
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/56273-ayat-ayat-shiyam-bag-2.html" data-darkreader-inline-color="">Ayat-Ayat Shiyam (Bag. 2)</a></span></strong></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Tafsir QS. al-Baqarah ayat 185</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” </span><b>[QS. al-Baqarah: 185]</b></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Makna Ayat</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika Allah Ta’ala mengkhususkan bulan Ramadhan dengan ibadah puasa, Dia menjelaskan alasan pengkhususan tersebut, bahwa Allah Ta’ala menurunkan al-Qur’an dalam bulan tersebut [Tafsir ar-Razi 5/251].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Makna ayat di atas adalah bahwa hari-hari yang ditentukan itu adalah hari-hari di bulan Ramadhan, dimana al-Qur’an diturunkan di saat itu </span><b>[1]</b><span style="font-weight: 400;">. Al-Qur’an ini merupakan pembimbing dan petunjuk bagi manusia ke jalan kebenaran. Memuat ayat-ayat yang jelas dengan kandungan yang nyata dalam menjelaskan kebenaran, sehingga mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Karena itu, setiap orang yang hadir di negeri tempat tinggalnya, dia wajib berpuasa di bulan Ramadhan ini. Dan setiap orang yang dalam kondisi sakit dan bersafar, kemudian tidak berpuasa, dia wajib mengqadha puasa di hari-hari yang lain sebanyak hari yang ditinggalkannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasan Allah Ta’ala memberi keringanan untuk tidak berpuasa bagi orang yang sakit dan bersafar adalah karena Allah Ta’ala suka memberi kemudahan para hamba-Nya dan ingin meringankan ketentuan hukum atas mereka.  Allah ingin agar hamba-Nya menyempurnakan bilangan bulan Ramadhan dengan mengqadha hari-hari yang ditinggalkan serta mengagungkan Allah dengan mengucapkan “Allahu Akbar” setelah menuntaskan bulan Ramadhan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini karena limpahan nikmat yang telah diberikannya berupa kesempatan untuk bertemu bulan Ramadhan; pensyari’atan puasa dan hukum-hukumnya di bulan ini; taufik dalam menjalankan dan menyempurnakan puasa; mampu menjadi orang bersyukur atas limpahan nikmat-Nya dengan berpuasa di bulan ramadhan; serta atas kemudahan hukum-hukum-Nya di bulan ini yang diberikan kepada para hamba [Tafsir Ibnu Jarir 3/187-222; Tafsir Ibnu Katsir 1/501-505; Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah – 2/332-336]. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/30450-tahap-tahap-diwajibkannya-puasa-ramadhan.html" data-darkreader-inline-color="">Tahap-Tahap Diwajibkannya Puasa Ramadhan</a></strong></span></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Faidah-Faidah Ayat</b></span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran”</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan juga firman-Nya (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”</span></i> <b>[QS. al-Qadr: 1]</b><span style="font-weight: 400;">, menunjukkan bahwa Lailatul Qadr terjadi di bulan Ramadhan, bukan bulan yang lain [Al-Iklil hlm. 40].</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Kata “Ramadhan” dikaitkan dengan kata “bulan” pada redaksi ayat (yang artinya) </span><i><span style="font-weight: 400;">“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Sementara pada sejumlah hadits, kata “Ramadhan” disebutkan tanpa disertai kata “bulan”. Hal ini seperti sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">”Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">diampuni.”</span></i> <b>[HR. al-Bukhari: 2009 dan Muslim: 759]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perbedaan antara kedua redaksi tersebut berdasarkan keterangan alim ulama adalah maksud dari kata Ramadhan ketika disandarkan pada kata bulan adalah sebagian bulan Ramadhan. Sedangkan jika tidak disandarkan berarti yang dimaksud seluruh bulan Ramadhan. Hal ini dikarenakan al-Qur’an turun di sebagian malam-malam bulan Ramadhan, bukan di seluruh bulan. Berbeda dengan pelaksanaan qiyam Ramadhan yang dianjurkan di seluruh bulan [Nataij al-Fikr fi an-Nahwi hlm. 294, 297; Ithaf as-Saadah al-Muttaqin 4/177].  </span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Pada firman Allah Ta’ala (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran”</span></i><span style="font-weight: 400;"> terdapat penetapan sifat al-‘Uluw (Allah ada di atas) bagi Allah Ta’ala, karena Dia yang telah menurunkan al-Qur’an dan aktivitas menurunkan hanya terjadi dari atas [Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah – 2/332]</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengandung ketentuan bahwa kesulitan menimbulkan adanya kemudahan, karena sakit dan safar itu menyulitkan [Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah – 2/324].</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Sebagian alim ulama berdalil dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk menyatakan bahwa qadha puasa tidak harus segera dilakukan [Al-Iklil hlm. 39].</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Sebagian alim ulama berdalil dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk menyatakan bahwa puasa pada hari yang waktu siangnya lebih pendek cukup untuk menggantikan puasa yang ditinggalkan di hari yang waktu siangnya lebih panjang [Al-Iklil hlm. 39]. </span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” </span></i><span style="font-weight: 400;">menunjukkan bahwa tidak perlu membayar fidyah jika telah mengqadha [Al-Iklil hlm. 39].</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala “</span><b>فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</b><span style="font-weight: 400;">” tidak diungkapkan dengan redaksi “</span><b>فصيام أيام أخر</b><span style="font-weight: 400;">” sebagai penegasan atas kewajiban berpuasa sebanyak bilangan hari yang ditinggalkan ketika sakit dan bersafar, karena bilangan hari untuk mengganti puasa ditentukan sama dengan jumlah hari yang ditinggalkan [Tafsir Ibnu Asyur 2/164].</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”</span></i><span style="font-weight: 400;"> secara tekstual menerangkan bahwa setiap orang yang menunda qadha puasa hingga Ramadhan tahun berikutnya tiba, tidak memiliki kewajiban selain mengqadha puasa yang  ditinggalkannya dahulu [Tafsir Abu Hayyan 2/187].</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”</span></i><span style="font-weight: 400;">, adalah penetapan sifat al-iradah bagi Allah Ta’ala. Dan sifat al-iradah yang dimaksud adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">al-iradah asy-syar’iyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang berarti </span><i><span style="font-weight: 400;">al-mahabbah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (kecintaan) [Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah – 2/335-339].</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah dalil untuk mempertimbangkan bilangan hari dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan apabila hilal tidak dapat dilihat. Sehingga dalam kondisi tersebut tidak perlu berpatokan pada perkataan ahli hisab dan astronomi [Al-Iklil hlm. 41].</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Firman Allah Ta’ala (yang artinya), </span><i><span style="font-weight: 400;">“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> merupakan dalil pensyari’atan takbir di saat Idul Fitri, dimana waktunya bermula ketika bilangan hari Ramadhan telah terpenuhi, yaitu di saat matahari terbenam pada hari terakhir bulan Ramadhan [Al-Ilklil hlm. 41].</span>
</li>
</ol>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/30320-meraih-ketakwaan-dengan-berpuasa-ramadhan.html" data-darkreader-inline-color="">Meraih Ketakwaan dengan Berpuasa Ramadhan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Aspek-Aspek Balaghah pada Ayat</b></span></h2>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Kata “</span><span style="font-weight: 400;">البينات</span><span style="font-weight: 400;">” diungkapkan dengan kata “</span><span style="font-weight: 400;">الفرقان</span><span style="font-weight: 400;">” dan Allah tidak berfirman dengan redaksi “</span><span style="font-weight: 400;">من الهدى و البينات</span><span style="font-weight: 400;">” sehingga tidak bersesuaian dengan redaksi awal “</span><span style="font-weight: 400;">هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ</span><span style="font-weight: 400;">”. Alasan hal ini adalah karena adanya tambahan makna yang melekat pada kata “</span><span style="font-weight: 400;">البينات</span><span style="font-weight: 400;">”. Dengan demikian, setiap kali sesuatu itu nyata dan jelas, pasti akan muncul perbedaan dengan yang lain.. </span>Selain itu, dengan menggunakan kata “الفرقان” akan terjadi keseragaman bunyi kata dengan kata pemisah sebelumnya, yaitu firman Allah Ta’ala “شَهْرُ رَمَضَانَ”, kemudian firman-Nya “شَهْرُ رَمَضَانَ” , kemudian diakhiri dengan “هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ”. Dengan begitu, terwujud keragaman bunyi kata dengan pemisah-pemisah tersebut, sehingga kata “الفرقان” lebih cocok digunakan ketimbang kata “البينات” dari segi lafazh dan makna [Tafsir Abu Hayyan 2/196].</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Redaksi “</span><span style="font-weight: 400;">فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ</span><span style="font-weight: 400;">” tidak diungkapkan dengan redaksi “</span><span style="font-weight: 400;">شَهِدَه مِنْكُمُ فَلْيَصُمْهُ فَمَنْ</span><span style="font-weight: 400;">”  sebagai bentuk pujian, pemuliaan, dan pengagungan terhadap bulan Ramadhan [Tafsir Abu Hayyan 2/197].</span>
</li>
</ol>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Redaksi “</span><span style="font-weight: 400;">أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ</span><span style="font-weight: 400;">” tidak diungkapkan dengan redaksi “</span><span style="font-weight: 400;">أَوْ مسافرا</span><span style="font-weight: 400;">” sebagai pemberitahuan bahwa safar itu adalah sesuatu yang bisa dikendalikan karena musafir bisa memilih untuk bersafar atau tidak. Berbeda dengan sakit yang menimpa tanpa manusia bisa memilih. Sehingga, safar itu seolah-olah tunggangan dan manusia berada di atasnya untuk mengendalikan [Tafsir Abu Hayyan 2/184; ad-Durr al-Mashun 2/270].</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Redaksi “</span><span style="font-weight: 400;">يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ</span><span style="font-weight: 400;">” disusul dengan kalimat penafian</span><span style="font-weight: 400;">وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ</span><span style="font-weight: 400;">”</span><span style="font-weight: 400;"> الْعُسْرَ</span><span style="font-weight: 400;">” sebagai bentuk penegasan [Tafsir Ibnu Asyur 2/175].</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Pada firman Allah Ta’ala “</span><span style="font-weight: 400;">وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ</span><span style="font-weight: 400;">” terdapat fungsi ta’diyah terhadap aktivitas bertakbir dengan menggunakan huruf “</span><span style="font-weight: 400;">عَلَى</span><span style="font-weight: 400;">” karena ada makna pujian yang terkandung di dalamnya. Seolah-olah Allah Ta’ala hendak menyampaikan, “</span><span style="font-weight: 400;">وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ حامدين عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ</span><span style="font-weight: 400;">”, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan hendaklah kamu bertakbir mengagungkan Allah seraya memuji-Nya atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu”</span></i><span style="font-weight: 400;"> [Tafsir Abu as-Su’ud 1/200].</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Ayat di atas ditutup dengan redaksi “</span><span style="font-weight: 400;">وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</span><span style="font-weight: 400;">” karena sebelumnya telah disebutkan keringanan berbuka di bulan Ramadhan bagi orang yang sakit dan musafir dan firman-Nya “</span><span style="font-weight: 400;">يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ</span><span style="font-weight: 400;">”. Hal ini berbeda dengan ayat-ayat sebelumnya seperti setelah firman Allah Ta’ala “</span><span style="font-weight: 400;">كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ</span><span style="font-weight: 400;">” disebutkan firman Allah “</span><span style="font-weight: 400;">لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</span><span style="font-weight: 400;">”. Dan juga sebagaimana sebelumnya, ayat “</span><span style="font-weight: 400;">وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ</span><span style="font-weight: 400;">” diakhiri dengan firman Allah Ta’ala “</span><span style="font-weight: 400;">لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</span><span style="font-weight: 400;">”, karena puasa dan qishash di antara perkara syari’at yang paling berat pelaksanaannya. </span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikianlah perbedaan gaya bahasa al-Qur’an dalam menerangkan perkara yang memberatkan dan perkara yang meringankan dan memudahkan. Hal ini merupakan bentuk keindahan penjelasan dalam al-Qur’an yang mulia [Tafsir Abu Hayyan 2/204-205].</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/28337-puasa-syawal-tanda-kesempurnaan-puasa-ramadhan.html" data-darkreader-inline-color="">Puasa Syawal, Tanda Kesempurnaan Puasa Ramadhan</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color="">Fikih Kesehatan Kontemporer Terkait Puasa Dan Ramadhan</strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><b>Penulis: </b><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/ichwan" data-darkreader-inline-color=""><b>Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.</b></a></span></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Dalam hal ini terdapat dua tafsiran. Pertama, bahwa al-Qur’an diturunkan secara sempurna darl al-Lauh al-Mahfuzh menuju langit dunia pada Lailatul Qadr di bulan Ramadhan. Kedua, bahwa permulaan turunnya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> terjadi pada Lailatul Qadr di bulan Ramadhan.</span></p>
 