
<p>Meninggalkan shalat perkara yang teramat berbahaya. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahayanya pula dalam berbagai hadits, setelah sebelumnya kita lihat dalam <a title="Bahaya Meninggalkan Shalat: Dalil Al Qur'an" href="https://rumaysho.com/shalat/bahaya-meninggalkan-shalat-1-dalil-al-quran-4902">berbagai ayat Al Qur’an mengenai hal ini</a>.</p>
<h4><span style="color: #0000ff;"><b>Hadits Pertama</b></span></h4>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<h3 dir="RTL" style="text-align: center;">
<span style="color: #ff0000;"><b>بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ</b></span><b></b>
</h3>
<p>“<i>(Pembatas)</i> <i>antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat</i>.” (HR. Muslim no. 257)</p>
<h4><span style="color: #0000ff;"><b>Hadits Kedua</b></span></h4>
<p>Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata,”Aku mendengar Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<h3 dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><b>الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ</b></span></h3>
<p>“<i>Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir</i>.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan <i>shohih</i> oleh Syaikh Al Albani. Lihat <i>Misykatul Mashobih</i> no. 574)</p>
<h4><span style="color: #0000ff;"><b>Hadits Ketiga</b></span></h4>
<p>Dari Tsauban <i>radhiyallahu ‘anhu</i> -bekas budak Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>-, beliau mendengar Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<h3 dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><b>بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ </b></span></h3>
<p>“Pemisah <i>Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.</i>” (HR. Ath Thobariy dengan sanad <i>shohih</i>. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini <i>shohih</i>. Lihat <i>Shohih At Targib wa At Tarhib </i>no. 566)</p>
<h4><span style="color: #0000ff;"><b>Hadits Keempat</b></span></h4>
<p>Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah <i>shallallahu ’alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<h3 dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><b>مَنْ تَرَكَ صَلاَةً مَكْتُوبَةً مُتَعَمِّداً فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ</b></span></h3>
<p>“<i>Barangsiapa meninggalkan shalat yang wajib dengan <span style="text-decoration: underline;">sengaja</span>, maka janji Allah terlepas darinya. </i>” (HR. Ahmad no.22128. Dikatakan <i>hasan lighoirihi</i> oleh Syaikh Al Albani dalam <i>Shohih At Targib wa At Tarhib </i>no. 569)</p>
<h4><span style="color: #0000ff;"><b>Hadits Kelima</b></span></h4>
<p>Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<h3 dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><b>رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ </b></span></h3>
<p>”<i>Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.</i>” (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam <i>Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi</i>)</p>
<p>Dalam hadits ini, dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah seperti penopang (tiang) yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat.</p>
<h4><span style="color: #0000ff;"><b>Hadits Keenam</b></span></h4>
<p>Dalam dua kitab shohih, berbagai kitab sunan dan musnad, dari Abdullah bin ’Umar <i>radhiyallahu ’anhuma</i>. Beliau berkata bahwa Rasulullah <i>shallallahu ’alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<h3 dir="RTL" style="text-align: center;">
<span style="color: #ff0000;"><b>بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ</b></span><b></b>
</h3>
<p><i>”Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, pen), (5) berpuasa di bulan Ramadhan.”</i>  (Lafadz ini adalah lafadz Muslim no. 122)</p>
<p>Cara pendalilan dari hadits ini adalah :</p>
<p>1)    Dikatakan dalam hadits ini bahwa islam adalah seperti kemah yang dibangun atas lima tiang. Apabila tiang kemah yang terbesar tersebut masih ada, maka tegaklah kemah Islam.</p>
<p>2)    Dalam hadits ini juga disebutkan bahwa rukun-rukun Islam dijadikan sebagai tiang-tiang suatu kemah. Dua kalimat syahadat adalah tiang, shalat juga tiang, zakat juga tiang. Lalu bagaimana mungkin kemah Islam tetap berdiri jika salah satu dari tiang kemah sudah tidak ada, walaupun rukun yang lain masih ada?!</p>
<h4><span style="color: #0000ff;"><b>Hadits Ketujuh</b></span></h4>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<h3 dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><b>مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا ، وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا ، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا ، فَهُوَ المُسْلِمُ لَهُ مَا لَنَا وَعَلَيْهِ مَا عَلَيْنَا</b></span></h3>
<p>“<i>Barangsiapa mengerjakan shalat kami, menghadap kiblat kami, dan memakan sembelihan kami; maka dia adalah muslim</i>. <i>Dia memiliki hak sebagaimana hak umumnya kaum muslimin. Demikian juga memiliki kewajiban sebagaimana kewajiban kaum muslimin.</i>” (Lihat <i>Syarhul ‘Aqidah Ath Thohawiyyah Al Albani</i>, 351. Beliau mengatakan bahwa hadits ini <i>shohih</i>)<a title="" href="file:///D:/Rumaysho.Com/00%20Buku%20Rumaysho.com/Hukum%20Meninggalkan%20Shalat/Enggan%20Shalat-ed.doc#_ftn1"><br>
</a></p>
<p>Cara pendalilan dari hadits ini adalah :</p>
<p>1)    Seseorang dikatakan muslim jika memenuhi tiga syarat seperti yang disebutkan dalam hadits di atas. Maka tidak disebut muslim jika tidak memenuhi syarat tersebut.</p>
<p>2)    Jika seseorang shalat menghadap ke arah timur, tidak disebut muslim hingga dia shalat dengan menghadap kiblat muslimin. Maka bagaimana jika seseorang yang tidak pernah menghadap kiblat karena meninggalkan shalat secara total?!</p>
<h4><span style="color: #0000ff;"><b>Hadits Kedelapan</b></span></h4>
<p>Diriwayatkan Mihjan bin Al Adro’ Al Aslamiy bahwa</p>
<h3 dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><b>أَنَّهُ كَانَ فِى مَجْلِسٍ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَذَّنَ بِالصَّلاَةِ – فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ رَجَعَ وَمِحْجَنٌ فِى مَجْلِسِهِ – فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّىَ أَلَسْتَ بِرَجُلٍ مُسْلِمٍ ». قَالَ بَلَى وَلَكِنِّى كُنْتُ قَدْ صَلَّيْتُ فِى أَهْلِى فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا جِئْتَ فَصَلِّ مَعَ النَّاسِ وَإِنْ كُنْتَ قَدْ صَلَّيْتَ ».</b></span></h3>
<p>Beliau pernah berada di majelis bersama Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>, lalu dikumandangkan adzan untuk shalat. Kemudian beliau <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> berdiri, lalu kembali (ke belakang, pen), sedangkan Mihjan masih dudk di tempat semula. Kemudian Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> mengatakan,”<i>Apa yang menghalangimu shalat, bukankah engkau adalah seorang muslim</i>?” Lalu Mihjan mengatakan, ”<i>Betul. Akan tetapi saya sudah melaksanakan shalat bersama keluargaku.</i>” Lalu Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> mengatakan padanya, ”<i>Apabila engkau datang, shalatlah bersama orang-orang, walaupun engkau sudah shalat.</i>” (HR. An Nasa’i no. 685. Dikatakan <i>shohih</i> oleh Syaikh Al Albani dalam<b> </b><i>Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i</i>)</p>
<p>Dalam hadits ini, Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> menjadikan pembeda antara muslim dan kafir dengan shalat. Maka dalam hadits tersebut terlihat bahwasanya seandainya seseorang itu muslim maka pasti dia shalat. Hal ini sama saja jika dikatakan,”Kenapa engkau tidak berbicara, bukankah engkau adalah orang yang mampu berbicara?” atau “Kenapa engkau tidak bergerak, bukankah engkau orang yang hidup?”.</p>
<p>Seandainya seseorang disebut muslim <span style="text-decoration: underline;">tanpa</span> mengerjakan shalat, maka tentu tidak perlu dikatakan pada orang yang tidak shalat, ”Bukankah kamu adalah seorang muslim?”</p>
<h4><span style="color: #0000ff;"><b>Hadits Kesembilan</b></span></h4>
<p>Hadits berikut ini tidak berasal dari kitab <i>Ash Sholah</i>, Ibnul Qoyyim. Namun, sengaja ditambahkan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam risalahnya ‘<i>Hukmu Tarikish Sholah</i>’ karena di dalamnya terdapat faedah yang sangat berharga.</p>
<p>Dalam <i>Shohih Muslim</i> dari Ummu Salamah <i>radhiyallahu ‘anha</i> berkata bahwa Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<h3 dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><b>سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِىَ وَتَابَعَ</b></span></h3>
<p><i>“Suatu saat akan datang para pemimpin. Mereka melakukan amalan ma’ruf (kebajikan) dan kemungkaran (kejelekan). Barangsiapa mengetahui bahwa itu adalah kemungkaran maka dia telah bebas. Barangsiapa mengingkarinya maka dia selamat. Sedangkan (dosa dan hukuman adalah) bagi siapa yang ridho dan mengikutinya.”</i> Kemudian para shahabat berkata, “<i>Apakah kami boleh memrangi mereka.</i>” Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> menjawab,</p>
<h3 dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><b>لاَ مَا صَلَّوْا</b></span></h3>
<p>“<i>Jangan selama mereka mengerjakan shalat</i>.” (HR. Muslim no. 4906. Lihat penjelasan hadits ini di Ad Dibaj ‘ala Muslim, 4/462 dan Syarha An Nawawi ‘ala Muslim, 6/327)</p>
<p>Dari ‘Auf bin Malik <i>radhiyallahu ‘anhu</i>, Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<h3 dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><b>خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ ».</b></span></h3>
<p><i>“Sebaik-baik pemimpin-pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” </i>Kemudian ada yang berkata, ”<i>Wahai</i> <i>Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?”</i>   Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda, “<i>Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya  dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” </i>(HR. Muslim no. 4910)</p>
<p>Dalam dua hadits ini terdapat dalil untuk memerangi penguasa dengan pedang apabila mereka tidak mendirikan shalat. Dan tidak boleh menentang penguasa dan memerangi mereka sampai mereka melakukan <b>kufur yang nyata</b> di mana terdapat pada kita <i>burhan</i> (petunjuk) dari Allah <i>Ta’ala</i> sebagaimana hadits dari ‘Ubadah bin Ash Shomit <i>radhiyallahu ‘anhu</i>,</p>
<h3 dir="RTL" style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><b>دَعَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَبَايَعْنَاهُ فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِى مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ قَالَ « إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ »</b></span></h3>
<p>“<i>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> <i>mengajak kami untuk berbai’at, lalu kami berbai’at kepadanya. Bai’at tersebut mewajibkan kami untuk mendengar dan selalu ta’at kepada penguasa dalam keadaan senang atau benci, sulit atau lapang, dan mengalahkan kepentingan kami, juga tidak menentangnya.</i> <i>Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Sampai kalian melihat adanya kekufuran yang nyata dan kalian memiliki bukti dari Allah’.</i>” (HR. Muslim no. 4877)</p>
<p>Kesimpulannya, Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> dalam hadits ini mengaitkan perbuatan meninggalkan shalat dengan memerangi penguasa dan ini dianggap sebagai kekufuran yang nyata.<b></b></p>
<p>—</p>
<p>—</p>
<p>Akhukum fillah,</p>
<p><a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Disusun di <a href="http://darushsholihin.com/">Pesantren Darush Sholihin</a>, 7 Safar 1435 H, dini hari</p>
<p>—</p>
<p>Ikuti status kami dengan memfollow <a href="https://www.facebook.com/muhammad.tuasikal">FB Muhammad Abduh Tuasikal</a>, <a href="http://www.facebook.com/rumaysho">Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat</a>, Twitter <a href="https://twitter.com/RumayshoCom">@RumayshoCom</a></p>
<p>—</p>
<p>Akan segera terbit buku terbaru karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, yaitu <a href="http://ruwaifi.com/buku-terbaru-mengenal-bidah-lebih-dekat-pre-order/">Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat</a> (harga: Rp.13.000,-). Bagi yang ingin melakukan pre order, kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diingatkan ketika buku sudah siap untuk dikirim.</p>
 