
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i> bersabda:</p>
<p class="arab">أذا أمن الإمام فأمنوا فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه</p>
<p>“<span lang="en-US"><i>Jika seorang imam mengucapkan ‘amin’ maka ucapkanlah pula ‘amin’ karena ungkapan amin seseorang yang bersesuaian dengan ungkapan amin para malaikat akan terampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”</i></span></p>
<p><span lang="en-US">Hadits di atas diriwayatkan oleh Bukhariy dan Muslim.</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a></p>
<p><span lang="en-US"><b>FAWA’ID AL-HADITS:</b></span></p>
<p><span lang="en-US"><b>Faidah Pertama: Apa yang dimaksud dengan ungkapan amin?</b></span></p>
<p><span lang="en-US">Ungkapan amin bermakna ‘<em>Allahumma istajib</em>’ (Ya Allah, kabulkanlah).</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a></p>
<p><span lang="en-US"><b>Faidah Kedua: Apa hikmah mengucapkan amin setelah imam selesai membaca alfatihah?</b></span></p>
<p><span lang="en-US">Secara umum, dalam setiap kebaikan yang diperintahkan oleh Islam mengandung begitu banyak hikmah dan kebaikan untuk manusia itu sendiri. Ini sesuai dengan salah satu kaidah agung yang ditetapkan Islam:</span></p>
<p class="arab">الدين جاء لسعادة البشر</p>
<p>“<span lang="en-US"><i>Islam terbit untuk kebahagiaan manusia”</i></span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a></p>
<p><span lang="en-US">Dalam hadits ini terdapat sebuah pelajaran yang mulia nan agung yaitu pensyariatan ungkapan amin dan keutamaan yang diperoleh bagi orang yang mengucapkannya. </span></p>
<p><span lang="en-US">Surat al-Fatihah mengandung do’a teragung, termulia dan terbaik seperti yang diungkpakan para ulama dalam kitab mereka. Secara umum, dalam kitab-kitab yang mensyarah hadits ini, diungkapkan bahwa pensyariatan amin dikaitkan dengan doa yang termaktub dalam al-Fatihah.</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a></p>
<p><span lang="en-US"><b>Faidah Ketiga: Kapan amin diucapkan?</b></span></p>
<p><span lang="en-US">Para ulama menjelaskan bahwa amin diucapkan beberapa saat setelah imam selesai membaca surat al-Fatihah.</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc"><sup>5</sup></a></p>
<p><span lang="en-US"><b>Faidah Keempat: Apakah ma’mum mengucapkan amin mendahului imam atau setelah ungkapan amin sang imam?</b></span></p>
<p><span lang="en-US">Dari hadits tersebut nampak bahwa amin sang imam lebih dahulu dibanding amin ma’mum namun jumhur ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “<em>ammana al-imam</em> (</span><span style="font-family: Tahoma;">أمن الإمام</span><span lang="en-US">)” adalah saat sang imam akan memulai ungkapan amin. Saat inilah ma’mum bersegera mengucapkan amin sehingga ungkapan imam dan ma’mu menyatu dalam satu waktu.</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote6sym" name="sdfootnote6anc"><sup>6</sup></a></p>
<p><span lang="en-US"><b>Faidah Kelima: Bolehkan ma’mum mendahului amin imam?</b></span></p>
<p><span lang="en-US">Tidak boleh bagi makmum mendahului unngkapan amin sang imam atau mengakhirkannya agar mendapat keutamaan besar yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini.</span></p>
<p><span lang="en-US"><b>Faidah Keenam: Apakah yang terhapus adalah semua jenis dosa?</b></span></p>
<p>Secara umum, dalam ilmu Ushul Fiqh, lafadz “maa (ما)<span lang="en-US">” adalah “<em>ism maushul</em>” yang bermakna umum. Artinya, berdasarkan redaksi di atas, dosa yang disebutkan mengandung dosa kecil dan besar.</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote7sym" name="sdfootnote7anc"><sup>7</sup></a><span lang="en-US"> Namun, para ulama yang meneliti nash mengungkapkan bahwa pengguguran dosa yang dimaksud dalam hadits di atas dan hadits lain yang sejenisnya berhubungan dengan dosa kecil saja.</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote8sym" name="sdfootnote8anc"><sup>8</sup></a></p>
<p><span lang="en-US">Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy mengungkapkan bahwa semua nash yang mengandung pengampunan dosa ditujukan terhadap dosa kecil, bukan dosa besar. Dosa besar gugur dengan taubat yang dilakukan seorang hamba.</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote9sym" name="sdfootnote9anc"><sup>9</sup></a></p>
<p><span lang="en-US"><b>Faidah Ketujuh: apa yang dimaksud dengan “muwaafaqah (</b></span><b>موافقة</b><span lang="en-US"><b>)/berkesesuaian”?</b></span></p>
<p><span lang="en-US">Para ulama berbeda pendapat tentang makna “<em>muwaafaqah</em> (</span>موافقة<span lang="en-US">)/berkesesuaian.”</span></p>
<ol>
<li>
<span lang="en-US"><span lang="en-US">Kesamaan waktu.</span></span> 
<p>Artinya, amin ma’mum dan amin para malaikat bersamaan di waktu yang sama. Kebersamaan do’a dan berpadunya waktu adalah salah satu factor diterimanya doa apalagi doa tersebut bersesuaian dengan doa para malaikat yang memang tidak bermaksiat kepada Allah, melakukan apa yang Allah perintahkan, bershaf-shaf di sisi Allah, bertasbih dan bersujud kepada Allah ‘azza wajalla.</p>
</li>
</ol>
<ol start="2">
<li>
<span lang="en-US">Kesamaan ma’mum dengan si</span>fat dan keadaan <span lang="en-US">malaikat yaitu memandang kerendahan diri saat berdoa, menundukkan hati dan khusyu’ karena Allah tidak menerima doa dari hati dan jiwa yang lalai.</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote10sym" name="sdfootnote10anc"><sup>10</sup></a>
</li>
</ol>
<p><span lang="en-US"><b>Faidah kedelapan: Siapa malaikat yang disebutkan dalm hadits di atas?</b></span></p>
<p>Para ulama menjelaskan bahwa para malaikut pun mendengar bacaan imam<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote11sym" name="sdfootnote11anc"><sup>11</sup></a>. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang malaikat mana saja yang dimaksudkan dalam hadits di atas.</p>
<p>Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah al-Bassam mengungkapkan bahwa malaikat yang dimaksud adalah malaikat yang ikut menyaksikan shalat tersebut baik malaikat yang ada di bumi maupun malaikat yang ada di langit.<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote12sym" name="sdfootnote12anc"><sup>12</sup></a></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin mengungkapkan bahwa malaikat yang dimaksudkan hanyalah malaikat yang diijinkan Allah untuk mengucapkan amin bersama orang yang shalat.<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote13sym" name="sdfootnote13anc"><sup>13</sup></a> <span lang="en-US">Dan ini tidak berlaku bagi malaikat yang tidak diijinkan Allah.</span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote14sym" name="sdfootnote14anc"><sup>14</sup></a></p>
<p><span lang="en-US"><b>Penutup:</b></span></p>
<p><span lang="en-US">Ada banyak sekali permasalahan fiqhiyyah yang berkaitan dengan hadits di atas, misalnya status hukum ucapan amin dalam shalat, apakah imam wajib membaca amin baik dengan mengeraskan hingga terdengar makmum atau dengan suara pelan, ataukah sebatas sunnah baginya, dan permasalahan lain.</span></p>
<p><span lang="en-US">Hanya saja, alangkah baiknya bagi imam dan makmum, dan ini begitu disarankan para ulama, untuk membaca amin dalam waktu yang sama dengan suara yang terdengar sehingga mereka mendapat keutamaan penghapusan dosa. Begitu pula ketika membaca amin diharapkan dengan hati yang khsuyu’ penuh ketundukan sehingga menyerupai keadaan para mailaikat.</span></p>
<p><span lang="en-US">Sungguh, kita dapati sebagian saudara kita begitu lalai membaca amin dalam shalat padahal para ulama mengungkapkan bahwa kesempatan membaca amin dalam shalat ini dengan ungkapan:</span></p>
<p class="arab">هذه غنيمة جليلة وفرصة ثمينة ألا وهي غفران الذنوب بأيسر الأسباب فلا يفوتها إلا محروم</p>
<p>“<span lang="en-US"><i>Ini adalah harta/kemenangan (peraihan sesuatu tanpa ada kesulitan sedikit pun –ed) yang mulia dan kesempatan yang begitu berharga yaitu pengampunan dosa dengan wasilah yang paling mudah. Orang yang terluput dari kesempatan ini hanyalah orang-orang yang memang diharamkan untuk meraihnya ”</i></span></p>
<p><span lang="en-US"><b>Referensi:</b></span></p>
<ol>
<li><span style="font-size: small;"><span lang="en-US"><em>Ta’liqat ‘ala ‘Umdah al-Ahkam</em>, karya syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy, Dar a’Atsar, Mesir.</span></span></li>
<li><span style="font-size: small;"><span lang="en-US"><em>Mandzumah Ushul al-Fiqh wa Qawa’iduhu</em>, karya Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Dar Ibn Jauziy, Saudi Arabia</span></span></li>
<li><span style="font-size: small;"><span lang="en-US"><em>Taisiyr al-‘Allam Syarh ‘Umdah al-Ahkam</em>, karya syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam, Dar al-Aqidah, Mesir.</span></span></li>
<li><span style="font-size: small;"><span lang="en-US"><em>Syarh ‘Umdah al-Ahkam</em>, karya syaikh Sa’ad bin Nashir as-Syatstriy, Dar Kanuz Isybilya, Arab Saudi </span></span></li>
<li><span style="font-size: small;"><em>Tanbih al-Afham</em><span lang="en-US"><em> Syarh ‘Umdah al-Ahkam</em>, karya syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Maktabah as-Shabah, Mesir.</span></span></li>
<li><span style="font-size: small;"><em>Zubdah al-Afham bi Fawa-idh ‘Umdah al-Ahkam</em>, karya syaikh Abu ‘Usamah Salim bin ‘Ied al-Hilaliy, Dar Ibn Hazm, Libanon.</span></li>
</ol>
<p>Kebun Nanas, Jakarta Timur, Senin, 17 Muharram 1436 H/10 Nopember 2014</p>
<h5>Catatan kaki</h5>
<div id="sdfootnote1">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a><sup></sup> <span lang="en-US">Lihat Zubdah al-Afham,hal 353.</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a><sup></sup> <span lang="en-US">Lihat Ta’liqat ‘ala ‘Umdah al-Ahkam, hal 112</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3</a><sup></sup> <span lang="en-US">Lihat Mandzumah Ushul al-Fiqh, hal 49.</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a><sup></sup> <span lang="en-US">Lihat Taisiyr al-‘Allam, hal 144, dan kitab lainnya.</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote5anc" name="sdfootnote5sym">5</a><sup></sup> <span lang="en-US">Ibid.</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote6anc" name="sdfootnote6sym">6</a><sup></sup> <span lang="en-US">Lihat Syarh ‘Umdah al-Ahkam, hal 187. </span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote7anc" name="sdfootnote7sym">7</a><sup></sup> <span lang="en-US">Ibid, hal 188</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote8anc" name="sdfootnote8sym">8</a><sup></sup> <span lang="en-US">Lihat Taisiyr al-‘Allam, hal 145</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote9anc" name="sdfootnote9sym">9</a><sup></sup> <span lang="en-US">Lihat Ta’liqat ‘ala ‘Umdah al-Ahkam, hal 113</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote10anc" name="sdfootnote10sym">10</a><sup></sup> <span lang="en-US">Ibid, hal 112</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote11anc" name="sdfootnote11sym">11</a><sup></sup> <span lang="en-US">Lihat Syarh ‘Umdah al-Ahkam, hal 187</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote12anc" name="sdfootnote12sym">12</a><sup></sup> <span lang="en-US">Lihat Taisiyr al-‘Allam, hal 14</span>4</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote13anc" name="sdfootnote13sym">13</a><sup></sup> Lihat Tanbih al-Afham, hal 178</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote14anc" name="sdfootnote14sym">14</a><sup></sup> <span lang="en-US">Lihat Syarh ‘Umdah al-Ahkam, hal 187</span></span></p>
</div>
 