
<h3><strong>Suami Tidak Boleh Berpoligami selama Istri Pertama Masih Hidup?</strong></h3>
<p>Nabi Muhammad <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> tidak menikah lagi atau berpoligami selama Khadijah <em>Radhiallahu ‘anha</em> masih hidup. Beliau baru menikah dan berpoligami setelah Khadijah <em>Radhiallahu ‘anha</em> wafat.</p>
<p>‘Aisyah <em>Radhiyallahu ‘anha</em> berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَمْ يَتَزَوَّجْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خَدِيجَةَ حَتَّى مَاتَتْ</span></p>
<p>“Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> tidak menikahi wanita lain saat Khadijah (masih hidup pent.) sampai Khadijah wafat” (HR. Muslim).</p>
<p>Sebagian orang berdalil dengan dalil yang tidak tepat, lalu berkesimpulan bahwa seorang laki-laki baru bisa melakukan poligami setelah istri pertama wafat sebagaimana Khadijah dan Fatimah <em>Radhiallahu ‘anhuma</em>. Pernyataan yang benar bahwa boleh saja menikah lagi saat istri pertama masih hidup, karena para sahabat melakukan poligami saat istri pertama mereka masih hidup.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa ulama menjelaskan mengapa Nabi <em>Shallallahu ‘alahi wasallam</em> tidak berpoligami selama Khadijah masih hidup. Beberapa ulama menjelaskan karena pada sosok Khadijah sudah terpenuhi semua tujuan rumah tangga, dan dukungan terhadap dakwah lahir dan batin. Saat itu poligami dilakukan oleh mayoritas orang Quraisy. Akan tetapi, Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> mencukupkan dengan satu istri saja.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/52540-apakah-poligami-perlu-izin-istri-dan-haruskah-memberi-tahu.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Poligami Perlu Izin Istri dan Haruskah Memberi Tahu?</a></strong></p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>menjelaskan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">و لم يتزوج في حياتها بسواها ، لجلالها و عظم محلها عنده</span></p>
<p>“Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> tidak menikah lagi semasa Khadijah hidup karena kemuliaan Khadijah dan agungnya kedudukan beliau di sisi Nabi <em>Shallallahu ‘alahi wasallam</em>” (<em>Al-Fuhsul Fii Siratir Rasul</em>, hal. 104).</p>
<p>Begitu besar kedudukan Khadijah di sisi suami tercinta. Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> sampai-sampai masih menyebut-nyebut Khadijah setelah beliau meninggal, dan mengirimkan hadiah kepada sahabat-sahabat Khadijah. Tentu hal ini membuat para istri lainnya cemburu termasuk ‘Aisyah <em>Radhiallahu ‘anha</em>. Ketika ‘Aisyah “protes” kepada Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menjelaskan kepada ‘Aisyah bahwa cinta beliau kepada Khadijah adalah anugrah terindah. Beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا</span></p>
<p>“Sungguh Allah telah menganugrahkan kepadaku rasa cinta kepada Khadijah” (HR. Muslim no. 2435).</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah </em>menjelaskan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">.. وكونه لم يتزوج عليها حتى ماتت ، إكراما لها ، وتقديرا لإسلامِها ” انتهى</span></p>
<p>“Alasan Nabi <em>Shallallahu ‘alahi wasallam</em> tidak mempoligami Khadijah sampai Khadijah wafat adalah untuk memuliakannya dan memuliakan keislamannya” (<em>Al-Bidayah Wan Nihayah</em>, 3: 159).</p>
<h3><strong>Keutamaan Khadijah</strong></h3>
<p>Apa saja keutamaan Khadijah yang membuat Nabi <em>Shallallahu ‘alahi wasallam</em> mencukupkan diri dengan satu istri? Syekh Shalih Al-Ushaimi <em>Hafidzahullah</em> menjelaskan beberapa poin keutamaan Khadijah <em>Radhiallahu ‘anha</em>. Keistimewaan Khadijah <em>Radhiallahu ‘anha </em>dibandingkan istri-istri beliau lainnya, antara lain:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> Khadijah istri pertama beliau;</p>
<p><strong>Kedua,</strong> beliau tidak melakukan poligami selama Khadijah masih hidup;</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> Khadijah wanita yang pertama beriman dari kalangan wanita;</p>
<p><strong>Keempat,</strong> Khadijah adalah wanita yang paling banyak membantu dakwah beliau dengan jiwa dan hartanya;</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/27264-benarkah-rasulullah-melarang-ali-bin-abi-thalib-poligami.html" data-darkreader-inline-color="">Benarkah Rasulullah Melarang Ali bin Abi Thalib Poligami?</a></strong></p>
<p><strong>Kelima,</strong> Khadijah memiliki kekhususan mendapatkan salam dari Allah yang disampaikan oleh Jibril;</p>
<p><strong>Keenam,</strong>  Khadijah adalah ibu dari mayoritas anak-anak beliau. Khadijah berkunyah dengan nama Ummul Qasim, yang mana Qasim merupakan anak dari Rasulullah dan Khadijah;</p>
<p><strong>Ketujuh,</strong> Khadijah diberi kabar gembira dengan dibangunkan rumah di surga, yang tidak ada keributan dan kesusahan di dalamnya (<em>Syarh Al-Muniirah fii mMuhimmi ‘Ilmis Siirah</em>, hal. 19-20).</p>
<p>Terdapat pula beberapa <em>nash</em> yang menunjukkan keutamaan Khadijah dibandingkan istri beliau lainnya. Begitu mulianya Khadijah <em>Radhiallahu ‘anha</em>, Allah Rabb Semesta Alam menitipkan salam kepada Khadijah <em>Radhiallahu ‘anha </em>melalui Jibril <em>‘Alaihis salaam</em>. Ini adalah kedudukan yang luar biasa.</p>
<p>Abu Hurairah <em>Radhiyallahu ‘anhu </em>menceritakan, “Pada suatu ketika Jibril mendatangi Nabi Muhammad <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> sambil mengatakan pada beliau,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ</span></p>
<p>‘Wahai Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi wasallam</em>, Khadijah telah datang. Bersamanya sebuah bejana yang berisi lauk, makanan, dan minuman. Jika dirinya sampai, katakan padanya bahwa Rabbnya dan diriku mengucapkan salam untuknya. Kabarkan pula bahwa untuknya rumah dari emas di surga, yang nyaman, tidak bising, dan tidak merasa letih’ (HR. Bukhari dan Muslim).”</p>
<p>Keutamaan lainnya bahwa Khadijah adalah salah satu dari wanita terbaik di dunia. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ العَالَمِينَ: مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ</span></p>
<p>“Cukup bagimu empat wanita terbaik di dunia: Maryam bintu Imran (Ibu dari nabi Isa), Khadijah bintu Khuwailid, Fatimah bintu Muhammad, dan Asiyah Istri Firaun” (HR. Ahmad, disahihkan Syuaib Al-Arnauth).</p>
<p>Dalam riwayat yang lain,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ</span></p>
<p>“Sebaik-baik wanita dunia adalah Maryam bintu Imran dan sebaik-baik wanita dunia di zamannya adalah Khadijah” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/12664-4-syarat-poligami.html" data-darkreader-inline-color="">4 Syarat Poligami</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/1916-poligami-bukti-keadilan-hukum-allah.html" data-darkreader-inline-color="">Poligami, Bukti Keadilan Hukum Allah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>***</p>
<p>@ Lombok, Pulau seribu masjid</p>
<p><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/raehan" data-darkreader-inline-color="">Raehanul Bahraen</a></span></strong></span></p>
<p><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</a></span></strong></span></p>
 