
<p><iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/673134293&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe></p>
<h2>Puasa Hari Tasu’a</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu’alaikum</p>
<p>Kami sering mendengar puasa <a title="hari tasu’a" href="https://konsultasisyariah.com/anjuran-puasa-hari-tasua" target="_blank"><strong>hari tasu’a</strong></a>, apa itu hari tasu’a? Dan Apakah dianjurkan puasa?</p>
<p>Nuwun.</p>
<p>Dari: Rijal, Sleman<br>
<!--more--><br>
<strong>Jawaban: </strong></p>
<p>Tasu’a adalah tanggal 9 Muharram. Dinamakan demikian, diturunkan dari kata tis’ah [Arab: تسعة] yang artinya sembilan.</p>
<p>Pada tanggal 9 Muharram ini kita dianjurkan puasa, mengiringi puasa Asyura di tanggal 10 Muharram besok harinya. Agar puasa kita tidak menyamai puasa yang dilakukan Yahudi, yaitu pada tanggal 10 Muharram saja.</p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, bahwa ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melaksanakan puasa Asyura dan beliau perintahkan para sahabat untuk melakukan puasa di hari itu, ada beberapa sahabat yang melaporkan:</p>
<p class="arab">يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى</p>
<p>“Wahai Rasulullah, sesungguhnya tanggal 10 Muharram itu, hari yang diagungkan orang Yahudi dan Nasrani.”</p>
<p>Lalu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ</p>
<p>“<em>Jika datang tahun depan, insyaaAllah kita akan puasa tanggal 9 (Muharram)</em>.”</p>
<p>Ibnu Abbas melanjutkan, “Namun belum sampai menjumpai Muharam tahun depan, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sudah wafat.” (HR. Muslim 1916).</p>
<p>Dari riwayat di atas, bisa kita ambil pelejaran,</p>
<p><strong>Pertama</strong>, tujuan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melaksanakan puasa Tasu’a adalah untuk menunjukkan sikap yang berbeda dengan orang Yahudi. Karena beliau sangat antusias untuk memboikot semua perilaku mereka.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> belum sempat melaksanakan puasa itu. Namun sudah beliau rencanakan. Sebagian ulama menyebut ibadah semacam ini dengan istilah <em>sunah hammiyah</em> (sunah yang baru dicita-citakan, namun belum terealisasikan sampai beliau meninggal).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, fungsi puasa <strong>tasu’a</strong> adalah mengiringi puasa asyura. Sehingga tidak tepat jika ada seorang muslim yang hanya berpuasa tasu’a saja. Tapi harus digabung dengan asyura di tanggal 10 besoknya.</p>
<p>Dalam <em>Fatwa Islam</em> (no. 21785) dinyatakan:</p>
<p class="arab">قال الشافعي وأصحابه وأحمد وإسحاق وآخرون : يستحب صوم التاسع والعاشر جميعا ; لأن النبي صلى الله عليه وسلم صام العاشر , ونوى صيام التاسع .</p>
<p>Imam As-Syafii dan pengikut madzhabnya, imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah, dan ulama lainnya mengatakan: Dianjurkan puasa di hari kesembilan dan kesepuluh (Muharam) secara berurutan. Karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah melaksanakan puasa di tanggal 10 dan beliau telah meniatkan puasa tanggal 9 (Muharram).</p>
<p>An-Nawawi mengumpulkan beberapa penjelasan tentang hikmah dianjurkannya puasa <strong>tasu’a</strong>,<br>
Para ulama dikalangan madzhab kami dan madzhab lainnya menyebutkan beberapa hikmah dianjurkannya puasa <strong>tasu’a</strong>:</p>
<ol>
<li>Tujuan puasa Tasu’a ini adalah menyelisihi orang yang yahudi, yang hanya melaksanakan puasa di tanggal 10 saja. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>.</li>
<li>Tujuan puasa Tasu’a adalah untuk mengiringi puasa hari <strong>asyura</strong> dengan puasa di hari sebelumnya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang puasa di hari jumat saja.</li>
<li>Sebagai sikap kehati-hatian dalam menentukan kapan puasa <strong>asyura,</strong> karena ketidak jelasan munculnya hilal dan kemungkinan adanya kesalahan dalam penentuan hilal Muharam. Sehingga bisa jadi tanggal 9 dalam perhitungan manusia, sejatinya merupakan tanggal 10 Muharam yang sebenarnya.</li>
</ol>
<p>[Al-Majmu’ Syahr Muhadzab, 6/383]</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)</strong></p>
 