akan menghampiri hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa:</p>
<p class="arab">{وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ{ الأنبياء 105.</p>
<p><em>“Dan  sungguh-sungguh telah Kami tuliskan (tetapkan) di dalam Zabur sesudah  (Kami tuliskan dalam Lauh Mahfuzh) bahwasannya bumi ini akan diwarisi  oleh hamba-hamba-Ku yang soleh.” </em>Al Anbiya’ 105.</p>
<p>Ibnu Katsir  berkata: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa hal ini (kemenangan orang-orang  soleh-pen) telah dituliskan dalam kitab syar’i (taqdir syar’iyah) dan  kitab Qodari (taqdir kauniyah), dan hal itu pasti terwujud.” (Tafsir  Ibnu katsir 3/201).</p>
<p>Pada ayat lain Allah berfirman:</p>
<p class="arab">وَعَدَ  اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ  لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن  قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ  وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا  يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ  الْفَاسِقُونَ- النور 55</p>
<p><em>Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang <strong><span style="text-decoration: underline;">beriman di antara kamu dan beramal soleh</span></strong>,  bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi,  sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan  sungguh Ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Ia ridhai untuk  mereka. Dan Ia benar-benar akan menggantikan (keadaan) mereka setelah  mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentausa. Mereka tetap  beribadah kepada-Ku dengan tiada menyekutukan-Ku dengan sesuatu. Dan  barang siapa yang (tetap) kufur sesudah janji ini, maka mereka itulah  orang-orang fasik.”</em> An Nur 55. Dan pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ- غافر 51</p>
<p><em>“Sesungguhnya  Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam  kehidupan dunia dan pada hari tegakkanya para saksi (hari Qiyamat)”  Ghofir 50.</em></p>
<p>Inilah janji Allah, inilah jaminan dari Allah, dan  inilah sebagian dari imbalan bagi orang-orang yang memenuhi janji mereka  kepada Allah.</p>
<p>Bila kita renungkan ketiga ayat di atas, niscaya  kita dapatkan dengan jelas bahwa janji Allah ini tidaklah diberikan  dengan tanpa syarat. Akan tetapi janji Allah ini hanya dapat digapai  dengan dua syarat :</p>
<p>1. Syarat Pertama: Iman.</p>
<p>2. Syarat Kedua : Amal sholeh.</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em> berkata: “Karena para sahabat <em>-semoga Allah meridhoi mereka-</em> adalah para penegak perintah-perintah Allah sepeninggal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan mereka adalah manusia paling ta’at kepada Allah <em>Azza wa Jalla, </em>dengan  demikian pertolongan yang didapatkan sesuai dengan amalan mereka.  Mereka menegakkan kalimat Allah di belahan bumi bagian timur dan barat,  maka Allah benar-benar meneguhkan mereka. Sehingga mereka berhasil  menguasai umat manusia dan berbagai negeri. Sepeninggal mereka, umat  Islam melakukan kekurangan dalam sebagian syari’at, maka kejayaan  merekapun berkurang selaras dengan amalan mereka.” (Tafsir Ibnu katsir  3/302).</p>
<p>Sebenarnya, lembaran sejarah yang sedang dijalani oleh  umat Islam pada zaman sekarang, tidaklah lebih berat bila dibandingkan  dengan lembaran sejarah yang dijalani oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersama sahabatnya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  dituduh sebagai tukang sihir, pendusta, dan dan disakiti serta  diperangi. Ada dari sahabatnya yang dibunuh dengan cara-cara sadis nan  bengis, sebagaimana yang dialami oleh sahabat Yasir &amp; Sumayyah. Ada  dari mereka yang disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan, sebagaimana  yang dialami oleh Ammar bin Yasir, Khabbab bin Arat, Bilal dll.</p>
<p>Menjalani tantangan yang sangat berat ini, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tetap tegar meniti setiap tahapan dakwah, tanpa kenal lelah atau kecil  hati. Beliau berjuang sekuat tenaga guna mewujudkan kedua persyaratan  diatas pada sahabatnya.</p>
<p>Dan tatkala ada dari sebagian dari  sahabatnya yang merasa bahwa jalan menuju kejayaan terlalu panjang,  dengan tegar beliau kembali menegaskan bahwa bila kedua persyaratan  diatas telah terealisasi, maka jalan menuju kejayaan sangatlah pendek.   Mari kita simak beberapa bukti akan hal ini:</p>
<p>Abul ‘Aliyah menyatakan bahwa ayat 55 surat An Nur di atas diturunkan pada awal Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya diperintahkan untuk berperang, sehingga beliau dan  para sahabatnya senantiasa dalam keadaan khawatir akan serangan musuh.  Oleh karenanya, mereka senantiasa menenteng senjata, sampai-sampai salah  seorang sahabat berkata kepada beliau: <em>“Akankah selama-lamanya kita  akan berada dalam ketakutan semacam ini?, mungkinkah akan datang suatu  saat yang aman sehingga kamipun meletakkan senjata?</em> Maka Nabipun menjawab: <em>“Tidaklah  kalian bersabar melainkan hanya dalam waktu yang singkat, sampai akan  datang suatu masa, yang padanya salah seorang dari kamu akan duduk  berongkang-ongkang ditengah keramaian manusia, sedangkan tidak sepotong  besipun (senjata) ada bersama mereka,”</em> <em>kemudian Allah menurunkan ayat di atas. </em>(Tafsir At Thobary 18/159).</p>
<p>Imam Bukhori meriwayatkan dari sahabat Khabbab bin Arat radhiallahu ‘anhu, bahwa pada suatu hari beliau mendatangi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang sedang berbaring di bawah naungan Ka’bah berbantalkan selimutnya. Lalu sahabat Khabbab berkata kepada beliau: <em>Tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami? </em>Maka  beliau menjawab: Dahulu pada umat sebelum kalian ada orang yang  ditimbun dalam tanah, kemudian didatangkan gergaji, lalu diletakkan di  atas kepalanya hingga terbelah menjadi dua. Siksa itu tidaklah  menjadikan ia berpaling dari agamanya. Dan ada yang disisir dengan sisir  besi, hingga terkelupas daging, dan nampaklah tulang atau ototnya, akan  tetapi hal itu tidaklah menjadikan ia berpaling dari agamanya. <em>Sungguh  demi Allah, urusan ini akan menjadi sempurna, sehingga akan ada  penunggang kendaraan dari Sanaa’ hingga ke Hadramaut, sedangkan ia  tidaklah merasa takut kecuali kepada Allah atau serigala atas dombanya. <strong>Akan tetapi kalian adalah orang-orang yang terburu-buru</strong>.</em>“</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pada kisah ini kembali menggugah keimanan Khabbab kepada janji Allah.  Sebagaimana Beliau r juga menegur sahabat Khabbab agar meninggalkan  sikap terburu-buru dalam perjuangan di jalan Allah.</p>
<p><em>Subhanallah, </em>hanya  sekejap, yaitu dalam kurun waktu tiga puluh tahun (50 thn) dari  kebangkitan Nabi Muhammad, umat Islam berhasil meruntuhkan dua negara  adidaya kala itu, yaitu negara Persia dan Romawi.</p>
<p>Bila kita  mempelajari sejarah peperangan umat Islam kala itu, niscaya kita akan  mendapatkan suatu keajaiban. Semula bangsa arab yang tidak  diperhitungkan sama sekali bangsa-bangsa lain, dalam sekejap mengusai  dunia. Semua itu berhasil mereka gapai dengan persenjataan dan  jumlah  pasukan yang jauh lebih sedikit dibanding musuh.</p>
<p>Tidak pernah terjadi peperangan yang dimenangkan oleh umat Islam, sedangkan jumlah pasukan mereka lebih banyak dibanding musuh.</p>
<p>Semua ini adalah berkat keimanan dan kesungguhan mereka dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala:</p>
<p class="arab">وَعَدَ  اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ  لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن  قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ  وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا  يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ  الْفَاسِقُونَ- النور 55</p>
<p><em>Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang <strong><span style="text-decoration: underline;">beriman di antara kamu dan beramal soleh</span></strong>,  bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi,  sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan  sungguh Ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Ia ridhai untuk  mereka. Dan Ia benar-benar akan menggantikan (keadaan) mereka setelah  mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentausa. Mereka tetap  beribadah kepada-Ku dengan tiada menyekutukan-Ku dengan sesuatu. Dan  barang siapa yang (tetap) kufur sesudah janji ini, maka mereka itulah  orang-orang fasik.”</em> An Nur 55.</p>
<p>Bila sahabat Khabbab radhiallahu ‘anhu yang hanya meminta agar Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memohonkan pertolongan dan berdoa, dinyatakan terburu-buru, maka  baimana halnya dengan sikap banyak dari umat Islam pada zaman ini. Dari  mereka ada yang menempuh jalan demonstrasi, pengeboman, pendirian partai  politik, dan menggalang dukungan dari siapapun, serta berkoalisi dengan  partai apapun, tanpa perduli dengan asas dan idiologinya. Semua ini  mereka lakukan dibawah slogan: menyegerakan kejayaan umat Islam?!!  Mengusahakan jaminan hidup bermartabat bagi umat Islam?! Memperjuangkan  nasib kaum muslimin?!! Bahkan dari mereka ada yang berkata: Bila umat  islam tidak masuk parlemen, maka siapakah yang akan menjamin nasib  mereka?!</p>
<p>Seakan-akan mereka tidak pernah mendengar jaminan dan janji Allah di atas.</p>
<p>Seusai  perjanjian Hudaibiyyah ditandatangani, sahabat Umar bin Khatthab  radhiallahu ‘anhu yang tidak kuasa melihat sahabat Abu Jandal  radhiallahu ‘anhu diserahkan kembali ke orang-orang Quraisy, berkata  kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: Bukankah engkau adalah benar-benar Nabiyullah? Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab: Ya. Umarpun kembali berkata: Bukankah kita di atas kebenaran,  sedangkan musuh kita di atas kebatilan? Nabipun menjawab: Ya! Umarpun  berkata: Lalu mengapa kita pasrah dengan kehinaan dalam urusan agama  kita, bila demikian adanya? Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab: Sesungguhnya Aku adalah Rasulullah, dan <strong><em>aku tidak akan menyelisihi perintah-Nya, dan Allah adalah Penolongku.</em></strong> Umar kembali berkata: Bukankah engkau pernah mengabarkan kepada kami  bahwa kita akan mendatangi Ka’bah, kemudian berthowaf di sekelilingnya?  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjawab: <strong><em>Iya, dan apakah aku pernah mengabarkan bahwa kita akan mendatangi Ka’bah pada tahun ini?</em></strong><em> </em>Umarpun menjawab: Tidak. Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menimpalinya: <strong><em>Sesungguhnya engkau akan mendatanginya, dan akan bertowaf mengelilinginya</em></strong>. (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Pada kisah ini, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berusaha meneguhkan kembali keimanan Umar bin Khatthab kepada janji  Allah agar tidak tergoyah. Dan mengungatkannya agar bersabar dalam  menanti datangnya pertolongan Allah, yaitu dengan tetap taat kepada  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Demikianlah seyogyanya  pertolongan Allah Ta’ala digapai. Yaitu dengan keimanan yang benar dan  kokoh dan kesabaran yang teguh. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ -السجدة 25.</p>
<p><em>“Dan  Kami jadikan dari mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan  perintah Kami, ketika mereka bersabar dan adalah mereka selalu meyakini  ayat-ayat Kami.” </em> (As Sajdah 24).</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata: “Pada  ayat ini Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia telah menjadikan mereka  (pengikut nabi Musa-pen) sebagai pemimpin-pemimpin yang dijadikan  panutan oleh generasi setelah mereka, berkat kesabaran dan keyakinannya.  <strong><em>Sebab dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam hal agama dapat dicapai</em></strong>.  Karena seorang penyeru kepada jalan Allah Ta’ala, tidaklah akan  terealisasi cita-citanya, melainkan bila ia benar-benar yakin akan  kebenaran misi yang ia serukan, ia menguasai ilmu tentangnya. Ia juga  bersabar dalam menjalankan dakwah menuju jalan Allah, yaitu dengan tabah  menahan beban dakwah dan menahan diri dari segala hal yang akan  meluluhkan tekad dan cita-citanya. Barang siapa demikian ini halnya,  maka ia termasuk para pemimpin yang telah mendapat petunjuk dari Allah  Ta’ala.” (I’ilamul Muwaqi’in 4/135)</p>
<p>Kisah antara Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan sahabat Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu di atas, tentu tidak selaras dengan doktrin sebagian orang bahwa: <em>yang  paling penting sekarang ini adalah kita bergerak, umat islam harus  bertindak, sekarang ini bukan lagi saatnya untuk menyoal tentang asma’  was sifat, sunnah, atau bid’ah, sedangkan saudara kita di sana dibantai,  di sini ditindas, disana diserang dst. Sekarang ini bukan saatnya untuk  bertanya sunnah atau bid’ah? Sekarang ini saatnya kita bersatu,  menggalang dukungan, melupakan segala perbedaan, dan berusaha mencari  titik temu, dst.</em></p>
<p>Doktrin ini tidaklah diucapkan kecuali oleh orang yang tidak mengenal keagungan Allah Ta’ala:</p>
<p>Anas  bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya kalian mengerjakan  berbagai amalan, yang di mata kalian lebih lembut dibanding rambut,  padahal kami dahulu semasa hidup Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>  menganggapnya sebagai amalan yang membinasakan.” (Riwayat Bukhory).</p>
<p>Tatkala  Kholifah Umar bin Al Khotthab terluka akibat tusukan Abu Lu’lu’ah Al  Majusi, ia dijenguk oleh seorang pemuda yang berkata: “Bergembiralah  wahai Amirul Mukminin dengan kabar gembira dari Allah untukmu; engkau  telah menjadi sahabat Rasulullah, dan banyak berjasa untuk Islam  sebagaimana yang engkau ketahui sendiri, kemudian engkau dipilih menjadi  pemimpin, dan engkaupun berlaku adil, kemudian engkau mati syahid.  Umarpun menjawab: Aku berandai-andai itu semua cukup, tidak atasku dan  juga tidak untukku. Tatkala pemuda itu telah berpaling, ternyata  sarungnya menyentuh tanah. Umar-pun berkata: Panggillah kembali pemuda  itu, lalu ia berkata kepadanya: <strong><em>“Wahai anak saudaraku! Naikkanlah  bajumu, karena dengan cara itu bajumu akan lebih awet, dan engkau lebih  bertaqwa kepada Rabb-mu”.</em></strong><em> </em>(Riwayat Bukhori).</p>
<p>Pada  akhir hayatnya, Kholifah Umar bin Khatthab masih juga perhatian dengan  masalah isbal. Beliau atau sahabat lainnya yang hadir kala itu tidak ada  yang berkata: <em>“Sekarang, bukan saatnya berbicara tentang isbal, sekarang saatnya berbicara tentang calon pengganti kholifah,”</em> atau ucapan yang semakna.</p>
<p>Kholifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkirim surat kepada salah seorang panglimanya:</p>
<p>“Hendaknya  engkau senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam setiap situasi yang  engkau hadapi, karena ketakwaan kepada Allah adalah senjata paling  ampuh, taktik paling bagus, dan kekuatan paling hebat. <strong><em>Janganlah engkau dan kawan-kawanmu lebih waspada dalam menghadapi musuh dibanding menghadapi perbuatan maksiat kepada Allah.</em> </strong>Karena perbuatan dosa lebih aku kawatirkan atas masyarakat dibanding tipu daya musuh mereka. <strong><em>Kita memusuhi musuh kita dan mengharapkan kemenangan atas mereka berkat tindak kemaksiatan mereka.</em></strong> Kalaulah bukan karena itu, niscaya kita tidak kuasa menghadapi mereka,  karena jumlah kita tidak seimbang dengan jumlah mereka, kekuatan kita  tidak setara dengan kekuatan mereka. Bila kita tidak mendapat  pertolongan atas mereka berkat kebencian kita terhadap kemaksiatan  mereka, niscaya kita tidak dapat mengalahkan mereka hanya dengan  kekuatan kita.</p>
<p>Jangan sekali-kali kalian lebih mewaspadai  permusuhan seseorang dibanding kewaspadaanmu terhadap dosa-dosamu  sendiri. Janganlah kalian lebih serius menghadapi mereka dibanding  menghadapi dosa-dosa kalian.</p>
<p>Ketahuilah bahwa kalian senantiasa  diawasi oleh para malaikat pencatat amalan. Mereka mengetahui setiap  perilaku kalian sepanjang perjalanan dan peristirahatan kalian.  Hendaknya kalian merasa malu dari mereka, dan berlaku santun dihadapan  mereka. Jangan sekali-kali menyakiti mereka dengan tindak kemaksiatan  kepada Allah, padahal kalian mengaku sedang berjuang di jalan Allah.</p>
<p>Janganlah sekali-kali kalian beranggapan bahwa : <strong><em>“Sesungguhnya  (perbuatan) musuh-musuh kita lebih jelek dibanding kita, sehingga tidak  mungkin mereka dapat mengalahkan kita, walaupun kita berbuat dosa.  Betapa banyak kaum yang telah dikuasai oleh orang-orang yang lebih  jelek, akibat dari perbuatan dosa kaum tersebut.”</em></strong></p>
<p>Mohonlah  pertolongan kepada Allah dalam menghadapi diri kalian, sebagaimana  kalian memohon pertolongan kepada-Nya dalam menghadapi musuh kalian.  Sebagaimana kamipun turut memohon hal tersebut untuk diri kita dan juga  untuk kalian.” (Hilyatul Auliya’ 5/303)</p>
<p><em>Subhanallah, </em>suatu  pesan yang layak untuk dituliskan dengan tinta emas, dan dibacakan  kepada setiap orang yang di hatinya sedang berkobar-kobar api perjuangan  demi Islam. Sudah sepantasnya pesan ini diajarkan kepada setiap pemuda  Islam yang ingin memperjuangkan nasib Islam dan umatnya.</p>
<p>Kisah peperangan uhud dan peperangan Hunain adalah contoh kecil bagi ucapan Kholifah Umar bin Abdul Aziz: <strong><em>Janganlah sekali-kali kalian beranggapan bahwa : “Sesungguhnya (perbuatan) musuh-musuh kita lebih jelek dibanding kita,</em></strong>…” .</p>
<p>Pada perang Uhud, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersama sahabatnya menghadapi kaum kafir Quraisy. Mereka datang ke  madinah guna membalas dendam atas kekalahan mereka pada perang Bader.   Sebagian sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melanggar perintah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar tidak meninggalkan pos penjagaan mereka di atas gunung, walau terjadi kejadian apapun. Sampai-sampai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda kepada mereka:</p>
<p class="arab">كونوا مكانكم لا تبرحوا وإن رأيتم الطير تخطفنا</p>
<p>“Tetaplah  kalian berada di pos kalian, dan janganlah kalian berhanjak pergi,  walaupun kalian menyaksikan burung-burung telah menyambar-nyambar kami”.  (Al Baihaqy dll).</p>
<p>Akan tetapi perintah ini oleh sebagian sahabat  yang bertugas menjaga pos di atas gunung dilanggar. Mereka berdalih,  perang telah usai, dan musuh mulai lari tunggang-langgang, sehingga  mereka merasa perlu untuk ikut mengumpulkan rampasan perang dan menawan  musuh yang berhasil di tangkap. Akibat pelanggaran yang dilakukan oleh  sebagian sahabat ini, terjadilah kekalahan dan petaka, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terluka dan terjatuh hingga pingsan, lebih dari tujuh puluh sahabat terbunuh dll.</p>
<p>Pada kisah ini, sebagian sahabat melanggar perintah untuk ittiba’ (meneladani dan mentaati) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></p>
<p>Dan pada perang Hunain, sebagian sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lalai akan Allah, sehingga mereka merasa percaya diri dan beranggapan  tidak akan terkalahkan, karena jumlah mereka banyak. Sebagaimana Allah  kisahkan hal ini dalam surat At Taubah 25:</p>
<p class="arab">(لَقَدْ  نَصَرَكُمُ اللّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ  أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ  عَلَيْكُمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ)</p>
<p><em>“Sesungguhnya  Allah telah menolong kalian di medan peperangan yang banyak, dan  (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu terperdaya oleh  banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat  kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, k  emudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” </em>(At Taubat).</p>
<p>Pada  kisah ini sebagian sahabat yang merasa percaya diri dengan jumlah  pasukan dan melalikan tawakkal kepada Allah, maka mereka ditimpa  kekalahan, walaupun akhirnya para sahabatnya yang telah kokoh  keimanannya, segera kembali dan berjihad melawan musuh. Dan akhirnya  Allah Ta’ala melimpahkan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan sahabatnya kemenangan. Pada kisah ini, kaum muslimin terkalahkan  pada awal peperangan, akibat rasa ujub dan lupa tawakkal, sehingga  terjadi kekeliruan dalam hal tauhid kepada Allah.</p>
<p>Bila kita  sedikit menoleh kepada realita umat Islam pada zaman kita ini, maka kita  dapatkan sangat jauh beda. Bukan sekedar dosa-dosa kecil yang  diremehkan, akan tetapi berbagai dosa besar bahkan syirikpun tidak lagi  diperdulikan. Berapa ribu kuburan yang dikeramatkan? Berapa juta ajimat  dikantongi umat islam? Berapa ribu para normal dan para tidak normal  bebas membuka praktek umum. Berapa ribu habib dan kiayi bebas  mengajarkan bid’ah dan kesesatannya? Adakah orangyang merasa terusik,  atau menggalang kekuatan dan dukungan untuk mengingkari itu semua?</p>
<p>Kebanyakan  umat Islam sekarang ini disibukkan dengan urusan jabatan dan perebutan  jatah kursi. Mereka sewot bila ada pejabat yang korupsi, akan tetapi  tidak pernah sewot sedikitpun bila ada kuburan yang dikultuskan, atau  bid’ah yang diajarkan.</p>
<p>Sebenarnya fakta ini bukanlah hal baru, akan tetapi senantiasa terjadi di sepanjang masa. mari kita simak kisah berikut:</p>
<p><em>             “Dari sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu ia menuturkan :  Datang kepadaku salah seorang dari anshar (penduduk madinah) pada masa  khilafah Utsman, kemudian ia berbicara kepadaku, ternyata ia  memerintahkanku untuk mencela Utsman, dan ia adalah orang yang lisannya  berat (susah berbicara) sehingga ia tidaklah dapat menyampaikan  maksudnya dengan jelas, dan ketika ia telah selesai berbicara, sayapun  menjawab: “Dahulu kami (para sahabat), semasa hidup Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Orang  paling utama dari umat  ini ialah Abu Baker, kemudian Umar, kemudian Utsman. Dan sungguh demi  Allah, kami tidaklah mengathui bahwa Utsman pernah membunuh seorang jiwa  tanpa alasan yang dibenarkan, tidak juga pernah melakukan dosa besar. <strong><span style="text-decoration: underline;">Akan  tetapi yang menjadi permasalahan ialah harta kekayaan ini (harta  kekayaan khilafah/ negara), bila ia memberikannya kepada kalian, kalian  ridho, dan bila ia berikannya kepada karib kerabatnya kalian menjadi  murka</span></strong>. Sesungguhnya kalian ini ingin menjadi seperti  orang-orang Persia dan Romawi, mereka tidaklah pernah memiliki seorang  pemimpin, melainkan mereka bunuh sendiri.” </em> Riwayat Ahmad, Al Khollah dan At Thobrani</p>
<p>Sebagai penutup tulisan singkat ini, saya cukupkan dengan menyebutkan dua hadits berikut:</p>
<p class="arab">لئن  أنتم اتبعتم أذناب البقر وتبايعتم بالعينة وتركتم الجهاد في سبيل الله  ليلزمنكم الله مذلة في أعناقكم ثم لا تنزع منكم حتى ترجعون إلى ما كنتم  عليه وتتوبون إلى الله. رواه أحمد وأبو داود والبيهقي وصححه الألباني</p>
<p><em>“Bila kalian telah (sibuk dengan) mengikuti ekor-ekor sapi, berjual beli dengan cara ‘innah</em>([1])<em> </em> <em>dan  meninggalkan jihad, niscaya Allah akan melekatkan kehinaan ditengkuk-  tengkuk kalian, kemudian kehinaan tidak akan dicabut dari kalian hingga  kalian kembali kepada keadaan kalian semula dan bertaubat kepada Allah.” </em>Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al Baihaqy dan dishohihkan oleh Al Albany.</p>
<p class="arab">يُوشِكُ  أن تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ من كل أُفُقٍ كما تَدَاعَى الآكلة على  قَصْعَتِهَا قال قُلْنَا يا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا  يَوْمَئِذٍ قال أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنْ تَكُونُونَ غُثَاءً  كَغُثَاءِ السَّيْلِ يَنْتَزِعُ الْمَهَابَةَ من قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ  وَيَجْعَلُ في قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ قال قُلْنَا وما الْوَهَنُ قال حُبُّ  الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ رواه احمد وغيره</p>
<p><em>“Tidak lama  lagi kalian akan dikerumuni oleh umat-umat lain dari segala penjuru,  layaknya para penyantap makanan yang sedang mengelilingi suatu piring  makanan (nampan). Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apakah hal itu  terjadi dikarenakan kala itu kita berjumlah sedikit? Beliau menjawab:  “Kalian kala itu berjumlah banyak, akan  tetapi kalian bagaikan buih air  bah. Rasa takut telah sirna dari hati musuh-musuh kalian, sedangkan di  hati kalian tertanam rasa al wahan.” Para sahabat kembali bertanya:  Apakah “al wahanu itu”? Beliau menjawab: “Rasa cinta terhadap kehidupan  dan takut terhadap mati (syahid).” </em>Riwayat Ahmad dan lain-lain.</p>
<p>Wallahu a’alam bisshowab.</p>
<p>Oleh: DR. Muhammad Arifin Baderi, MA</p>
<p><strong>Keterangan:</strong></p>
<p>[1]  ) Jual beli ‘Innah ialah seseorang menjual kepada orang lain suatu  barang dengan pembayaran dihutang, kemudian seusai barang diserahkan,  segera penjual tadi membeli kembali barang tersebut dengan harga yang  lebih murah dan dengan pembayaran kontan.</p>
 