
<p><b>Soal:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah dibolehkan salat istikharah dalam urusan cerai?</span></p>
<p><b>Jawab:</b></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillah. </span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Pertama</strong>, disyariatkan salat istikharah dalam urusan yang mubah atau membandingkan keutamaan antara beberapa perkara yang sunnah (mustahab). Adapun dalam perkara-perkara yang wajib, atau sunnah (mustahab), haram, dan makruh, maka tidak disyari’atkan salat istikharah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">3/243 disebutkan,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">فالاستخارة لا محل لها في الواجب والحرام والمكروه, وإنما تكون في المندوبات والمباحات، والاستخارة في المندوب لا تكون في أصله; لأنه مطلوب, وإنما تكون عند التعارض, أي إذا تعارض عنده أمران أيهما يبدأ به أو يقتصر عليه ؟ أما المباح فيستخار في أصله</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Istikharah itu tidak untuk perkara yang wajib, haram dan makruh, namun untuk perkara yang sunnah dan mubah.</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">Istikharah dalam perkara yang sunnah itu tidak ada dasarnya, karena perkara yang sunnah itu memang sesuatu yang tertuntut untuk dilakukan.</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">Namun, istikharah dalam perkara yang sunnah itu ketika tertuntut harus memilih, maksudnya  harus memilih antara dua perkara (yang sunnah) bagi seseorang; mana yang lebih didahulukan diantara keduanya atau mana salah satu yang dipilih diantara keduanya? Adapun perkara yang mubah, maka istikharahnya dalam perkara asalnya (dilakukan atau tidaknya).”</span></i></p>
<p><b>Kedua, </b><span style="font-weight: 400;">Mencerai wanita itu berkisar pada lima hukum. Disebutkan dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Z</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ā</span></i><i><span style="font-weight: 400;">dul Mustaqni’</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">يباح للحاجة ، ويكره لعدمها ، ويستحب للضرر ، ويجب للإيلاء ، ويحرم للبدعة</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Hukum cerai itu mubah, jika ada keperluan, makruh jika tidak ada keperluan, sunnah jika ada bahaya, wajib karena </span></i><i><span style="font-weight: 400;">ī</span></i><i><span style="font-weight: 400;">l</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ā</span></i><i><span style="font-weight: 400;">`</span></i><span style="font-weight: 400;"> [1. Sumpah suami untuk tidak menggauli istrinya. Dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan wajib cerai]</span><i><span style="font-weight: 400;">, dan haram jika cerai bid‘ah</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Ibnu ‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">ra</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ḥ</span></i><i><span style="font-weight: 400;">imahull</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ā</span></i><i><span style="font-weight: 400;">h </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">قوله :  يباح للحاجة ” أي: حاجة الزوج، فإذا احتاج، فإنه يباح له، مثل أن لا يستطيع الصبر على امرأته، فإذا احتاج، فإنه يباح له أن يطلق….</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Hukum cerai itu mubah karena ada keperluan, maksudnya : keperluan suami, jika suami membutuhkan, maka dibolehkan baginya untuk menceraikan istrinya, misalnya ia tidak bisa sabar terhadap istrinya.</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">Jadi, apabila suami membutuhkan, maka dibolehkan baginya untuk mencerai (istrinya)” </span></i><span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">Asy-Syar</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ḥ</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ul Mum</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ṭ</span></i><i><span style="font-weight: 400;">i’</span></i><span style="font-weight: 400;">: 13/8).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam keadaan seperti ini disunnahkan bagi suami untuk melakukan (salat) istikharah sebelum menceraikannya dan memohon petunjuk kepada Allah dalam urusannya tersebut. Adapun apabila keadaan (sang istri) baik-baik saja, maka tidak disyariatkan bagi sang suami untuk melakukan salat istikharah, karena hukum cerai dalam keadaan seperti ini adalah makruh.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula, ketika cerai itu hukumnya wajib bagi suami, maka tidak disyariatkan baginya untuk melakukan (salat) istikharah, seperti apabila terbukti istrinya tidak menjaga kehormatan dirinya dan tidak bertaubat [2. Sampai pada keadaan yang mengharuskannya dicerai], maka wajib baginya menceraikannya dan tidak mempertahankannya (untuk tetap menjadi istrinya).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga seorang wanita, dibolehkan baginya meminta cerai, jika ia merasa mendapatkan kerugian/bahaya karena ulah suaminya, seperti suaminya tidak memberi nafkah kepadanya buruk akhlak suaminya atau kelemahan keimanannya atau sebab selainnya, maka disunnahkan baginya untuk beristikharah dalam urusan meminta cerai.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun apabila keadaan (sang suami) baik-baik saja, maka diharamkan bagi sang istri untuk meminta cerai, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: right;">أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاقًا فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّة</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Siapapun wanita yang meminta cerai kepada suaminya tanpa ada masalah (yang layak menjadi alasan untuk meminta cerai), maka diharamkan baginya bau surga”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Abu Dawud</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai tambahan penjelasan, silahkan lihat jawaban pertanyaan nomer : 118325.</span></p>
<p><b>Kesimpulannya:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disyariatkan bagi sang suami melakukan (salat) istikharah dalam  urusan mencerai istrinya apabila hukum cerai ketika itu mubah. Demikian pula bagi sang istri disyariatkan baginya melakukan (salat) istikharah dalam urusan meminta cerai, apabila ia meminta cerai dalam perkara yang memang diperbolehkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain keadaan tersebut, maka tidak disyariatkan melakukan (salat) istikharah dalam urusan cerai.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wall</span></i><i><span style="font-weight: 400;">ā</span></i><i><span style="font-weight: 400;">hu a‘lam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diterjemahkan dari : </span><a href="https://islamqa.info/ar/171435"><span style="font-weight: 400;">https://Islamqa.info/ar/171435</span></a></p>
<p>***</p>
<p>Penerjemah: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
<p>___</p>
<p> </p>
<p> </p>
 