
<h1><b>Bagaimana Cara Memilih Guru atau Ustadz?</b></h1>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Saya sudah mengetahui bahwa wajib belajar agama dari ustadz yang bermanhaj salaf. Namun saya masih bingung bagaimana cara mengetahui seorang ustadz itu bermanhaj salaf dan layak diambil ilmunya? Syukran atas jawabannya.</span></i></p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cara memilih guru dalam belajar agama atau memilih seorang ustadz untuk diambil ilmunya adalah dengan memperhatikan tiga hal:</span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Aqidah dan manhajnya lurus, sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman </span><i><span style="font-weight: 400;">salafus shalih.</span></i>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Ilmunya mendalam, layak, dan kompeten untuk mengajarkan ilmu. Bukan orang </span><i><span style="font-weight: 400;">jahil</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau </span><i><span style="font-weight: 400;">ruwaibidhah, </span></i><span style="font-weight: 400;">yang bicara masalah agama tanpa ilmu</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i>
</li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Akhlaknya baik.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibrahim an-Nakha’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">كَانُوا إِذَا أَتَوْا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ، نَظَرُوا إِلَى هديه، وَإِلَى سَمْتِهِ، وَ صلاته, ثم أخذوا عنه </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Para salaf dahulu jika mendatangi seseorang untuk diambil ilmunya, mereka memperhatikan dulu bagaimana aqidahnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana shalatnya, baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya” (HR. ad-Darimi dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Sunan</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya, no.434)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Malik </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang: (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahibu hawa</span></i><span style="font-weight: 400;">‘ (ahlul bid’ah) yang mengajak agar mengikuti </span><i><span style="font-weight: 400;">hawa </span></i><span style="font-weight: 400;">(kebid’ahan), (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadis yang dia sampaikan” (</span><i><span style="font-weight: 400;">At-Tamhid</span></i><span style="font-weight: 400;">, karya Ibnu Abdil Barr, 1/66).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka hendaknya memperhatikan 3 kriteria di atas dan waspadai 4 jenis orang yang disebutkan Imam Malik ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga menjelaskan: “Saya sarankan kepada para penuntut ilmu untuk memilih guru yang dipercaya ilmunya, terpercaya amalnya, terpercaya agamanya, lurus aqidahnya, lurus manhajnya. Jika ia diberi taufik untuk belajar kepada guru yang lurus, maka ia juga akan lurus. Namun jika Allah tidak memberi taufik demikian, maka ia juga akan menyimpang sebagaimana gurunya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu’ al-Fatawa war Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin</span></i><span style="font-weight: 400;">, 26/40).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan hendaknya tidak tertipu oleh kepiawaian seseorang dalam berbicara, padahal kosong dari 3 kriteria di atas. Orang yang piawai bicara, bahasanya fasih dan menyihir, kata-katanya indah, belum tentu orang yang layak diambil ilmunya. Bahkan dalam hadis dari Umar bin al-Khattab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">إن أخوف ما أخاف على أمتي كل منافق عليم اللسان</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Yang paling aku takutkan terhadap umatku adalah setiap orang munafik yang pintar berbicara” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Ahmad [1/22], dishahihkan al-Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah ash-Shahihah </span></i><span style="font-weight: 400;">no.1013)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka kepandaian berbicara bukanlah ukuran. Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan: “Wajib bagi anda wahai kaum Muslimin dan para penuntut ilmu agama, untuk bersungguh-sungguh dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">tatsabbut</span></i><span style="font-weight: 400;"> (cek dan ricek) dan jangan tergesa-gesa dalam menanggapi setiap perkataan yang anda dengar (dalam masalah agama). Dan hendaknya mencari tahu:</span></p>
<ul>
<li aria-level="1">Siapa yang mengatakannya?</li>
</ul>
<ul>
<li aria-level="1">Dari mana datangnya pemikiran tersebut?</li>
</ul>
<ul>
<li aria-level="1">Apa landasannya?</li>
</ul>
<ul>
<li aria-level="1">Adakah dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah?</li>
</ul>
<ul>
<li aria-level="1">Orang yang mengatakannya belajar di mana?</li>
</ul>
<ul>
<li aria-level="1">Dari siapa dia mengambil ilmu (siapa gurunya)?</li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah perkara-perkara yang perlu dicek dan ricek. Terutama di zaman sekarang ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka tidak semua orang yang berkata-kata dalam masalah agama itu langsung diterima walaupun bahasanya fasih, sangat bagus ungkapannya, dan sangat menggugah. Jangan tertipu dengannya hingga anda mengetahui kadar keilmuan dan fiqihnya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Ithaful Qari bit Ta’liqat ‘ala Syarhis Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal.85).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian, guru atau ustadz yang bermanhaj salaf akan saling berkumpul dan bermajelis dengan sesama ustadz yang bermanhaj salaf. Sehingga ketika ingin mengambil ilmu dari seorang ustadz, juga perlu melihat dengan siapa ia sering bersama dan bermajelis. Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Mishri mengatakan: “Carilah guru yang memiliki kedudukan yang mulia, memiliki takwa, memiliki akhlak yang indah, memiliki pikiran yang jernih, yang ia telah lama dalam menelaah ilmu-ilmu, dan ia senantiasa bersama dengan para </span><i><span style="font-weight: 400;">masyaikh</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang </span><i><span style="font-weight: 400;">tsiqah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (terpercaya) di zamannya dalam pembahasan-pembahasan ilmu dan dalam kebersamaan” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Mukhtashar al-Mu’lim</span></i><span style="font-weight: 400;">, 72-73).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian kriteria-kriteria dalam memilih guru dalam menuntut ilmu agama. Andaikan seseorang merasa bingung tentang seorang ulama atau seorang ustadz, apakah ia termasuk yang layak diambil ilmunya ataukah tidak, maka hendaknya ia bertanya kepada ulama atau ustadz yang dipercaya keilmuannya tentang orang tersebut. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Jalla wa ‘Ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Bertanyalah kepala ahludz dzikr (ahli ilmu) jika engkau tidak mengetahui” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. al-Anbiya: 7).</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberi taufik.</span></p>
<p><span style="font-size: inherit;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh Ustadz </span><span style="font-weight: 400;">Yulian Purnama, S.Kom.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong>:</li>
</ul>
<p>BANK SYARIAH INDONESIA<br>
7086882242<br>
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK<br>
Kode BSI: 451</p>
 