
<h2><strong>Sembilan Kiat Bebas Utang</strong></h2>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Allah Ta’ala dan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberi banyak petunjuk bagi kita untuk membebaskan diri dari lilitan utang. Berikut sembilan di antaranya.</em></p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Zainal Abidin, Lc.</strong></p>
<p>Utang, dahulu, termasuk salah satu tabu. Sekarang tidak lagi. Jadi hal biasa. Apalagi di kalangan pengusaha. Sampai-sampai disebut aneh; pengusaha kok tidak punya utang. Padahal utang dapat menyebabkan bisnis seret dan bahkan bangkrut. Pengusaha Muslim hendaklah cermat menyikapi utang. Jangan terbelenggu utang. Apalagi utang berbunga (riba). Bisa-bisa siang malam kerjanya hanya gali lubang utang untuk menutup lubang utang lain, sehingga hidup tidak tenang dan berkah.</p>
<p>Utang termasuk perkara besar yang hendaknya jangan diremehkan oleh pengusaha Muslim. Dikisahkan, Rasulullah <em>Sh</em><em>allallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah menolak mensholati orang yang meninggal dunia meninggalkan utang. Datang sahabat Abu Qatadah yang berjanji melunasi utang jenazah, dan beliau bersedia mensholatinya (HR. Ahmad 3/330, Hakim 2/58, dan di<em>shahih</em>kan Al-Albani)</p>
<p>Segera lunasi utang Anda sebelum maut menjemput! Tidak ada jaminan ahli waris Anda akan melunasi utang Anda. Jika tidak, Anda akan ditagih di akhirat.</p>
<p>Nabi <em>S</em><em>hallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut?” Mereka berkata, </em><em>‘</em><em>Orang bangkrut di antara kita, wahai Rasulullah, adalah orang yang tidak punya dirham dan ludes barang dagangannya.</em><em>’</em> <em>Rasulullah bersabda</em><em>, ‘Orang bangkrut dari umatku adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa pahala sholat, puasa, dan zakat, namun dia pernah memaki si A, menuduh si B, memakan harta si C. Akhirnya pahala orang ini diambil dan diberikan kepada korban kezalimannya, sehingga pahalanya habis sebelum tuntutannya terpenuhi. Kemudian diambil-lah dosa orang yang pernah dizalimi dan dilemparkan kepadanya, lalu dia dilemparkan ke neraka</em><em>’</em><em>” </em>(HR. Muslim No. 2581)</p>
<p><strong>Kiat </strong><strong>Bebas U</strong><strong>tang</strong></p>
<p>Berikut ini sembilan kiat bebas dari utang.</p>
<ol>
<li>
<strong>Bekali </strong><strong>hidup dengan </strong><strong>i</strong><strong>lmu yang bermanfaat dan amal salih</strong><strong>.</strong>
</li>
</ol>
<p>Risalah Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengandung dua hal: cahaya hidayah dan agama yang benar, sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya, yang artinya: <em>“Dialah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama”</em> (QS. At-Taubah [9]: 33).</p>
<p>Petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, dan agama yang benar adalah amal soleh yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai petunjuk Rasul-Nya. Ilmu yang bermanfaat mencakup semua ilmu yang memberi kebaikan kepada umat di dunia dan akhirat. Dengan dua hal ini, seorang Muslim akan berhati-hati mengelola utang, mewaspadai keterlambatan pembayaran utangnya dan takut terhadap dampak utang, terutama di akhirat, kelak.</p>
<ol start="2">
<li>
<strong>K</strong><strong>enali dunia dan </strong><strong>karakternya</strong>
</li>
</ol>
<p>Sesungguhnya Allah menjadikan dunia ini hanya tempat singgah sejenak, sekaligus ladang beramal, untuk bekal menuju kampung akhirat dan wahana beribadah. Sedangkan akhirat kampung tempat menuai balasan dan memetik pahala. Jika orang yang memahami prinsip ini, dia tidak akan menjadikan dunia sebagai cita-citanya.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda: <em>“Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya, maka Allah akan menjadikan urusannya berantakan, menancapkan kemiskinan di depan kedua matanya, dan tidaklah datang bagian untuk dunianya kecuali yang telah ditentukan kepadanya. Sementara barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya</em><em>,</em><em> maka Allah akan mengumpulkan urusannya, memberikan rasa cukup dalam hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina”</em> (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dengan <em>sanad </em>yang <em>sahih</em>).</p>
<ol start="3">
<li>
<strong>Jangan</strong> <strong>remehkan utang.</strong>
</li>
</ol>
<p>Seorang Muslim harus berpikir panjang jika hendak berutang. Dia harus menimbang kemampuannya. Karena utang tidak akan gugur melalui kematian, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda:<em> ”Jiwa seorang mukmin tergadai oleh utangnya hingga terbayar”</em> (HR. Ahmad 2/440, Turmudzi No. 1078 dan Ibn Majah No. 2413)<a name="_ftnref3"></a>.</p>
<ol start="4">
<li>
<strong>Takut</strong><strong>lah</strong><strong> kepada Allah akan hukuman </strong><strong>bagi </strong><strong>orang yang mati meninggalkan utang</strong><strong>.</strong>
</li>
</ol>
<p>Bila sudah mampu melunasi utang, segera laksanakan. Karena menunda pembayaran utang termasuk zalim. Nabi <em>S</em><em>hallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Penundaan orang yang mampu untuk membayar utan</em><em>g</em><em> menghalalkan kehormatannya dan pemberian hukuman atasnya”</em> (HR. Ahmad No. 17486, Abu Daud No. 3628, dan Nasa’i No. 4689, dan di<em>s</em><em>ahih</em>kan Al-Albani). Artinya aib dan kesalahannya boleh dibeberkan kepada masyarakat.</p>
<p>Dalam riwayat lain Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda: <em>“Barangsiapa yang meninggal dunia tidak berniat melunasi utangnya, maka pahalanya akan diambil sementara tidak ada lagi dinar dan dirham”</em> (HR. Hakim 2/27 dan di<em>sahih</em>kan Al-Albani).</p>
<ol start="5">
<li><strong>Kerahkan potensi diri dan bertawakal kepada Allah.</strong></li>
</ol>
<p>Renungkan tentang burung yang hanya bermodal paruh tapi mampu bertahan hidup, dan Rasulullah menjadikan burung teladan bagi manusia dalam bertawakal ketika mengais rezeki, sebagaimana sabdanya: <em>“Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung-burung diberi rezeki. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang”</em> (HR. Turmudzi No. 2344).</p>
<ol start="6">
<li>
<strong>Buat </strong><strong>perencanaan keuangan</strong>
</li>
</ol>
<p>Perencanaan keuangan sangat penting untuk mengatur dan mengontrol keuangan. Terutama Anda yang berpenghasilan tetap agar <em>cash flow</em> lancar dan dapat menghindari pembengkakan pengeluran. Hidup teratur dan disiplin harus menjadi pola hidup Muslimin.</p>
<ol start="7">
<li>
<strong>Hindari kartu kredit</strong><strong>.</strong>
</li>
</ol>
<p>Kartu kredit adalah jerat setan untuk menjerumuskan manusia ke jurang kehancuran dan penderitaan berkepanjangan. Pemegang kartu kredit cenderung menggampangkan utang. Dengan kartu kredit, tanpa duit di tangan, bisa mendapatkan barang yang diinginkan. Tapi bulan depan tagihan kartu kredit datang dan membuatnya mengelus dada. Kartu kredit senantiasa mengejar ke mana pun Anda menghindar. Bagaimana mungkin hidup tenang?</p>
<ol start="8">
<li>
<strong>Berdoa</strong><strong>lah</strong><strong> dan </strong><strong>b</strong><strong>ertawakal</strong><strong>.</strong>
</li>
</ol>
<p>Sambil mencari modal usaha yang halal dan bebas riba, teruslah berdoa. Di antara doa yang diajarkan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْـهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى</p>
<p><em>“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, keterjagaan dari hal-hal terlarang dan kecukupan”</em> (HR. Muslim No. 2721)</p>
<p>Rasulullah <em>Sh</em><em>al</em><em>al</em><em>lahu’ alaihi wa</em> <em>sa</em><em>l</em><em>lam</em> juga mengajarkan doa agar kita hidup berkecukupan dan tidak terlilit utang. Bacalah doa ini sebelum tidur:</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ.اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنْ الْفَقْرِ</p>
<p>“<em>Ya Allah </em>Rabb<em> sekalian langit dan bumi dan </em>Rabb ‘Arsy<em> yang agung </em>Rabb<em> kami dan </em>Rabb<em> segala sesuatu, Allah yang menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Yang menurunkan Taurat, Injil dan Al-Quran, Aku berlindung dari kejahatan segala sesuatu yang Engkaulah yang menguasai ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah </em>Al-Awwal<em> yang tiada sesuatu sebelum-Mu, dan Engkaulah </em>Al-Akhir<em> yang tiada sesuatu setelah-Mu, Engkaulah </em>Yang Zhahir <em>yang tiada sesuatu di atas-Mu dan Engkau </em>Al-Bathin<em>, tiada yang lebih dekat dari-Mu sesuatu pun, lunasilah utang kami dan cukupilah kami (sehingga terhindar) dari kefakiran”</em> (HR. Muslim No. 2713)</p>
<ol start="9">
<li>
<strong>Jaga k</strong><strong>omitmen dan bertekad</strong><strong>lah</strong><strong> melunasi utang</strong><strong>.</strong>
</li>
</ol>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>memberikan janji untuk melunasi utang orang yang bertekad menunaikannya. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Tidaklah ada orang yang berutang, dan Allah mengetahui bahwa ia berniat melunasi utangnya, melainkan Allah akan melunasinya di duni</em>a.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah; dinilai <em>sahih</em> oleh Al-Albani).</p>
<p><strong>Catatan redaksi:</strong></p>
<p>Islam telah memberikan banyak petunjuk agar orang yang terlilit utang bisa segera bebas dan merdeka. Dijamin, ini jauh lebih mujarab dibandingkan pesugihan-pesugihan yang banyak mengandung kesyirikan.</p>
<p><strong>KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting <a href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>SPONSOR</strong> hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>
<strong>DONASI</strong> hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 