
<p><span style="font-weight: 400;">Melalui tulisan ini kita berupaya meluruskan ucapan sebagian orang, di tengah wabah corona akhir-akhir ini. </span></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>“Aku ngga takut corona. Aku hanya takut kepada Allah..“</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pembaca yang dimuliakan Allah…</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di saat rombongan Khalifah Umar bin Khattab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengadakan agenda kunjungan ke negeri Syam, beliau mendapatkan kabar bahwa di Syam sedang tersebar wabah tho’un. Sehingga beliau pun mengurungkan rencana kunjungan tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Ubaidah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> sebagai gubernur Syam ketika itu, menyayangkan batalnya kunjungan itu. Beliau berkata kepada Umar,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يا أمير المؤمنين، أفراراً من قدر الله؟</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai Amirul Mukminin.. Mengapa anda lari dari takdir Allah?“</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu Umar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjawab dengan sangat hikmah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لو غيرك قالها يا أبا عبيدة! نعم، نفرّ من قدر الله إلى قدر الله، أرأيت لو كانت لك إبل فهبطت واديا له عدوتان، إحداهما خصبة، والأخرى جدبة، أليس إن رعيتَ الخصبة رعيتَها بقدر الله، وإن رعيت الجدبة رعيتَها بقدر الله؟</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku berharap bukan Anda yang mengucapkan itu, ya Abu Ubaidah. Iya benar, kami sedang lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Seandainya kamu punya unta, kemudian ada dua lahan yang subur dan yang kering. Bukankah bila Anda gembalakan ke lembah yang kering itu adalah takdir Allah, dan jika Anda pindah ke lembah subur itu juga takdir Allah?!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Iya benar…” Jawab sahabat Abu Ubaidah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anhu.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Umar pun takut pada wabah tho’un, kemudian berikhtiar menghindar. Padahal beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, Khalifahnya Rasulullah, orang yang Nabi pernah bilang, “</span><i><span style="font-weight: 400;">kalau ada Nabi setelahku, maka Umar orangnya</span></i><span style="font-weight: 400;">.” Sosok yang pernah Nabi ceritakan bahwa setan tidak berani melewati jalan yang dilewati oleh Umar. Kita siapa? Umar bukan? Nabi bukan? Rasul bukan? Shalih juga masih ragu-ragu? Kemudian petantang-petenteng?!</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/55274-hukum-menghadiri-shalat-jamaah-dan-shalat-jumat-di-masjid-ketika-terjadi-wabah.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Menghadiri Shalat Jamaah dan Shalat Jum’at di Masjid ketika Terjadi Wabah</a></strong></p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Ini menunjukkan bahwa, sebenarnya takut kepada Corona tidak bertentangan dengan takut kepada Allah.</span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena takut kepada makhluk yang bisa mendatangkan bahaya, tergolong takut yang sifatnya tabiat (</span><i><span style="font-weight: 400;">thobi’i</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala memaklumi adanya takut seperti ini pada diri manusia. Karena itu bagian dari fitrah yang Allah tanamkan pada diri manusia. Sehingga tidak perlu dipertentangkan dengan takut kepada Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan manusia yang mulian yaitu para Nabi, pun merasakan takut ini. Sebut saja Nabi Musa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَخَرَجَ مِنۡهَا خَآئِفٗا يَتَرَقَّبُۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ</span></p>
<p><b><i>“Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut,</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya). Dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span><b>(QS. Al-Qashash: 21)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat Allah menunjukkan mukjizat Nabi Musa dihadapan para penyihir Fir’aun, ketika tongkat beliau berubah menjadi ular, Musa gelisah ketakutan.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَأَلۡقِ عَصَاكَۚ فَلَمَّا رَءَاهَا تَهۡتَزُّ كَأَنَّهَا جَآنّٞ وَلَّىٰ مُدۡبِرٗا وَلَمۡ يُعَقِّبۡۚ يَٰمُوسَىٰ لَا تَخَفۡ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ ٱلۡمُرۡسَلُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Lemparkanlah tongkatmu!” Maka ketika (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh. ”Wahai Musa! Jangan takut! Sesungguhnya di hadapan-Ku, para rasul tidak perlu takut.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span><b>(QS. An-Naml: 10)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lihatlah, Nabi Musa pun takut kepada ular. Apakah sekelas Nabi Musa yang kualitas takwa dan tauhidnya jelas terjamin baik; bayangkan beliau termasuk Nabi Ulul Azmi, melihat ular-ular itu kemudian berkata, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Saya ngga takut ular. Saya hanya takut kepada Allah. Sini ular saya cincang kalian.”?!</span></i><span style="font-weight: 400;"> Ternyata tidak, Allah Tuhan yang maha tahu isi hati manusia sendiri bahkan yang menceritakan dan tidak mengingkari adanya takut jenis itu pada diri Musa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saudaraku yang dimuliakan Allah…</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/55340-social-distancing-lockdown-dan-menghindari-bersalaman-sementara-dalam-konsep-islam-ketika-wabah.html" data-darkreader-inline-color="">Social Distancing, Lockdown, dan Menghindari Bersalaman Sementara dalam Konsep Islam ketika Wabah</a></strong></p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Ketahuilah bahwa, takut kepada Allah harus didasari ilmu. Bukan bermodal semangat saja.</span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam Al-Qur’an, Allah menyandingkan rasa takut kepadaNya dengan ilmu.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span><b>(QS. Fathir: 28)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bisa pembaca rasakan, ungkapan di atas lebih di dasari ilmu atau semangat?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sama jawaban kita, semboyan di atas hanya didasari semangat tanpa ilmu. Sehingga lebih pantas disebut nekad, bukan takut kepada Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukti bahwa semboyan di atas tidak didasari ilmu adalah, hampir bisa dipastikan orang yang memegang semboyan itu adalah kalangan awam terhadap ilmu agama dan ilmu medis. Silahkan perhatikan, tak ada satupun ulama atau ustadz, yang mumpuni ilmu agamanya, apalagi dokter, yang berprinsip demikian. Rata-rata yang memegang prinsip itu adalah orang awam yang tidak punya kapasitas di bidang ilmu agama dan juga kesehatan. Atau, orang awam yang diustadzkan.</span></p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Silahkan, sekarang mau pilih ikut yang mana sahabat?</span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita hidup di bumi Allah teman. Maka harus patuh pada hukum Allah yang berlaku di bumi ini. Jangan membuat hukum sendiri di alam ini. Kecuali kalau punya alam sendiri. Allah tetapkan di dunia ini ada hukum sebab akibat. Anda mau dapat sesuatu, harus ada upaya (ikhtiyar). Anda tidak mengupayakan sebab, tak mungkin mendapatkan akibat atau hasil.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maryam saja, sosok yang sudah jelas dicintai Allah, saat akan melahirkan Nabi Isa </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salaam,</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk mendapatkan buah kurma, Allah perintahkan dia untuk melakukan sebab, yaitu menggoncang pohon kurma agar buah berjatuhan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> </span><b>(QS. Maryam: 25)</b></p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Kita siapa brother? Tidak mau berusaha?! Maunya semua gratis? Kadang kita suka pede keterlaluan.</span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang seperti itu, sama saja dengan orang yang ingin punya anak tapi tidak mau nikah. Berdoa saja. Pengen dapat rizki tapi tidak usah kerja, yang penting doa saja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Coba kepada orang yang berprinsip seperti itu, kita ajak ke kandang singa atau buaya. Tolong tinggal di situ satu atau dua jam saja, sambil lantang berteriak, “Woi singa… woi buaya.. kemari, aku ngga takut sama kalian. Aku takut kepada Allah.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berani menerima tantangan ini?! Kalau masih pikir-pikir berarti tidak konsisten dengan prinsip yang dia pegang.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/55352-hukum-qunut-nazilah-saat-terjadi-wabah.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Qunut Nazilah saat Terjadi Wabah</a></strong></span></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/55347-mendudukkan-bagaimanakah-tawakkal-yang-benar-ketika-terjadi-wabah.html"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong>Mendudukkan Bagaimanakah Tawakkal yang Benar ketika Terjadi Wabah</strong></span></a></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Wallahua’lam bis showab…</span></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/aanshori" data-darkreader-inline-color="">Ahmad Anshori</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 