
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Hukum Minum Nabeez Menurut Para Ulama</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;"><a href="https://muslim.or.id/28424-bagaimana-para-ulama-membela-hadits-nabi.html">Para ulama</a> menjelaskan bahwa hukum minum nabeez (rendaman kurma) adalah mubah bukanlah sunnah ta’abbud. Dalam artian apabila kita sengaja ingin minum nabeez untuk mendapatkan pahala dan yakin ini sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang dianjurkan, maka ini TIDAK tepat. </span></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><b>Dasar-Dasar Pendalilan</b></span></h3>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Dalam <a href="https://muslim.or.id/45502-urgensi-memahami-ilmu-ushul-fiqh-dan-qawaid-fiqhiyyah.html">pelajaran ushul fikh</a>, tidak semua perbuatan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah sunnah dalam rangka untuk beribadah mendapatkan pahala disebut juga dengan sunnah ta’abbud), tetapi ada juga perbuatan beliau yang merupakan ‘urf/adat atau perangai beliau sebagai seorang manusia dan beliau melakukan untuk menunjukkan kebolehannya/mubah (disebut dengan sunnah <em>jibillah</em>).</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Hadits yang menunjukan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi sallam</em> minum nabeez karena memang saat itu minuman favorit dan agar menepis anggapan hukumnya haram membuat nabeez, karena setelah beberapa hari nabeez akan menjadi khamer (sebelum menjadi khamer, ini lah yang diperbolehkan)</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Nabeez merupakan minuman bergizi dan bermanfaat, hanya saja hukum meminumnya bukanlah sunnah dan berpahala, akan tetapi kita bisa mendapatkan pahala apabila kita karena rasa cinta kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang minum nabeez kita pun minum nabeez juga (pahalanya karena cinta kepada idolanya)</span></li>
</ol>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/32086-tahnik-dengan-selain-kurma.html" data-darkreader-inline-color="">Tahnik Dengan Selain Kurma</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Penjelasan Terkait Bolehnya Minum Nabeez</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;"><a href="https://muslim.or.id/3984-mengenal-imam-muslim.html">Imam Muslim</a> membuat Bab dalam kitab shahihnya dengan judul BOLEHNYA nabeez: </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">باب: إباحة النبيذ الذي لم يشتد ولم يصر مسكرا.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bab: BOLEHNYA nabeez yang tidak tidak ‘mengeras’ dan tidak menjadi khamer”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nawawi menjelaskan BOLEHNYA nabeez dari beberapa hadits yang ada di shahih Muslim. Beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">في هذه الأحاديث دلالة على جواز الانتباذ ، وجواز شرب النبيذ ما دام حلوا لم يتغير ولم يغل ، وهذا جائز بإجماع الأمة </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hadits-hadits ini menunjukkan BOLEHNYA ‘intibadz’ (proses merendam kurma dan sejenisnya) dan bolehnya nabeez selama manis rasanya dan tidak berubah menjadi khamer. Ini BOLEH dengan ijma’ umat.” <strong>[Syarh an-Nawawi ala shahih muslim, Kitab Asyribah hal. 147]</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga Ibnu Rusydi menegaskan ijma’ ulama BOLEHNYA nabeez, beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فإنهم أجمعوا على جواز الانتباذ في الأسقية</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Para ulama bersepakat BOLEHNYA ‘intibadz’ (merendam kurma dan sejenisnya) pada minuman.”<strong> [Bidayatul Mujtahid hal 432]</strong></span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51629-tahnik-itu-sunnah-atau-kekhususan-bagi-nabi.html" data-darkreader-inline-color="">Tahnik itu Sunnah atau Kekhususan Bagi Nabi Saja?</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Nabeez Tidak Hanya Rendaman Kurma</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diketahui bahwa nabeez bukan hanya dengan rendaman <a href="https://muslim.or.id/541-mukmin-dan-pohon-kurma-1.html">kurma</a>, tetapi bisa juga dengan kismis atau semisalnya. Sebagaimana hadits berikut:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">َعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنْبَذُ لَهُ الزَّبِيبُ فِي السِّقَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَوْمَهُ وَالْغَدَ وَبَعْدَ الْغَدِ فَإِذَا كَانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ أَهَرَاقَهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Ibnu Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhialahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata,”Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pernah dibuatkan rendaman kismis dalam satu bejana, kemudian beliau minum rendaman tersebut pada hari itu, juga esok harinya dan keesokannya harinya. Pada sore hari ketiga beliau memberi minuman tersebut kepada yang lain, jika masih ada yang tersisa , beliaupun menuangnya.”. <strong>[HR. Muslim] </strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Proses ‘intibadz’ ini yaitu  didinginkan semalam dengan bejana kulit, perhatikan hadits berikut</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللَّهِ رَضِي اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَىرَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ وَمَعَهُ صَاحِبٌ لَهُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ كَانَ عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي شَنَّةٍ وَإِلَّا كَرَعْنَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Jabir bin Abdillah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, bahwasanya Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> masuk ke rumah salah seorang laki-laki Anshar bersama seorang sahabatnya, seraya berkata kepadanya,”Adakah engkau mempunyai air yang telah diinapkan dalam bejana kulit? Jika tidak kami akan minum langsung dari mulut kami” <strong>[HR. Bukhari]</strong></span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44584-hukum-meruqyah-dengan-air-zamzam.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Meruqyah dengan Air Zamzam</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan rendaman ini campuran madu, kurma &amp; kismis, beliau berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وهذا يحتمل أن يريد به الماء العذب كمياه العيون والآبار الحلوة ، فإنه كان يستعذب له الماء</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ويحتمل أن يريد به الماء الممزوج بالعسل أو الذي نقع فيه التمر أو الزبيب وقد يقال – وهو الأظهر</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Kemungkinan maksudnya adalah air yang segar seperti mata air dan sumur yang manis, air ini memang segar. Bisa juga maksudnya adalah rendaman air campuran madu, kurma dan kismis -pendapat ini lebih kuat-.</span></i><span style="font-weight: 400;">” <strong>[Tuhfatul Ahwazi bisyarhi Jami’ At-Tirmidzi 6/16]</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Qayyim Al-Jauziyah juga menjelaskan bahwa bentuk minuman seperti ini bisa lebih menjaga kesehatan karena segarnya dan membuat tubuh menjadi “</span><i><span style="font-weight: 400;">fresh</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">والمقصود : أنه إذا كان باردا وخالطه ما يحليه كالعسل أو الزبيب أو التمر أو السكر كان من أنفع ما يدخل البدن وحفظ عليه صحته</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Maksudnya adalah air dingin campuran dengan yang bisa membuatnya manis seperti madu, kismis, kurma atau gula. Ini lebih bermanfaat bagi tubuh dan bisa menjaga kesehatan.”</span></i><strong> [Zaadul Ma’aad 4/205]</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari penjelasan diatas nabeez adalah minuman sehat dan bermanfaat hanya saja tidak boleh kita katakan hukumnya sunnah dan berpahala serta dinisbatkan menjadi “minuman ala Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>”.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/28495-keutamaan-air-zam-zam.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Air Zam-Zam</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Catatan Terkait Nabeez</span></strong></h2>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Agar lebih paham, kami jelaskan bahwa perbuatan Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ada tiga macam. syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid mejelaskan bahwa perbuatan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ada tiga macam:</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Pertama: </strong>perbuatan “jibilliyyah” seperti berdiri, duduk, makan dan minum</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Kedua: </strong>perbuatan Khusus bagi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> seperti menikahi wanita lebih dari 4</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Ketiga:</strong> perbuatan dalam rangka ibadah (tasyri’) seperti shalat, puasa dan lain-lain</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian beliau menjelaskan bahwa hukum asal apa yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> suka berupa makanan, minuman dan pakaian adalah sebuah adat/perangai sebagai seorang manusia. Beliau berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وبهذا يتبين أن ما أحبّه صلى الله عليه وسلم من الأطعمة أو الأشربة أو الألبسة ونحو ذلك ، الأصل فيه أنه من العادات التي تفعل بمقتضى البشرية ، ولا يراد بها التشريع ، ككونه يحب الدباء ، ويعاف الضب ، ويلبس العمامة والرداء والإزار والقميص ، ما لم يدل دليل على التشريع</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Oleh karena itu jelas bahwa apa yang disukai oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berupa makanan, minuman, pakaian dan lain-lain maka hukum asalnya adalah perkara adat/perangai sebagai seorang manusia. Bukanlah dimaksudnya untuk menjadi syariat ibadah (tasryi’). Misalnya beliau suka labu dan tidak suka dhabb (seperti biawak padang pasir), misalnya juga memakai ‘imaamah (penutup kepala), baju, kain bawahan, gamis dan lain-lain selama tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa itu disyariatkan.” <strong>[https://islamqa.info/ar/answers/149523]</strong></span></p>
<ol start="2">
<li><span style="font-weight: 400;"> Sebagian orang menyamakan antara infused water dengan nabeez, perlu diketahui prinsip nabeez adalah ‘intibadz’ yaitu ada proses yang mengarah perubahan senyawa yang apabila dibiarkan telalu lama, maka akan menjadi khamer. Nabeez ini adalah proses sebelum menjadi khamer dan inilah yang diperbolehkan. Apabila prinsipnya sama, maka infused water sama dengan nabeez, apabila prinsipnya berbeda maka tidak boleh disamakan. Tentu hukumnya juga sama yaitu BOLEH dan bukanlah sunnah serta berpahala, serta kurang bijak apabila mengatakan “ini minuman sunnah berpahala dari Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>” atau dinisbatkan sunnahnya kepada Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam </em></span></li>
</ol>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24072-doa-ketika-minum-air-zam-zam.html" data-darkreader-inline-color="">Doa Ketika Minum Air Zam-Zam</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/9077-narkoba-dalam-pandangan-islam.html" data-darkreader-inline-color="">Narkoba dalam Pandangan Islam</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian semoga bermanfaat</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@ Lombok, Pulau Seribu Masjid</span></p>
<p><strong>Penyusun:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/raehan" data-darkreader-inline-color=""> Raehanul Bahraen</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Telah dimuraja’ah oleh: <a href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom">Ustadz Yulian Purnam, S.Kom</a> (Alumni Ma’had Al-Ilmi dan kontributor muslim.or.id)</span></em></p>
 