
<p lang="id-ID" style="text-align: center;"><strong>Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid</strong></p>
<p lang="id-ID"><strong>Soal: </strong></p>
<p lang="id-ID">Apa hukumnya jika waktu terjadinya gerhana bersamaan dengan <span lang="en-US">pelaksanaan</span> shalat <span lang="en-US">Jum’at</span>?</p>
<p lang="id-ID"><strong>Jawab: </strong></p>
<p lang="id-ID">Segala puji bagi Allah,</p>
<p lang="id-ID" align="justify"><b>Pertama, </b>tatkala gerhana terjadi pada hari Jum’at.<span lang="en-US"> Maka, j</span>ika gerhana matahari terjadi sebelum pelaksanaan shalat Jum’at, dengan waktu yang cukup sehingga shalat gerhana dapat dilaksanakan dengan leluasa semisal di gerhana terjadi waktu dhuha, maka dalam kondisi tersebut shalat gerhana dikerjakan terlebih dahulu, kemudian shalat Jum’at dilaksanakan pada waktunya.</p>
<p lang="id-ID" align="justify">Jika gerhana terjadi pada waktu pelaksanaan shalat Jum’at, maka:</p>
<ul>
<li>
<p lang="id-ID" align="justify">Berdasarkan kesepakatan ulama, shalat Jum’at didahulukan apabila dikhawatirkan durasi terjadinya gerhana berlangsung lama dan melampaui waktu shalat Jum’at<span lang="en-US">;</span></p>
</li>
<li>
<p align="justify">Apabila durasi berlangsungnya gerhana tidak melampaui waktu shalat Jum’at, maka mayoritas ulama berpendapat shalat gerhana didahulukan pelaksanaannya daripada shalat Jum’at. Berbeda dengan ulama Hanabilah yang berpatokan pada pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, di mana beliau berpandangan untuk lebih mendahulukan pelaksanaan shalat Jum’at karena mendahulukan pelaksanaan shalat gerhana akan menimbulkan kesulitan. Dan hal itu justru berkonsekuensi menahan dan melazimkan manusia untuk mengerjakan shalat gerhana. Padahal telah diketahui bersama hukum asal shalat gerhana tidaklah wajib.</p>
</li>
</ul>
<p lang="id-ID" align="justify">Ibnu Qudamah menerangkan di dalam kitabnya, <i>Al Mughni</i>,</p>
<p dir="rtl" lang="id-ID" align="right"><span lang="hi-IN">وإذا اجتمع صلاتان , <span lang="hi-IN">كالكسوف مع غيره من الجمعة </span>, <span lang="hi-IN">أو العيد </span>, <span lang="hi-IN">أو صلاة مكتوبة </span>, <span lang="hi-IN">أو الوتر </span>, <span lang="hi-IN">بدأ بأخوفهما فوتا </span>, <span lang="hi-IN">فإن خيف فوتهما بدأ بالصلاة الواجبة </span>, <span lang="hi-IN">وإن لم يكن فيهما واجبة كالكسوف والوتر أو التراويح </span>, <span lang="hi-IN">بدأ بآكدهما </span>, <span lang="hi-IN">كالكسوف والوتر </span>, <span lang="hi-IN">بدأ بالكسوف </span>; <span lang="hi-IN">لأنه آكد </span>, <span lang="hi-IN">ولهذا تسن له الجماعة </span>, <span lang="hi-IN">ولأن الوتر يقضى </span>, <span lang="hi-IN">وصلاة الكسوف لا تقضى</span> </span>. <span lang="hi-IN">فإن اجتمعت التراويح والكسوف , <span lang="hi-IN">فبأيهما يبدأ ؟ فيه وجهان ، هذا قول أصحابنا ، والصحيح عندي أن الصلوات الواجبة التي تصلى في الجماعة مقدمة على الكسوف بكل حال </span>; <span lang="hi-IN">لأن تقديم الكسوف عليها يفضي إلى المشقة </span>, <span lang="hi-IN">لإلزام الحاضرين بفعلها مع كونها ليست واجبة عليهم </span>, <span lang="hi-IN">وانتظارهم للصلاة الواجبة </span>, <span lang="hi-IN">مع أن فيهم الضعيف والكبير وذا الحاجة ، وقد أمر النبي صلى الله عليه وسلم بتخفيف الصلاة الواجبة </span>, <span lang="hi-IN">كي لا يشق على المأمومين </span>, <span lang="hi-IN">فإلحاق المشقة بهذه الصلاة الطويلة الشاقة </span>, <span lang="hi-IN">مع أنها غير واجبة </span>, <span lang="hi-IN">أولى ، وكذلك الحكم إذا اجتمعت مع التراويح </span>, <span lang="hi-IN">قدمت التراويح لذلك </span>, <span lang="hi-IN">وإن اجتمعت مع الوتر في أول وقت الوتر قدمت ؛ لأن الوتر لا يفوت </span>, <span lang="hi-IN">وإن خيف فوات الوتر قدم </span>; <span lang="hi-IN">لأنه يسير يمكن فعله وإدراك وقت الكسوف </span>, <span lang="hi-IN">وإن لم يبق إلا قدر الوتر </span>, <span lang="hi-IN">فلا حاجة بالتلبس بصلاة الكسوف </span>; <span lang="hi-IN">لأنها إنما تقع في وقت النهي ، وإن اجتمع الكسوف وصلاة الجنازة </span>, <span lang="hi-IN">قدمت الجنازة وجها واحدا </span>; <span lang="hi-IN">لأن الميت يخاف عليه </span>, <span lang="hi-IN">والله أعلم</span></span></p>
<p lang="id-ID" align="justify">“<span lang="en-US">Jika pada suatu waktu pelaksanaan dua shalat terjadi pada waktu bersamaan sebagai contoh shalat gerhana yang terjadi bersamaan dengan shalat lain seperti shalat Jum’at, </span>‘Ied, shalat wajib maupun witir<span lang="en-US">,</span> <span lang="en-US">m</span>aka<span lang="en-US">: </span></p>
<ul>
<li>
<p lang="id-ID" align="justify"><span lang="en-US">S</span>halat yang waktunya paling dikhawatirkan akan segera berakhir<span lang="en-US"> dikerjakan terlebih dahulu;</span></p>
</li>
<li>
<p lang="id-ID" align="justify"><span lang="en-US">Apabila waktu pelaksanaan kedua shalat tersebut sama-sama dikhawatirkan </span>akan <span lang="en-US">berakhir</span>, maka <span lang="en-US">pelaksanaan shalat wajib didahulukan;</span></p>
</li>
<li>
<p lang="id-ID" align="justify">Jika keduanya bukan shalat wajib seperti<span lang="en-US"> shalat</span> gerhana<span lang="en-US"> dengan shalat</span> witir <span lang="en-US">atau shalat</span> tarawih, maka <span lang="en-US">shalat</span> yang hukumnya paling ditekankan<span lang="en-US"> dikerjakan terlbih dahulu</span>. <span lang="en-US"> Sebagai contoh</span> shalat gerhana <span lang="en-US">dengan </span>shalat witir. Pada kondisi ini, shalat gerhana dikerjakan terlebih dahulu mengingat yang pelaksa<span lang="en-US">n</span>aan shalatnya lebih ditekankan. <span lang="en-US">S</span>halat gerhana <span lang="en-US">lebih ditekankan pelaksanaannya</span> karena shalat gerhana dilaksanakan dengan berjama’ah. Se<span lang="en-US">lain itu, </span>shalat witir <span lang="en-US">dapat </span>di<span lang="en-US">qadha di waktu lain,</span> <span lang="en-US">berbeda dengan</span> shalat gerhana<span lang="en-US"> yang tidak diqadha</span>. Lalu, apabila <span lang="en-US">waktu pelaksanaan </span>shalat tarawih dan <span lang="en-US">shalat </span>gerhana<span lang="en-US"> terjadi bersamaan</span>, manakah<span lang="en-US"> di antara keduanya</span> yang<span lang="en-US"> dikerjakan terlebih dahulu</span>? Ada dua pendapat dalam masalah <span lang="en-US">tersebut</span>. <span lang="en-US">Uraian di atas merupakan pendapat rekan-rekan kami.</span></p>
</li>
</ul>
<p align="justify">Adapun pendapat yang tepat menurut pandanganku adalah, s<span lang="en-US">halat wajib yang dikerjakan</span> secara berjama’ah<span lang="en-US"> lebih didahulukan daripada pelaksanaan shalat gerhana bagaimanapun kondisinya.Hal ini dikarenakan mendahulukan pelaksanaan shalat gerhana terhadap shalat wajib akan menimbulkan kesulitan, di mana</span> para jama’ah<span lang="en-US"> yang hadir diharuskan</span> untuk mengerjakan shalat gerhana yang<span lang="en-US"> sebenarnya</span> bukan sebuah kewajiban bagi mereka.</p>
<p align="justify">Hal ini juga membuat mereka harus menunggu sekian lama untuk mengerjakan shalat wajib sementara boleh jadi di antara mereka ada yang berfisik lemah, berusia lanjut, dan memiliki suatu keperluan. Padahal Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk memperingan shalat wajib sehingga tidak memberatkan makmum. Tentu lebih diutamakan untuk tidak menyulitkan makmum dengan mendahulukan pelaksanaan shalat gerhana yang sudah diketahui bersama pelaksanaannya sendiri membutuhkan waktu yang lama dan memberatkan, sementara hukumnya sendiri tidak wajib.</p>
<p align="justify">Hukum yang sama berlaku jika waktu pelaksanaan shalat gerhana bersamaan dengan shalat tarawih, dalam kondisi tersebut pelaksanaan shalat tarawih didahulukan;</p>
<p align="justify">Apabila shalat gerhana terjadi bersamaan dengan shalat witir di awal waktu witir, maka shalat gerhana dilakukan terlebih dahulu karena waktu shalat witir masih panjang.</p>
<p lang="id-ID" align="justify">Adapun jika khawatir waktu shalat witir akan usai, maka pelaksanaan shalat witir didahulukan karena pelaksanaan shalat witir tidak memakan waktu yang lama, sehingga masih memungkinkan untuk melakukan shalat gerhana.</p>
<p lang="id-ID" align="justify">Jika tidak ada lagi waktu yang tersedia kecuali hanya sebatas mengerjakan shalat witir saja, maka tidak perlu lagi melakukan shalat gerhana, karena jika dilakukan boleh jadi shalat gerhana akan dilaksanakan pada waktu terlarang untuk shalat;</p>
<p lang="id-ID" align="justify">Jika shalat gerhana berbarengan dengan shalat jenazah, maka<span lang="en-US"> hanya terdapat satu pendapat yang menyatakan pelaksanaan</span> shalat jenazah<span lang="en-US"> dilakukan terlebih dahulu</span>. <span lang="en-US">Hal ini d</span>ikarenakan jenazah tersebut berhak mendapat perhatian untuk segera dishalatkan dan dimakamkan. <em>Allahu A’lam</em>” <i>Al Mughni</i> (2/146).</p>
<p lang="id-ID" align="justify">Imam Nawawi rahimahullah dalam <em>Al Majmu’</em> (5/61) menuturkan,</p>
<p lang="id-ID" style="text-align: right;" align="justify"><span lang="hi-IN">قال الشافعي والأصحاب رحمهم الله </span>: <span lang="hi-IN">إذا اجتمع صلاتان في وقت واحد قدم ما يخاف فوته </span>, <span lang="hi-IN">ثم الأوكد </span>, <span lang="hi-IN">فإذا اجتمع عيد وكسوف </span>, <span lang="hi-IN">أو جمعة وكسوف وخيف فوت العيد أو الجمعة لضيق الوقت قدم العيد والجمعة ؛ لأنهما أوكد من الكسوف وإن لم يخف فوتهما فالأصح وبه قطع المصنف </span>[<span lang="hi-IN">أبو إسحاق الشيرازي</span>] <span lang="hi-IN">والأكثرون</span>: <span lang="hi-IN">يقدم الكسوف ، لأنه يخاف فوته</span></p>
<p lang="id-ID" align="justify">“<span lang="en-US">Asy-Syafi’i</span> dan <span lang="en-US">rekan-rekan ulama Syafi’iyah</span> mengatakan<span lang="en-US"> j</span>ika dua shalat bersamaan dalam satu waktu, maka shalat yang paling dikhawatirkan akan segera terlewatkan waktunya<span lang="en-US"> dilakukan terlebih dahulu</span>, kemudian <span lang="en-US">shalat </span>yang<span lang="en-US"> hukumnya</span> paling ditekankan. Oleh karena itu jika shalat ‘Ied dan shalat gerhana waktunya bersamaan, atau shalat Jum’at dan shalat gerhana, dan dikhawatirkan shalat ‘Ied atau shalat Jum’at akan terlewatkan karena waktu tidak cukup tersedia, maka pelaksanaan shalat ‘Ied atau Jum’at didahulukan karena kedua shalat tersebut lebih ditekankan hukumnya daripada shalat gerhana. Jika waktu yang tersedia memadai untuk<span lang="en-US"> melakukan</span> <span lang="en-US">dua shalat tersebut</span>, maka menurut pendapat yang lebih tepat <span lang="en-US">ada</span>lah mendahulukan shalat gerhana<span lang="en-US"> karena shalat</span> gerhana memiliki limit waktu yang<span lang="en-US"> lebih</span> terbatas. Pendapat in<span lang="en-US">i</span>lah yang dipilih oleh Abu Ishaq <span lang="en-US">a</span>sh<span lang="en-US">–</span>Shirazy dan mayoritas ulama<span lang="en-US"> Syafi’iyah</span>.”</p>
<p lang="id-ID" align="justify"><span lang="en-US">Pendapat ulama terkait permasalahan ini juga dapat dil</span>ihat <span lang="en-US">di kitab</span> <em><span lang="en-US">al-</span>Mausuu’ah <span lang="en-US">al-</span>Fiqhiyyah</em> [27/258].</p>
<p><span lang="en-US">Pendapat terpilih (<em>rajih</em>) dalam hal ini adalah</span> sebagaimana yang diterangkan Ibnu Qudamah <em>rahimahullah</em><span lang="en-US"> karena alasan yang diterangkan beliau perihal adanya kesulitan apabila pelaksanaan shalat gerhana didahulukan terlebih dahulu daripada shalat Jum’at. Selain itu shalat Jum’at lebih penting dan hukumnya lebih ditekankan.</span></p>
<p lang="id-ID" align="justify">Syaikh<span lang="en-US"> Ibnu</span> Utsaimin <em>rahimahullah</em> pernah ditanya, “Jika dua shalat waktunya bersamaan, semisal shalat gerhana dan shalat lainnya seperti shalat wajib, Jum’at, witir atau tarawih, Maka manakah diantara kedaunya yang didahulukan?”<br>
<span lang="en-US">Beliau</span> menjawab,</p>
<p dir="rtl" lang="id-ID" align="justify"><span lang="hi-IN">الفريضة مقدمة على الكسوف والخسوف ؛ لأنها أهم ، ولأن الله تعالى قال في الحديث القدسي</span>: ( <span lang="hi-IN">ما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضته عليه </span>) ” <span lang="hi-IN">انتهى من </span>“<span lang="hi-IN">مجموع فتاوى ابن عثيمين</span></p>
<p lang="id-ID" align="justify">“Shalat wajib didahulukan atas shalat gerhana matahari dan bulan<span lang="en-US"> k</span>arena shalat fardhu itu lebih penting. Allah <i>Ta’ala</i> berfirman dalam hadits qudsi, ‘Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu (amal shaleh) yang lebih aku cintai daripada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya” (<em>Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin</em> [16/307]).</p>
<p lang="id-ID" align="justify"><b>Kedua, </b>terkait pelaksanaan kedua shalat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>
<p lang="id-ID" align="justify">Jika imam memulai dengan shalat Jum’at, maka ia harus menyampaikan khutbah lalu mengimami shalat Jum’at. Lalu mengerjakan shalat gerhana dilanjutkan dengan khutbah setelahnya<span lang="en-US">;</span></p>
</li>
<li>
<p lang="id-ID" align="justify">Jika imam memulai dengan shalat gerhana dan telah menyelesaikannya, maka selanjutnya imam menyampaikan khutbah Jum’at dan menyampaikan pembahasan tentang gerhana dalam khutbahnya. Setelah itu barulah imam melaksanakan shalat Jum’at. kedua khutbah Jum’at yang telah disampaikan telah mencukupi sehingga khutbah gerhana tidak perlu disampaikan.</p>
</li>
</ul>
<p lang="id-ID" align="justify">Imam An Nawawi <em>rahimahullah</em> menerangkan di dalam kitab sebagaimana yang telah dikutip sebelumnya,</p>
<p lang="id-ID" align="right"><span lang="hi-IN">ولو اجتمع جمعة وكسوف واقتضى الحال تقديم الجمعة خطب لها ثم صلى الجمعة , <span lang="hi-IN">ثم الكسوف </span>, <span lang="hi-IN">ثم خطب للكسوف </span></span><span lang="hi-IN">وإن اقتضى الحال تقديم الكسوف بدأ بها , <span lang="hi-IN">ثم خطب للجمعة خطبتها </span>, <span lang="hi-IN">وذكر فيهما شأن الكسوف وما يندب في خطبتيه ولا يحتاج إلى أربع خطب </span>, <span lang="hi-IN">وقال أصحابنا </span>: <span lang="hi-IN">ويقصد بالخطبتين الجمعة خاصة ، وكذا نص عليه الشافعي في الأم</span></span></p>
<p lang="id-ID" align="justify">“Jika shalat Jum’at dan shalat gerhana bersamaan waktunya dan situasi mengharuskan untuk mendahulukan shalat Jum’at, maka imam <span lang="en-US">melaksanakan</span> khutbah Jum’at terlebih dahulu lalu dilanjutkan shalat Jum’at. Kemudian menunaikan shalat gerhana dilanjutkan dengan khutbah shalat gerhana.</p>
<p lang="id-ID" align="justify">Jika situasi mengharuskan untuk mendahulukan shalat gerhana, maka imam memulai terlebih dahulu pe<span lang="en-US">laksanaan</span> shalat gerhana. <span lang="en-US">Kemudian</span> memberikan khutbah Jum’at dengan menjelaskan tentang gerhana<span lang="en-US"> dan aktivitas yang dianjurkan ketika terjadi gerhana</span> di<span lang="en-US"> dalam khutbah yang disampaikan</span>. Dalam kasus seperti ini, tidak diperlukan empat khutbah (cukup dengan dua khutbah Jum’at). Para ulama <span lang="en-US">Syafi’iyah</span> menerangkan<span lang="en-US"> bahwa</span> <span lang="en-US">dalam kondisi tersebut c</span>ukup<span lang="en-US"> dengan</span> dua khutbah saja. Hal ini juga ditegaskan oleh <span lang="en-US">asy-</span>Syafi’i dalam kitab <em><span lang="en-US">al-</span>Umm</em>”.</p>
<p><em>Allahu A’lam.</em></p>
<p lang="id-ID" align="justify">***</p>
<p lang="id-ID" align="justify"><span lang="en-US">Sumber: </span><span style="color: #0000ff;"><u><a href="https://islamqa.info/ar/121250"><span lang="en-US">https://islamqa.info/ar/121250</span></a></u></span></p>
<p align="justify">Penerjemah: Erlan Iskandar</p>
<p align="justify">Artikel Muslim.or.id</p>
 