
<h4>Khurafat umumnya adalah kesyirikan</h4>
<p>Khurafat terlarang dalam syari’at karena bisa termasuk kesyirikan dan ini yang paling banyaknya. Atau bisa jadi termasuk bid’ah dalam keyakinan dan kedustaan.</p>
<p>Jika khurafat tersebut berupa menyandarkan manfaat atau bahaya kepada selain Allah, maka ini kesyirikan. Karena manfaat atau bahaya, itu semata-mata karena ketetapan Allah <em>Ta’ala</em>. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: center;">وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ</p>
<p>“<em>Jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri</em>” (QS. Al An’am: 17).</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman:</p>
<p style="text-align: center;">وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ</p>
<p>“<em>Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan</em>.” (QS. An Nahl: 53)</p>
<p>Nabi <em>Shallallahu’alaihi wasallam</em> juga melarang menyandarkan sial dan bencana kepada pertanda-pertanda, disebut dengan <em>thiyarah</em>. Jika khurafat yang dilakukan berupa <em>thiyarah</em>, ini juga termasuk kesyirikan. Dari Abdullah bin Mas’ud <em>radhiallahu’anhu</em>, Nabi <em>Shallallahu’alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;">الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، وما منا إلا ، ولكنَّ اللهَ يُذهِبُه بالتَّوَكُّلِ</p>
<p>“<em>Thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan. Dan setiap kita pasti pernah mengalaminya. Namun Allah hilangkan itu dengan memberikan tawakkal (dalam hati)</em>” (HR. Abu Daud no. 3910, dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Abu Daud</em>).</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan :</p>
<p style="text-align: center;">التطـيُّر: هو التشاؤم من الشيء المرئي أو المسموع</p>
<p>“<em>at tathayyur</em> artinya merasa sial karena suatu pertanda yang dilihat atau didengar” (<em>Miftah Daris Sa’adah</em>, 3/311).</p>
<p>Namun andaikan khurafat tidak berupa kesyirikan, biasanya ia terkait dengan keyakinan-keyakinan yang tidak berdasar. Seperti keyakinan tentang malaikat, tentang ruh orang mati, tentang wali, tentang para Nabi, dan semisalnya berupa cerita-cerita yang ajaib-ajaib tanpa ada landasan dalil dan tidak dibuktikan secara ilmiah. Maka minimalnya ini adalah bid’ah dalam keyakinan. Dan termasuk berkata-kata tentang sesuatu yang tidak Allah turunkan penjelasannya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: center;">وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabnya</em>”. (QS. Al-Isra’: 36)</p>
<p>Ibnu Katsir menjelaskan:</p>
<p style="text-align: center;">أن الله تعالى نهى عن القول بلا علم بل بالظن الذي هو التوهم والخيال</p>
<p>“Allah Ta’ala melarang untuk bicara tanpa ilmu, yaitu bicara dengan sekedar sangkaan yang merupakan kerancuan dan khayalan” (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>).</p>
<p>Maka tidak boleh kita mempercayai khurafat sama sekali, atau bahkan menjadikan khurafat sebagai landasan dari keyakinan dan amalan.</p>
<p>Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memberi taufik.</p>
<p>___</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 