
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/56277-ayat-ayat-shiyam-bag-4.html" data-darkreader-inline-color="">Ayat-Ayat Shiyam (Bag. 4)</a></span></strong></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Tafsir QS. al-Baqarah ayat 187</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” </span></i><b>[QS. al-Baqarah: 187]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Sebab Turun Ayat</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat riwayat dari al-Barra bin Azib radhiallahu ‘anhu bahwa beliau menuturkan sebab turunnya ayat yang mulia ini. Beliau menyatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَائِمًا فَحَضَرَ الْإِفْطَارُ فَنَامَ قَبْلَ أَنْ يُفْطِرَ لَمْ يَأْكُلْ لَيْلَتَهُ وَلَا يَوْمَهُ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنَّ قَيْسَ بْنَ صِرْمَةَ الْأَنْصَارِيَّ كَانَ صَائِمًا فَلَمَّا حَضَرَ الْإِفْطَارُ أَتَى امْرَأَتَهُ فَقَالَ لَهَا أَعِنْدَكِ طَعَامٌ قَالَتْ لَا وَلَكِنْ أَنْطَلِقُ فَأَطْلُبُ لَكَ وَكَانَ يَوْمَهُ يَعْمَلُ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ فَجَاءَتْهُ امْرَأَتُهُ فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ خَيْبَةً لَكَ فَلَمَّا انْتَصَفَ النَّهَارُ غُشِيَ عَلَيْهِ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ } فَفَرِحُوا بِهَا فَرَحًا شَدِيدًا وَنَزَلَتْ { وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Di antara para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ada seseorang apabila sedang berpuasa lalu tiba waktu berbuka dia pergi tidur sebelum berbuka sehingga tidak memakan sesuatu pada malam dan siang hari hingga petang hari. Dan pada suatu hari ketika Qais bin Shirmah al-Anshari sedang melaksanakan berpuasa, lalu tiba waktu berbuka dia mendatangi isterinya seraya berkata, ‘Apakah kamu punya makanan?’ Isterinya berkata, ‘Tidak, namun aku akan keluar mencari makanan buatmu’. Kemudian di siang harinya Qais bekerja keras hingga mengantuk lalu tertidur. Kemudian isterinya datang. Ketika isterinya melihatnya sedang tertidur, isterinya berkata, ‘Rugilah kamu’. Qais pun tetap berpuasa, hingga pada tengah hari dia pun jatuh pingsan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu persoalan ini diadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka turunlah firman Allah Ta’ala di surat alBaqarah ayat 197 (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Dihalalkan bagi kalian pada malam bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kalian’</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dengan turunnya ayat ini para sahabat merasa sangat senang, hingga kemudian turun lanjutan ayatnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Dan makan minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu di waktu fajar’</span></i><span style="font-weight: 400;">.” [HR. al-Bukhari: 1915]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari al-Barra radhiallahu ‘anhu, beliau menyatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">لما نزل صوم رمضان كانوا لا يقربون النساء رمضان كله وكان رجال يخونون أنفسهم فأنزل الله </span><span style="font-weight: 400;">علم الله أنكم كنتم تختانون أنفسكم فتاب عليكم وعفا عنكم</span></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ketika ada perintah wajib Puasa Ramadhan, para Sahabat tidak mendekati istri mereka selama bulan Ramadhan. Akan tetapi, kaum lelaki tidak mampu menahan diri mereka, maka Allah menurunkan ayat (yang artinya), ‘Allah mengetahui bahwa kalian tidak dapat menahan diri kalian, tetapi Dia telah menerima taubat kalian dan memaafkan kalian’ [al-Baqarah: 187].” [HR. al-Bukhari: 4508]</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu, beliau menuturkan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">أنزلت </span><span style="font-weight: 400;">وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود </span><span style="font-weight: 400;">ولم ينزل </span><span style="font-weight: 400;">من الفجر </span><span style="font-weight: 400;">فكان رجال إذا أرادوا الصوم ربط أحدهم في رجله الخيط الأبيض والخيط الأسود ولم يزل يأكل حتى يتبين له رؤيتهما فأنزل الله بعد </span><span style="font-weight: 400;">من الفجر </span><span style="font-weight: 400;">فعلموا أنه إنما يعني الليل والنهار</span></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ketika turun ayat, </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Dan makan minumlah kalian hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam’</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan belum diturunkan ayat lanjutannya yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">‘dari fajar’</span></i><span style="font-weight: 400;">, ada seseorang di antara para Sahabat yang apabila hendak berpuasa mengikat seutas benang putih dan benang hitam pada kakinya. Dia senantiasa meneruskan makan dan minumnya hingga jelas terlihat perbedaan benang-benang itu. Maka Allah Ta’ala kemudian menurunkan ayat lanjutannya </span><i><span style="font-weight: 400;">‘dari fajar’</span></i><span style="font-weight: 400;">. Dari situ mereka mengetahui bahwa yang dimaksud dengan benang hitam dan putih adalah malam dan siang’.” [HR. al-Bukhari: 1917 dan Muslim: 1091]</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/55959-status-orang-yang-meninggalkan-puasa-ramadhan.html" data-darkreader-inline-color="">Status Orang yang Meninggalkan Puasa Ramadhan </a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Makna Ayat</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Diperbolehkan bagi kalian menggauli istri di malam-malam bulan Ramadhan. Istri-istri kalian laksana pakaian kalian, wahai para suami, sebagaimana kalian laksana pakaian mereka ketika menggauli mereka. Sungguh Allah Ta’ala mengetahui bahwa kalian tak mampu menundukkan hawa nafsu sehingga kalian bermaksiat kepada-Nya, dimana kalian tidak mampu melaksanakan perintah Allah Ta’ala kepada kalian untuk tidak menggauli istri di malam-malam bulan Ramadhan. Namun, sungguh Allah telah mengampuni kalian dengan menghalalkan hal itu yang dahulu diharamkan oleh-Nya. Dia telah memaafkan perbuatan menuruti hawa nafsu yang dahulu kalian lakukan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka saat ini –setelah kelapangan dari Allah ini- kalian diperbolehkan menggauli istri. Carilah apa yang ditakdirkan Allah bagi kalian </span><b>[1]</b><span style="font-weight: 400;">. Kalian diperbolehkan makan dan minum di setiap saat yang kalian inginkan dari waktu malam hingga nampak dan nyata putihnya siang dari gelapnya malam (terbit fajar). Di saat itu, barulah kalian wajib menahan diri dari makan, minum, dan jimak hingga matahari terbenam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan janganlah kalian menggauli istri di saat i’tikaf untuk beribadah di rumah-rumah Allah. Inilah hukum-hukum yang diterangkan Allah Ta’ala dalam ayat ini yaitu seperti pengharaman makan, minum, jimak, dan keharaman yang lain di siang hari bulan Ramadhan. Allah Ta’ala telah menerangkan dan menjelaskannya kepada kalian agar apa yang halal bagi kalian itu nyata dan jelas. Kalian berkewajiban menahan diri dan menjauh dari hal tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana Allah Ta’ala menjelaskan hukum-hukum puasa dengan penjelasan yang sangat sempurna, demikian pula Allah menjelaskan hukum-hukum agama yang lain dalam kitab-Nya atau melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia menjelaskannya dengan informasi yang sangat jelas agar para hamba mampu melaksanakan seluruh apa yang diperintahkan dan menjauhi segenap apa yang dilarang [Tafsir Ibnu Jarir 3/229-275; Tafsir Ibnu Katsir 1/510-520; Tafsir as-Sa’di hlm. 87-88; Tafsir Ibnu Utsaimin – al-Fatihah wa al-Baqarah – 2/346-350].</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/17465-fatwa-ramadhan-orang-yang-batal-puasa-karena-keluar-mani-apakah-boleh-makan.html" data-darkreader-inline-color="">Orang Yang Batal Puasa Karena Keluar Mani, Apakah Boleh Makan?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Faidah-Faidah Ayat</b></span></h2>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Setiap orang terkadang mengkhianati dirinya sendiri sebagaimana ia mengkhianati orang lain. Dia berkhianat pada diri sendiri tatkala dirinya bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Berlandaskan hal itu, maka jiwa atau diri manusia adalah amanah yang ada di sisinya seperti apa yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Allah mengetahui bahwasanya kalian mengkhianati diri kalian sendiri.</span></i><span style="font-weight: 400;">” [Tafsir Ibnu Utsaimin – al-Fatihah wa al-Baqarah – 2/352]</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pada firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ … </span><i><span style="font-weight: 400;">dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">terdapat anjuran untuk mencari Lailatul Qadr berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa tafsir dari redaksi “</span><span style="font-weight: 400;">مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ</span><span style="font-weight: 400;">” adalah Lailatul Qadr. Selain itu, pada firman Allah tersebut terdapat anjuran untuk berniat mendapatkan keturunan dan menegakkan sunnah ketika berjimak, dan tidak sekadar berlezat-lezat berdasarkan pendapat yang menyatakan tafsir dari redaksi “</span><span style="font-weight: 400;">ما كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ</span><span style="font-weight: 400;">” adalah anak [Al-Iklil hlm. 42].</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pada firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">terdapat indikasi akan kebolehan mencumbui istri hingga fajar terbit, karena Allah membolehkan berjimak hingga waktu tersebut. Dan mandi junub tidaklah wajib dilaksanakan sebelum fajar. Karena apabila bercumbu diizinkan hingga fajar terbit, tentu mandi wajib hanya bisa dilaksanakan setelah itu. Oleh karena itu, tidak mengapa apabila seorang memasuki waktu Subuh dalam kondisi junub, kemudian mandi dan menyempurnakan puasa. Terdapat riwayat yang valid bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi junub ketika waktu Subuh karena menggauli istri, kemudian beliau tetap berpuasa [Tafsir Abu Hayyan 2/217; Tafsir Ibnu Katsir 1/516; Tafsir Ibnu Utsaimin – al-Fatihah wa al-Baqarah – 2/354. Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh al-Bukhari: 1931 dan Muslim: 1109 dari Aisyah radhiallahu ‘anha]</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">dijadikan dalil sebagian ulama bahwa orang yang ragu apakah fajar telah terbit, diperbolehkan makan, karena Allah Ta’ala membolehkan makan hingga fajar telah terbit dengan jelas, tanpa ada keraguan [Al-Iklil hlm. 42].</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Izin untuk bercumbu, makan, dan minum hingga fajar terbit bagi orang yang hendak berpuasa dalam firman Allah,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">terdapat indikasi bahwa tidak ada kewajiban mengqadha puasa bagi setiap orang yang ragu akan terbitnya fajar dan melakukan hal-hal di atas, kemudian mengetahui bahwa fajar telah terbit, lalu dia berpuasa [Tafsir Abu Hayyan 2/216-217]</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pada firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">disebutkan kata fajar karena terbitnya fajar berpotensi menimbulkan keragu-raguan, terlebih apabila cahayanya bercampur dengan cahaya bulan di malam-malam purnama, sehingga boleh jadi shalat Subuh telah dilakukan kemudian diketahui bahwa fajar belum terbit. Hal ini dialami oleh sejumlah sahabat dan selain mereka. Berbeda dengan matahari dan peristiwa terbenamnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu –wallahu a’lam- Allah memanjangkan waktu makan di malam hari hingga fajar nampak dengan jelas, kemudian Allah berfirman (yang artinya), “…</span><i><span style="font-weight: 400;">kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Maka Allah menjadikan waktu fajar terkait dengan penampakannya yang jelas dan nyata, yaitu pada saat isfar (terang dan bercahaya) yang telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ketika menyampaikan waktu berpuasa, Allah tidak mengungkapkan “…</span><i><span style="font-weight: 400;">kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga terang/nyata bagi kalian waktu malam”</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena masuknya waktu malam dapat jelas diketahui, tanpa ada keraguan [Syarh al-‘Umdah kitab ash-Shalah karya Ibnu Taimiyah hlm. 222].</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“ … kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">dijadikan sebagian ulama sebagai dalil untuk menetapkan bahwa seorang tidak diperbolehkan makan dan berbuka puasa apabila dia ragu akan terbenamnya matahari [Al-Iklil hlm. 432].</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“…(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">dijadikan dalil bagi sebagian ulama bahwa puasa merupakan syarat beri’tikaf, karena pembiacaraan dalam ayat tersebut dikhususkan bagi orang yang berpuasa, sehingga jika puasa itu bukan merupakan syarat beri’tikaf, tentu tidak ada faidahnya. Ayat ini juga dijadikan dalil bahwa waktu i’tikaf tidak boleh kurang dari sehari sebagaimana waktu puasa yang tidak kurang dari sehari [Al-Iklil hlm. 43].</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“ … sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">dengan keumumannya, dijadikan dalil untuk menetapkan bahwa i’tikaf disyari’atkan untuk dilakukan di masjid [Al Hidayah ilaa Bulugh an-Nihayah 1/627].</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pada firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">terdapat keterangan bahwa ilmu agama adalah sebab terwujudnya ketakwaan. Alasannya adalah karena Allah menyampaikan tercapainya derajat ketakwaan setelah redaksi ayat (yang artinya), “</span><i><span style="font-weight: 400;">Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kali ayat-ayat Allah diketahui dengan jelas oleh hamba, maka terwujudlah ketakwaan itu. Hal itu juga dikuatkan oleh firman Allah Ta’ala, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” </span></i><span style="font-weight: 400;">[QS. Fathir: 28]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, setiap kali hamba mengetahui ayat-ayat Allah, niscaya ketakwaannya pun bertambah. Oleh karena itu ada ungkapan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">من كان بالله أعرف كان منه أخوف</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Semakin mengenal Allah, seorang akan semakin bertakwa dan takut kepada-Nya” [Tafsir Ibnu Utsaimin – al-Fatihah wa al-Baqarah 2/361]</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">  Pada firman Allah Ta’ala, </span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">terdapat isyarat bahwa derajat ketakwaan merupakan derajat yang tinggi karena rangkaian ayat-ayat tersebut dijelaskan sedemikian rupa kepada manusia agar mereka bisa mencapainya [Tafsir Ibnu Utsaimin – al-Fatihah wa al-Baqarah 2/361] </span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Redaksi firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“… supaya mereka bertakwa.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">disampaikan setelah perintah yang memberatkan jiwa. Redaksi di atas diungkapkan dalam ayat ini, karena larangan agar manusia berpuasa dari hal-hal yang sangat disukai adalah hal yang memberatkan. Tidak ada yang memotivasi mereka sehingga mampu melakukannya kecuali karena adanya dorongan ketakwaan. Oleh karena itu, ayat ini diakhiri dengan redaksi di atas [Tafsir Abu Hayyan 2/223]</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Aspek-Aspek Balaghah pada Ayat</b></span></h2>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pada firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu;”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">subyek (fa’il) dihapus dari kata kerja (fi’il) “</span><span style="font-weight: 400;">أُحِلَّ</span><span style="font-weight: 400;">”, dimana kata kerja tersebut disampaikan dalam bentuk pasif (bina lil majhul), karena etikanya penyebutan “ar-rafats” selayaknya tidak dikaitkan secara tegas dengan Dzat yang menghalalkan hal itu di malam hari bulan puasa [Badai’ al-Fawaid 2/19]</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pada firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu;”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah menggunakan redaksi “</span><span style="font-weight: 400;">إِلَىٰ نِسَائِكُمْ</span><span style="font-weight: 400;">” dan bukan dengan redaksi “</span><span style="font-weight: 400;">بنسائكم</span><span style="font-weight: 400;">” karena kata “</span><i><span style="font-weight: 400;">ar-rafats</span></i><span style="font-weight: 400;">” (bercampur) mengandung arti “</span><i><span style="font-weight: 400;">al-ifdha</span></i><span style="font-weight: 400;">” (mendatangi). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila ada kalimat,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أفضى الرجل إلى المرأة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pria itu mendatangi istrinya”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">maka kalimat di atas berarti,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إذا جامعها </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pria itu mencampuri istrinya” [Tafsir Abu Hayyan 2/212].</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Mengenai firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“ … mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">terdapat pendapat alim ulama yang menyatakan bahwa redaksi di atas adalah permulaan kalimat yang menjelaskan sebab penghalalan jimak di malam-malam bulan puasa, dimana jimak sulit ditinggalkan karena seringnya suami berinteraksi dan bersentuhan dengan istri [Tafsir Abu as-Su’ud 1/201].</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pada firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">fajar shadiq diserupakan dengan seutas benang, karena demikianlah kondisi awal kemunculannya yang seperti benang putih. Cahayanya nampak tipis, kemudian naik menyebar. Maka, dengan terbitnya kondisi awal fajar shadiq di ufuk, wajib untuk menahan diri dan mulai berpuasa. Demikianlah kondisi awal penampakan fajar yang melintang dan cahayanya yang meluas di ufuk dalam gelapnya malam, yang diserupakan dengan benang putih dan benang hitam [Tafsir Abu Hayyan 2/216; tafsir Abu as-Su’ud 1/202].</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Penyandaran kata “al-hudud” kepada Allah Ta’ala dalam firman-Nya,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">menunjukkan ungkapan ekspresi yang berlebihan bahwa larangan Allah itu jelas, tidaklah samar, sehingga redaksi tersebut tidak diungkapkan dalam bentuk nakirah ataupun makrifah dengan menggunakan alif dan lam [Tafsir Abu Hayyan 2/222]</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala,</span></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">disampaikan setelah penyampaian beberapa hal yang diharamkan. Maka sangatlah sesuai apabila juga disampaikan larangan untuk mendekatinya, karena larangan untuk mendekati suatu hal yang diharamkan lebih mengena daripada larangan untuk mengerjakannya.  Sebagaimana dalam surat yang sama, juga disampaikan dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">redaksi di atas disampaikan setelah penyampaian perintah-perintah Allah Ta’ala. Oleh karena itu, sangat sesuai apabila juga disampaikan larangan agar tidak melanggar perintah-perintah tersebut [Ad-Durr al-Mashun 2/299; Tafsir as-Sa’di hlm. 87].</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/17391-fatwa-ramadhan-bersiwak-meninggalkan-rasa-di-mulut-apakah-membatalkan-puasa.html" data-darkreader-inline-color="">Bersiwak Meninggalkan Rasa Di Mulut, Apakah Membatalkan Puasa?</a></strong></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/17372-fatwa-ramadhan-apakah-wanita-menyusui-tetap-berpuasa.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Wanita Menyusui Tetap Berpuasa?</a></strong></span></li>
</ul>
<p><b>[Selesai]</b></p>
</div>
<p><b>***</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><b>Penulis: </b><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/ichwan" data-darkreader-inline-color=""><b>Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.</b></a></span></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Ada sejumlah tafsiran terkait firman Allah “وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ”. Sejumlah ulama mengatakan tafsir ayat itu adalah “</span><i><span style="font-weight: 400;">Carilah anak dengan menggauli istri kalian”</span></i><span style="font-weight: 400;">. Tafsiran lain adalah “</span><i><span style="font-weight: 400;">Carilah Lailatul Qadr di malam-malam bulan Ramadhan dan tidak sepatutnya jimak menyibukkan sehingga kalian luput dari keutamaan Lailatul Qadr”</span></i><span style="font-weight: 400;">. Ada yang menyatakan tafsiran ayat dimaksud adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">“Ikutilah keringanan dan kemudahan yang ditetapkan bagi kalian”</span></i><span style="font-weight: 400;">. Terdapat sejumlah tafsiran dari alim ulama terkait ayat tersebut.</span></p>
<p> </p>
 