
<p><span><span>Islam adalah agama yang mulia. Islam telah mengatur seluruh permasalahan di dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk di dalamnya adalah permasalahan hutang-piutang. </span></span>Islam tidak hanya membolehkan seseorang berhutang kepada orang lain, tetapi Islam juga mengatur adab-adab dan aturan-aturan dalam berhutang.</p>
<h4>Hukum Berhutang</h4>
<p><span><span>Hukum asal dari berhutang adalah boleh (<em>jaa-iz</em>). Allah </span></span><span><span><i>sub</i></span></span><span><span><i><span style="text-decoration: underline;">h</span></i></span></span><span><span><i>aanahu wa ta’aala</i></span></span><span><span> menyebutkan sebagian adab berhutang di dalam Al-Qur’an. Allah </span></span><span><span><i>sub</i></span></span><span><span><i><span style="text-decoration: underline;">h</span></i></span></span><span><span><i>aanahu wa ta’aala </i></span></span><span><span>berfirman:</span></span></p>
<p align="CENTER"><span><span>{ </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ </span></span></span></span><span><span>}</span></span></p>
<p><span>“<em>Hai orang-orang yang beriman! Apabila kalian ber-</em></span><em>mu’aamalah</em><span><span><em> tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya.</em>” (QS Al-Baqarah: 282)</span></span></p>
<p><span><span>Rasulullah </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span> pernah berhutang. Di akhir hayat beliau, beliau masih memiliki hutang kepada seorang Yahudi, dan hutang beliau dibayarkan dengan baju besi yang digadaikan kepada orang tersebut.</span></span></p>
<p><span><span>Diriwayatkan dari ‘Aisyah </span></span><span><span><i>radhiallaahu’anhaa</i></span></span><span><span>, bahwasanya dia berkata:</span></span></p>
<p><span><span>( </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>أَنَّ النَّبِيَّ </span></span></span></span><span><span>–</span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>صلى الله عليه وسلم</span></span></span></span><span><span>– </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ إِلَى أَجَلٍ فَرَهَنَهُ دِرْعَهُ </span></span></span></span><span><span>)</span></span></p>
<p><span>“<em>Nabi </em></span><em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em><span><span><em> membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tidak tunai, kemudian beliau menggadaikan baju besinya</em>” (HR Al-Bukhari no. 2200)</span></span></p>
<h4>Kebiasaan Sering Berhutang</h4>
<p><span><span>Akan tetapi, banyak kaum muslimin yang menganggap remeh hal ini. Mereka merasa nyaman dengan adanya hutang yang “melilit’ dirinya. Bahkan, sebagian dari mereka di dalam hidupnya tidak pernah sedetik pun ingin lepas dari hutang. Sebelum lunas pinjaman yang pertama, maka dia ingin meminjam lagi untuk yang kedua, ketiga dan seterusnya. </span></span></p>
<p><span><span>Jika hal ini dibiarkan, maka ini akan berlarut-larut dan akan “menular” kepada orang lain di sekitarnya. Terlebih lagi, dengan banyaknya fasilitas untuk berhutang yang disediakan oleh lembaga-lembaga, badan-badan atau perusahaan-perusahaan yang menganut sistem ribawi. Dan parahnya, tidak hanya orang-orang awam yang terlibat dengan hal-hal seperti ini, orang yang sudah lama mengaji, orang berilmu dan orang-orang kaya pun turut berpartisipasi dalam “meramaikannya”. </span></span><span><span><i>Na’uudzu billaahi min dzaalika</i></span></span><span><span>.</span></span></p>
<p><span><span>Rasulullah </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span> sangat takut berhutang dan sangat takut jika hal tersebut menjadi kebiasaannya. Mengapa demikian?</span></span></p>
<p><span><span>Diriwayatkan dari ‘Aisyah </span></span><span><span><i>radhiallaahu ‘anhaa</i></span></span><span><span>, bahwasanya dia mengabarkan, “Dulu Rasulullah </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span> sering berdoa di shalatnya: </span></span></p>
<p><span><span>( </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ</span></span></span></span><span><span>, </span></span><span><span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ</span></span></span></span></span><span><span>)</span></span></p>
<p><span>“<em>Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah </em></span><em>Al-Masii<span style="text-decoration: underline;">h</span> Ad-Dajjaal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. </em><span><span><span style="text-decoration: underline;"><em>Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berhutang</em></span></span></span><span><span>“</span></span></p>
<p><span><span>Berkatalah seseorang kepada beliau:</span></span></p>
<p><span><span>( </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ؟ </span></span></span></span><span><span>)</span></span></p>
<p><span>“<span><em>Betapa sering engkau berlindung dari hutang?</em>”</span></span></p>
<p><span><span>Beliau pun menjawab:</span></span></p>
<p><span><span>( </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ</span></span></span></span><span><span>, </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ</span></span></span></span><span><span>. )</span></span></p>
<p><span>“<span><em>Sesungguhnya seseorang yang (biasa) berhutang, jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya</em>” (HR Al-Bukhaari no. 832 dan Muslim no. 1325/589)</span></span></p>
<p><span><span>Perlu dipahami bahwa berhutang bukanlah suatu perbuatan dosa sebagaimana telah disebutkan. Tetapi, seseorang yang terbiasa berhutang bisa saja mengantarkannya kepada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah </span></span><span><span><i>sub</i></span></span><span><span><i><span style="text-decoration: underline;">h</span></i></span></span><span><span><i>aanahu wa ta’aala</i></span></span><span><span>. Pada hadits di atas disebutkan dua dosa akibat dari kebiasaan berhutang, yaitu: berdusta dan menyelisihi janji. Keduanya adalah dosa besar bukan?</span></span></p>
<p><span><span>Mungkin kita pernah menemukan orang-orang yang sering berhutang dan dililit oleh hutangnya. Apa yang menjadi kebiasaannya? Bukankan orang tersebut suka berdusta, menipu dan mengingkari janjinya? </span></span><span><span><i>Allaahumma innaa na’udzu bika min dzaalika</i></span></span><span><span>.</span></span></p>
<h4>Memberi Jaminan Ketika Berhutang</h4>
<p><span><span>Mungkin di antara pembaca ada yang mengatakan, “Bukankan Rasulullah </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span> sendiri berhutang?” </span></span></p>
<p><span><span>Ya, Rasulullah </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span> berhutang karena sangat membutuhkan hal tersebut pada saat itu. Coba kita perhatikan dengan seksama </span></span><span><span><i>hadiits</i></span></span><span><span> yang telah disebutkan. Bukankan yang dihutangi oleh Rasulullah </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span> adalah makanan? Jika benar-benar memiliki kebutuhan, maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang tercela. </span></span></p>
<p><span><span>Tetapi perlu diingat, Rasulullah </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span> telah melakukan hal yang mulia ketika beliau berhutang. Apakah hal yang mulia tersebut? Beliau menggadaikan baju besinya sebagai jaminan. Apabila beliau tidak mampu membayarnya, maka baju besi itulah yang menjadi pembayarannya.</span></span></p>
<p><span><span>Begitulah seharusnya yang kita lakukan ketika berhutang. Kita harus memiliki jaminan dalam berhutang. Jaminan-jaminan tersebut bisa berupa:</span></span></p>
<ol>
<li>
<span><span><strong>Harta yang dimiliki</strong><br>
Misalkan seseorang ingin membeli motor, dia memiliki uang di simpanannya sebanyak Rp 15 juta. Uang tersebut tidak berani dia keluarkan, karena menjadi simpanan usahanya yang harus di sisakan di simpanan bisnisnya, untuk berjaga-jaga dalam permodalan atau karena hal-hal lain. Kemudian orang tersebut membeli motor dengan kredit seharga Rp 15 juta kepada seseorang dengan batas waktu yang telah ditentukan.
<p></p></span></span>Hal seperti ini tidak tercela, karena seandainya dia meninggal, maka dia memiliki jaminan harta yang ada di simpanannya.</li>
</ol>
<ol start="2">
<li>
<strong>Menggadaikan barang (<i>Ar-Rahn</i></strong><span><span><strong>)</strong><br>
Hal ini telah dijelaskan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah <i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i>.</span></span>
</li>
</ol>
<ol start="3">
<li>
<strong>Mengalihkan hutang kepada piutang yang dimiliki (<i>Al-</i><i><span style="text-decoration: underline;">H</span></i><i>awaalah/Al-</i><i><span style="text-decoration: underline;">H</span></i><i>iwaalah</i></strong><span><span><strong>)</strong><br>
Misalkan si A memiliki piutang (orang lain [si B] berhutang kepadanya) sebesar Rp 5 juta, kemudian orang tersebut ingin berhutang kepada si C sebesar Rp 5 juta. Si A mengatakan kepada si C, “Bagaimana menurutmu jika piutangku pada si B menjadi jaminan hutang ini.” Kemudian si C pun menyetujuinya. Maka hal tersebut juga tidak tercela dan pengalihan seperti ini diperbolehkan di dalam Islam. Seandainya si A meninggal, maka hutang tersebut menjadi tanggung jawab si B untuk membayarkannya kepada si C.</span></span>
</li>
</ol>
<ol start="4">
<li>
<strong>Mencari penanggung jawab atas hutang yang dimiliki (<i>Al-Kafaalah</i></strong><span><span><strong>)</strong><br>
Misalkan seseorang membutuhkan biaya yang sangat besar secara mendadak, seperti: biaya operasi yang diakibatkan oleh kecelakaan. Orang tersebut tidak memiliki uang atau harta sebagai jaminannya. Pihak rumah sakit meminta orang tersebut mencari seorang penanggung jawab (<em>kafil</em>) atas hutangnya tersebut. Seandainya orang tersebut kabur atau meninggal dunia, maka penanggung jawabnyalah yang membayarkan hutangnya kepada rumah sakit. Hal ini diperbolehkan dengan syarat penanggung jawab tersebut mampu untuk membayarkan hutangnya atau mampu mendatangkan orang yang berhutang tersebut apabila dia kabur.</span></span>
</li>
</ol>
<h4>Keburukan Jika Hutang Tidak Sempat Dilunasi</h4>
<p><span><span>Jika tidak memiliki jaminan-jaminan yang telah disebutkan di atas, sebaiknya jangan membiasakan diri untuk berhutang. Karena orang yang meninggal sedangkan dia memiliki tanggungan hutang, maka dia akan mendapatkan banyak keburukan. Setidaknya penulis sebutkan tiga keburukan pada tulisan ini.</span></span></p>
<h5>Keburukan pertama: Tidak dishalati oleh tokoh-tokoh agama dan masyarakat</h5>
<p><span><span>Nabi </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span> tidak menshalati jenazah yang memiliki hutang. </span></span></p>
<p><span><span>( </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ </span></span></span></span><span><span>–</span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ</span></span></span></span><span><span>– </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>قَالَ</span></span></span></span><span><span>: </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ </span></span></span></span><span><span>–</span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>صلى الله عليه وسلم</span></span></span></span><span><span>– </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ، فَقَالُوا</span></span></span></span><span><span>: </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>صَلِّ عَلَيْهَا ، فَقَالَ </span></span></span></span><span><span>: (( </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ </span></span></span></span><span><span>)), </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>قَالُوا</span></span></span></span><span><span>: </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>لاَ، قَالَ</span></span></span></span><span><span>: (( </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا ؟ </span></span></span></span><span><span>)), </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>قَالُوا</span></span></span></span><span><span>: </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>لاَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ، ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى، فَقَالُوا</span></span></span></span><span><span>: </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>يَا رَسُولَ اللهِ، صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ</span></span></span></span><span><span>: (( </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ </span></span></span></span><span><span>)) </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>قِيلَ </span></span></span></span><span><span>: </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>نَعَمْ ، قَالَ</span></span></span></span><span><span>: (( </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا؟ </span></span></span></span><span><span>)) </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>قَالُوا </span></span></span></span><span><span>: </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>ثَلاَثَةَ دَنَانِيرَ، فَصَلَّى عَلَيْهَا، </span></span></span><span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ، فَقَالُوا</span></span></span></span></span><span><span><span style="text-decoration: underline;">: </span></span><span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>صَلِّ عَلَيْهَا، قَالَ</span></span></span></span></span><span><span><span style="text-decoration: underline;">: (( </span></span><span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>هَلْ تَرَك شَيْئًا؟ </span></span></span></span></span><span><span><span style="text-decoration: underline;">)) </span></span><span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>قَالُوا </span></span></span></span></span><span><span><span style="text-decoration: underline;">: </span></span><span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>لاَ، قَالَ</span></span></span></span></span><span><span><span style="text-decoration: underline;">: (( </span></span><span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>فَهَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ ؟ </span></span></span></span></span><span><span><span style="text-decoration: underline;">)) </span></span><span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>قَالُوا</span></span></span></span></span><span><span><span style="text-decoration: underline;">: </span></span><span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>ثَلاَثَةُ دَنَانِيرَ ، قَالَ</span></span></span></span></span><span><span><span style="text-decoration: underline;">: (( </span></span><span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ </span></span></span></span></span><span><span><span style="text-decoration: underline;">))</span></span><span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>،</span></span></span></span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span> قَالَ أَبُو قَتَادَةَ</span></span></span></span><span><span>: </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>صَلِّ عَلَيْهِ يَا رَسُولَ اللهِ، وَعَلَيَّ دَيْنُهُ، فَصَلَّى عَلَيْهِ</span></span></span></span><span><span>.)</span></span></p>
<p><span><span>Diriwayatkan dari Salamah bin Al-Akwa’ </span></span><span><span><i>radhiallaahu ‘anhu</i></span></span><span><span>, dia berkata, “Dulu kami duduk-duduk di sisi Rasulullah </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span>, kemudian didatangkanlah seorang jenazah. Orang-orang yang membawa jenazah itu pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau pun menshalatinya. Kemudian didatangkan lagi jenazah yang lain. Orang-orang yang membawanya pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Ya.’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Ada tiga dinar.’ Kemudian beliau pun menshalatinya. </span></span><span><span><span style="text-decoration: underline;">Kemudian didatangkanlah jenazah yang ketiga. Orang-orang yang membawanya pun berkata, ‘Shalatilah dia!’ Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia meninggalkan harta peninggalan?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak.’Beliau pun bertanya, ‘Apakah dia punya hutang?’ Mereka pun menjawab, ‘Ada tiga dinar.’ Beliau pun berkata, ‘Shalatlah kalian kepada sahabat kalian!</span></span></span><span><span> Kemudian Abu Qatadah pun berkata, ‘Shalatilah dia! Ya Rasulullah! Hutangnya menjadi tanggung jawabku.’ Kemudian beliau pun menshalatinya.” (HR Al-Bukhaari no. 2289)</span></span></p>
<p><span><span><i>Hadits</i></span></span><span><span> di atas jelas sekali menunjukkan bahwa Rasulullah </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span> tidak mau menshalati orang yang punya hutang. Hal ini sebagai bentuk pengajaran beliau bahwa membiasakan diri untuk berhutang sedangkan dia tidak memiliki jaminan adalah sesuatu yang buruk. Oleh karena itu, sudah selayaknya orang-orang terpandang, tokoh masyarakat dan agama melakukan hal seperti ini ketika ada orang yang meninggal dan dia memiliki tanggungan hutang.</span></span></p>
<h5>Keburukan kedua: Dosa-dosanya tidak akan diampuni sampai diselesaikan permasalahannya dengan orang yang menghutanginya</h5>
<p><span><span>Diriwayatkan dari Abu Qatadah </span></span><span><span><i>radhiallaahu ‘anhu</i></span></span><span><span> dari Rasulullah </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span> bahwasanya seseorang bertanya kepada Rasulullah </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span>: </span></span></p>
<p><span><span>( </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّى خَطَايَاىَ ؟</span></span></span></span><span><span>)</span></span></p>
<p><span>“<span><em>Bagaimana menurutmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan diampuni?</em>”</span></span></p>
<p><span><span>Beliau pun menjawab:</span></span></p>
<p><span><span>( </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>نَعَمْ وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ إِلاَّ الدَّيْنَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ لِى ذَلِكَ </span></span></span></span><span><span>)</span></span></p>
<p><span>“<em>Ya, dengan syarat engkau sabar, mengharapkan ganjarannya, maju berperang dan tidak melarikan diri, kecuali hutang. Sesungguhnya Jibril </em></span><em>‘alaihissalam</em><span><span><em> baru memberitahuku hal tersebut</em>” (HR Muslim no. 4880/1885)</span></span></p>
<p><span><span><i>Hadits</i></span></span><span><span> di atas menjelaskan bahwa ibadah apapun, bahkan yang paling </span></span><span><span><i>afdhal</i></span></span><span><span> sekalipun yang merupakan hak Allah tidak bisa menggugurkan kewajiban untuk memenuhi hak orang lain. </span></span></p>
<h5>Keburukan ketiga: Ditahan untuk tidak masuk surga, meskipun dia memiliki banyak amalan sampai diselesaikan permasalahannya dengan orang yang menghutanginya</h5>
<p><span><span>Diriwayatkan dari Tsauban, Rasulullah </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span> bersabda:</span></span></p>
<p><span><span>( </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>مَنْ مَاتَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ</span></span></span></span><span><span>: </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>الْكِبْرِ</span></span></span></span><span><span>, </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>وَالْغُلُولِ</span></span></span></span><span><span>, </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>وَالدَّيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ </span></span></span></span><span><span>)</span></span></p>
<p><span>“<em>Barang siapa yang mati sedangkan dia berlepas diri dari tiga hal, yaitu: kesombongan, </em></span><em>ghuluul</em><span><span><em> (mencuri harta rampasan perang sebelum dibagikan) dan hutang, maka dia akan masuk surga</em>. (HR At-Tirmidzi no. 1572, Ibnu Majah no. 2412 dan yang lainnya. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Shahih” di </span></span><span><span><i>Shahih Sunan Ibni Majah</i></span></span><span><span>)</span></span></p>
<h4>Nasehat Seputar Hutang</h4>
<p><span><span>Oleh karena, sebelum mengakhiri tulisan ini, ada beberapa hal yang ingin penulis nasihatkan untuk diri penulis dan pembaca sekalian:</span></span></p>
<ol>
<li><span><span>Janganlah membiasakan diri untuk berhutang. Terutama berhutang yang tidak memiliki jaminan.</span></span></li>
<li>
<span><span>Fasilitas untuk berkecimpung di dalam riba sangatlah banyak sekali di zaman ini. Oleh karena itu, janganlah kita biarkan diri kita berkecimpung di dalamnya! Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah </span></span><span><span><i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span><span> bersabda:
<p></p></span></span>( <span style="font-family: 'Traditional Arabic';">لَعَنَ اللَّهُ آكِلَ الرِّبَا ، وَمُوكِلَهُ ، وَشَاهِدَهُ ، وَكَاتِبَهُ</span>.)
<p>“<em>Allah melaknat pemakan riba, yang memberi makan, saksi dan juru tulisnya</em>” (HR Ahmad no. 3725. Syaikh Syu’aib mengatakan, “<i>Shahih li ghairih</i>.”)</p>
</li>
</ol>
<ol start="3">
<li>
<span><span>Apabila ingin berhutang, maka niatkanlah dengan hati yang jujur untuk segera melunasi hutang tersebut pada waktu yang telah dijanjikan. Insya Allah, Allah akan membantu pelunasannya. </span></span>Rasulullah <i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda:
<p>( <span style="font-family: 'Traditional Arabic';">مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ</span>.)</p>
<p>“<em>Barang siapa meminjam harta manusia dan dia ingin membayarnya, maka Allah akan membayarkannya. Barang siapa yang meminjamnya dan dia tidak ingin membayarnya, maka Allah akan menghilangkan harta tersebut darinya.</em>” (HR Al-Bukhaari no. 2387)</p>
</li>
</ol>
<ol start="4">
<li>
<span><span>Apabila telah sampai batas waktu yang telah ditentukan, maka segeralah membayar hutang tersebut dan jangan menunda-nundanya, terkecuali pada saat itu kita tidak memiliki harta untuk membayarnya. Orang yang memiliki harta untuk membayar hutangnya, tetapi dia sengaja memperlambat pembayarannya, maka dianggap sebagai suatu kezoliman/dosa. </span></span>Rasulullah <i>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</i> :
<p>( <span style="font-family: 'Traditional Arabic';">مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ </span>)</p>
<p>“<em>Memperlambat pembayaran hutang untuk orang yang mampu membayarnya adalah kezaliman.</em>” (HR Al-Bukhaari no. 2288 dan Muslim no. 4002/1564)</p>
</li>
</ol>
<ol start="5">
<li><span><span>Jika benar-benar tidak mampu membayar hutang pada waktu yang telah ditentukan, maka bersegeralah meminta maaf kepada orang yang menghutangi dan minta tenggang waktu untuk membayarnya. </span></span></li>
</ol>
<p><span><span>Demikian tulisan yang singkat ini. Mudahan bermanfaat untuk kita semua dan mohon perkenannya untuk menyampaikan kepada yang lain. </span></span></p>
<p align="CENTER"><span><span>( </span><span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span>اللَّهُمَّ إِنِّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ </span></span></span></span><span><span>)</span></span></p>
<p style="text-align: left;" align="CENTER">—</p>
<p style="text-align: left;" align="CENTER">Penulis: Ustadz Sa’id Yai bin Imanul Huda Lc.<br>
Artikel <a href="https://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
 