
<p>Kita sering mendengar kata “takhayul”. Namun apa sebenarnya makna dari takhayul itu? Dan apa hukumnya dalam pandangan Islam? Simak uraian ringkas berikut ini.</p>
<p>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), takhayul bermakna:</p>
<ol>
<li>(sesuatu yang) hanya ada dalam khayal belaka.</li>
<li>kepercayaan kepada sesuatu yang dianggap ada atau sakti, tetapi sebenarnya tidak ada atau tidak sakti.</li>
</ol>
<p><strong>Makna yang pertama</strong></p>
<p>Makna yang pertama, ini sesuai dengan makna dalam bahasa Arab. Dalam <em>Mu’jam Musthalahat Fiqhiyyah</em> disebutkan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">تخيل ، تصور الشيء في النفس</span></p>
<p>“<em>takhoyyala</em> artinya: tergambarnya suatu hal dalam jiwa (pikiran)”.</p>
<p>Maka takhayul di sini sama dengan kata “berkhayal” atau “khayalan” yang kita tahu bersama. Jika demikian, takhayul dengan makna pertama ini hukumnya tergantung apa yang dikhayalkan dan apa manfaat atau mudaratnya.</p>
<p>Jika yang dikhayalkan adalah perkara yang mubah, maka hukumnya mubah. Jika yang dikhayalkan adalah perkara yang haram, atau mengkhayalkan yang tidak bermanfaat, atau terlalu banyak berkhayal, maka ini terlarang.</p>
<p>Contoh khayalan yang haram adalah seorang lelaki mengkhayalkan wanita yang tidak halal baginya. Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إن اللهَ كتب على ابنِ آدمَ حظَّه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالةَ ، فزنا العينِ النظرُ ، وزنا اللسانِ المنطقُ ، والنفسُ تتمنى وتشتهي ، والفرجُ يصدقُ ذلك كلَّه أو يكذبُه</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah telah menakdirkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan <u>berangan-angan.</u> Dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya”</em> (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no.2657).</p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>dan Rasul-Nya mencela sifat panjang angan-angan. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ</span></p>
<p><em>“Janganlah kalian seperti orang-orang yang telah diberikan kitab (Ahlul Kitab) sebelumnya, panjang angan-angan mereka sehingga rusak hati mereka. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”</em> (QS. Al Hadid: 16).</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لا يَزالُ قَلْبُ الكَبِيرِ شابًّا في اثْنَتَيْنِ: في حُبِّ الدُّنْيا وطُولِ الأمَلِ</span></p>
<p><em>“Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti anak muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan”</em> (HR. Bukhari no. 6420).</p>
<p>Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ. فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ</span></p>
<p>“Perkara yang paling aku takutkan adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan dari kebenaran. Adapun panjang angan-angan, ia akan membuat lupa akan akhirat” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam <em>Hilyatul Auliya</em>‘, 1: 76).</p>
<p><strong>Makna yang kedua</strong></p>
<p>Adapun makna yang kedua, takhayul di sini lebih dekat kepada dua perkara:</p>
<ol>
<li><em><strong> Khurafat</strong></em></li>
</ol>
<p>Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Aisyah <em>radhiyallahu ’anha</em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أتدرون ما خرافةُ ؟ إنَّ خُرافةَ كان رجلًا من عذرةٍ أسرَتْه الجنُّ في الجاهليةِ ، فمكث فيهم دهرًا ، ثم ردُّوه إلى الإنسِ ، فكان يُحدِّثُ الناسَ بما رأى فيهم من الأعاجيبِ ، فقال الناسُ : حديثُ خُرافَةَ</span></p>
<p><em>“Apakah kalian tahu kisah tentang khurafah? Sesungguhnya khurafah adalah seorang lelaki dari Bani Udzrah, yang ditawan oleh kaum jin di masa Jahiliyah. Khurafah tinggal bersama para jin beberapa waktu. Kemudian para jin mengembalikannya ke tengah manusia. Kemudian si Khurafah ini menceritakan kisah-kisah ajaib yang ia lihat. Maka setelah itu, manusia punya istilah baru yaitu: cerita khurafah”</em> (HR. Ahmad no. 25283, dinilai sebagai hadis yang <em>dhaif</em> oleh Al-Albani dalam <em>Silsilah Adh-Dha’ifah </em>no. 1712).</p>
<p>Hadis ini lemah, namun memiliki makna yang sejalan dengan perkataan para ulama, bahwa <em>khurafah</em> adalah cerita tentang hal-hal yang ajaib dan aneh yang merupakan kedustaan.</p>
<p>Ibnu Manzhur <em>rahimahullah </em>dalam <em>Lisanul Arab </em>menjelaskan makna <em>khurafah</em> dalam hadis <em>dhaif</em> di atas. Beliau <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَن يريد به الخُرافاتِ الموضوعةَ من حديث الليل، أَجْرَوْه على كل ما يُكَذِّبُونَه من الأَحاديث، وعلى كل ما يُسْتَمْلَحُ ويُتَعَجَّبُ منه</span></p>
<p>“Yang dimaksud <em>khurafat</em> dalam hadis di atas adalah cerita-cerita malam yang dibuat-buat. Istilah <em>khurafah</em> ini (yang awalnya merupakan nama seorang lelaki) menjadi identik dengan semua cerita yang dusta, yang mengandung kisah-kisah ajaib yang dibumbui”.</p>
<p>Dan <em>khurafat</em> itu minimalnya adalah kebid’ahan dalam keyakinan terhadap perkara gaib, dan seringkali <em>khurafat</em> itu berupa kesyirikan. Contoh <em>khurafat</em> yang berupa cerita adalah cerita-cerita legenda, <em>urban legend</em>, <em>folklore</em>, mitos dan semisalnya.</p>
<p>Demikian juga mitos-mitos yang dikaitkan dengan suatu manfaat atau bahaya, tanpa landasan dalil atau bukti ilmiah, seperti:</p>
<ul>
<li>Berdiri di pintu nanti akan membuat sulit jodoh.</li>
<li>Jika gigi putus, lemparkan ke atas atau ke bawah, supaya tumbuh dengan baik.</li>
<li>Jika sedang hamil tidak boleh membunuh binatang, nanti anaknya akan lahir dalam keadaan cacat.</li>
<li>dan semisalnya.</li>
</ul>
<p>Ini semua <em>khurafat</em> atau takhayul yang tidak boleh diyakini.</p>
<ol start="2">
<li><strong> Sihir <em>takhayyul</em></strong></li>
</ol>
<p>Salah satu jenis sihir adalah sihir <em>takhayyul</em>. Disebutkan oleh Syekh Shadiq Ibnul Haaj,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">سحر التخيل وهو أن يعمـد الساحـر إلـى القـوى المتخيلـة فيتصرف فيها بنوع من التصرف ويلقى فيها أنواعـا من الخـيالات والمـحاكاة وصورا مما يقصده من ذلك ثم ينزلها إلى الحس من الرائيـن بقـوة نفسه الخبيثة المؤثرة فيه فينظرها كأنها فى الخارج وليس هناك شيء من ذلك</span></p>
<p>“Sihir takhayyul adalah seorang penyihir mengandalkan kekuatan yang mengendalikan khayalan orang, sehingga ia melakukan berbagai macam cara untuk menimbulkan suatu khayalan dan gambaran dalam benak seseorang sesuai dengan keinginan si penyihir. Kemudian khayalan tersebut seolah-olah bisa diindera secara fisik karena kuatnya pengendalian khayalan tersebut. Sehingga orang yang disihir merasa itu terjadi secara nyata, padahal tidak ada apa-apa” (<em>Al-Iidhahul Mubin, li Kasyfi Hiyalis Saharah wal-Musya’wadzin</em>, hal. 9).</p>
<p>Contohnya sebagaimana penyihir yang dihadapi Nabi Musa <em>‘alaihis salaam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِن سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ</span></p>
<p><em>“Nabi Musa mengatakan, ‘Hendaknya kalian (penyihir) yang melempar duluan.’ Seketika itu tali dan tongkat mereka dikhayalkan dengan sihir mereka seolah-olah benda-benda tersebut bergerak-gerak”</em> (QS. Thaha: 66).</p>
<p>Jika demikian, maka takhayyul di sini termasuk sihir dan sihir itu termasuk kekufuran. Sebagaimana Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ</span></p>
<p><em>“Mereka (Harut dan Marut) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya ujian (bagimu), sebab itu janganlah kamu kufur’”</em> (QS. Al-Baqarah: 102).</p>
<p>Maka, takhayul dalam artian sihir takhayul ini wajib dijauhi sejauh-jauhnya.</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>. Semoga Allah <em>Ta’ala</em> memberi taufik.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/65984-makna-syirik-dan-larangan-berbuat-syirik.html" data-darkreader-inline-color="">Makna Syirik dan Larangan Berbuat Syirik</a></strong></span></li>
</ul>
</div>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/60922-contoh-syirik-akbar-dalam-tauhid-rububiyyah.html" data-darkreader-inline-color="">Contoh Syirik Akbar dalam Tauhid Rububiyyah</a></strong></span></li>
</ul>
</div>
<p>Penulis: <strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color="">Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p>Artikel:<strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 