
<p></p>
<p class="arab">بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد</p>
<p>Apa kabar saudaraku pembaca? Semoga selalu dalam petunjuk Allah <em>Ta’ala</em></p>
<p>Pembicaraan kita sekarang seputar oplos-mengoplos, tipu-menipu, dan semisalnya</p>
<p><strong>Contoh-contoh Pengoplosan, Penipuan dan Semisalnya</strong></p>

<p>Semangka  disuntik agar lebih merah, daging disuntik agar lebih gemuk, kerupuk  dioplos, madu dioplos, isi-isi kue dioplos, terasi dioplos, minuman es  buah yang diisi buah-buah busuk, sparepart dipalsukan, sampai pentol  bakso dioplos dibuat dari daging tikus!!! Masih banyak yang lain, sampai  kadang tidak masuk akal dan nurani.</p>
<p>Pertanyaannya, kenapa dioplos?</p>
<p>Kenapa  begitu semangat mengeluarkan tenaga sebanyak mungkin, hanya untuk  oplos, yang keuntungannya tidak seberapa apalagi dibandingkan surga dan  kenikmatannya?!</p>
<p>Kenapa begitu teganya membahayakan orang banyak dengan barang oplosannya?!</p>
<p>Kenapa bisa mikir sampai begitu panjangnya, bahkan para ilmuanpun tidak terpikir caranya agar bisa ngoplos seperti oplosannya?!</p>
<p>Ternyata jawabannya adalah:</p>
<p><strong>Tabiat Manusia Itu Sangat Tamak Terhadap Harta</strong></p>
<p><strong>Ini  bukan hanya sekedar kabar dan penemuan yang valid, tetapi pada saat  yang bersamaan adalah celaan dan hinaan terhadap tabiat seperti itu.</strong></p>
<p>Saudaraku pembaca,</p>
<p>Mari  perhatikan beberapa ayat dan hadis serta perkataan para ulama Islam  terdahulu yang menerangkan ketamakan dan kerakusan manusia terhadap  harta.</p>
<ol>
<li>Allah <em>Ta’ala</em> berfiman,</li>
</ol>
<p class="arab">{وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا } [الفجر: 20]</p>
<p>Artinya: <em>“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”.</em> (QS. Al Fajr: 20).</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, “Maksudnya adalah mencintai harta dengan kecintaan yang sangat”.<strong> </strong>Lihat <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>.</p>
<p>Kecintaan  berlebih ini adalah sifat tercela, karena akan menghantarkan kepada  pengumpulannya dengan segala cara, tanpa memperhatikan mana yang halal  dan mana yang haram.</p>
<p>As Sa’dy <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p class="arab">{  وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا } أي: كثيرًا شديدًا، وهذا كقوله  تعالى: { بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةُ خَيْرٌ  وَأَبْقَى } { كَلا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَتَذَرُونَ الآخِرَةَ } .</p>
<p>“Maksudnya adalah kecintaan yang banyak dan sangat, dan ini sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>:</p>
<p class="arab">بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى</p>
<p>Artinya: <em>“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi”. “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”.</em> (QS. Al A’la: 6-7).</p>
<p class="arab">كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ (20) وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ (21) [القيامة: 20، 21]</p>
<p> </p>
<p><em>“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia. Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.”</em> (QS. Al Qiyamah: 20-21). Lihat kitab <em>Taisir Al Karim Ar Rahman</em> di dalam tafsir surat Al fajr: 20.</p>
<p> </p>
<p>Lihatlah  ayat-ayat di atas, bagaimana ketamakan dan kerakusan manusia terhadap  harta yang akhirnya, dia lebih mendahulukan dunia yang tidak baik dan  tidak kekal, meninggalkan akhirat yang lebih baik dan lebih kekal.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<ol>
<li>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</li>
</ol>
<p class="arab">وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ [العاديات: 8]</p>
<p>Artinya: <strong><em>“</em></strong><em>Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta”<strong>.</strong></em> (QS. Al‘Adiyat: 8).</p>
<p>Ibnu Katsir berkata<em> rahimahullah</em>,</p>
<p class="arab">وقوله:  { وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ } أي: وإنه لحب الخير -وهو:  المال-لشديد. وفيه مذهبان: أحدهما: أن المعنى: وإنه لشديد المحبة للمال.  والثاني: وإنه لحريص بخيل؛ من محبة المال. وكلاهما صحيح.</p>
<p>“Maksudnya  adalah dan dia sungguh sangat menyukai kebaikan yang maksudnya adalah  harta, di dalam tafsiran ini terdapat dua makna; <strong>yang pertama: </strong>maknanya adalah dia sangat cinta terhadap harta, dan <strong>yang kedua</strong>: maknanya adalah dia sangat tamak dan bakhil karena kecintaan terhadap harta. Dan kedua pendapat ini benar”<strong>.</strong> Lihat <em>Tafsir Ibnu Katsir </em>dalam ayat ini.</p>
<p>Satu lagi penjelasan menarik tentang kerakusan dan ketamakan manusia terhadap harta…</p>
<p>As Sa’dy <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p class="arab">وحبه  لذلك، هو الذي أوجب له ترك الحقوق الواجبة عليه، قدم شهوة نفسه على حق  ربه، وكل هذا لأنه قصر نظره على هذه الدار، وغفل عن الآخرة،</p>
<p>Artinya:  “Kecintaan manusia akan (harta) itulah yang menjadikannya harus  meninggalkan perkara-perkara yang diwajibkan atasnya, yang menyebabkan  dia mendahulukan hawa nafsunya daripada hak Rabbnya, dan semuanya ini  karena pandangannya hanya  terpaku pada dunia ini dan melupakan  kehidupan akhirat”<strong>.</strong> Lihat kitab <em>Taisir Al Karim Ar Rahman</em> di dalam ayat ini.</p>
<p class="arab">أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ  [التكاثر: 1 ]</p>
<p>Artinya: <em>“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian”.</em> (QS. At Takatsur: 1).</p>
<p>Al Hasan Al Bashry <em>rahimahullah</em> berkata, “Bermegah-megahan di dalam harta dan keturunan telah melalaikan kalian”. Lihat <em>Tafsir Ibnu Katsir </em>di dalam ayat ini.</p>
<p>Saudaraku pembaca…</p>
<p>Mari perhatikan hadis berikut bagaimana terlihat sekali tabiat manusia yang sangat rakus dan tamak terhadap harta.</p>
<ol>
<li>Hadis Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</li>
</ol>
<p class="arab">عَنْ  عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – يَقُولُ  سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لَوْ كَانَ لاِبْنِ  آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ  ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ » .</p>
<p>Artinya: “Abdullah bin Abbas <em>radhiallahu</em> ‘anhuma berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “<em>Jikalau  anak Adam mempunyai dua lembah dari harta pasti menginginkan yang  ketiga, padahal tidaklah mengisi mulut anak Adam melainkan tanah, dan  Allah akan memberikan taubat atas orang yang bertaubat”.</em> (HR. Bukhari).</p>
<p>Tamak dan rakus …!!! Sudah punya 2 masih ingin yang ketiga!</p>
<p>Tamak dan rakus …!!! Sudah punya jutaan masih ingin milyaran!</p>
<p>Tamak dan rakus …!!! Sudah punya milyaran masih ingin triyunan!</p>
<p>Padahal kalau sudah mati, dikubur, tidak ada yang mengisi mulutnya kecuali tanah kuburannya.</p>
<p>Bagi siapa pun yang sekarang menipu, berbuat makar, mengoplos barang dan perbuatan apapun yang merugikan orang lain…</p>
<p>Semoga setelah ini Anda mengetahui bahwa fungsi harta bagi manusia, hanya ada 3:</p>
<p class="arab">عَنْ  مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم-  وَهُوَ يَقْرَأُ (أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ) قَالَ « يَقُولُ ابْنُ آدَمَ  مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ  مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ  فَأَمْضَيْتَ ». صحيح مسلم – م (8/ 211)</p>
<p>Artinya: “Mutharrif mendapatkan riwayat dari bapaknya <em>radhiallahu</em> ‘<em>anhu</em>, beliau berkata: “Aku pernah menemui Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika sedang membaca surat (أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ) , beliau bersabda, <em>“Anak manusia mengucapkan, ‘Hartaku, hartaku’,</em> kemudaian beliau bersabda, <em>“Wahai  anak manusia, Apakah kamu memiliki dari hartamu melainkan yang kamu  telah makan lalu habis, atau yang kamu telah pakai lalu rusak, atau yang  telah kamu sedekahkan maka itu yang tersisa”.</em>  (HR. Muslim).</p>
<p>Dalam riwayat muslim yang lain ada tambahan sebagai penjelas, setalah Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menjelasakan tiga fungsi harta tadi, belaiu bersabda,</p>
<p class="arab">« وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ ».</p>
<p>Artinya: <em>“Dan selain itu maka dia akan sirna dan dia tinggalkan untuk manusia”.</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Disebutkan oleh Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> sebuah cerita yang beliau nukilkan dari Al Hafizh Ibnu ‘Asakir <em>rahimahullah</em>, ketika menuliskan biografi Al Ahnaf bin Qais,</p>
<p>Disebutkan  bahwa beliau melihat seorang lelaki yang memegang perak, beliau  bertanya, “Milik siapa perak ini?”,  lelaki ini menjawab, “(ini)  Milikku”, beliau berkata:</p>
<p class="arab">إنما هو لك إذا أنفقته في أجر أو ابتغاء شكر</p>
<p>“Sesungguhnya  perak itu milikmu jika kamu menafkahkannya kerna berharap pahala atau  mencari kesyukuran”, kemudian Al Ahnaf menyebutkan sebuah syair:</p>
<p class="arab">أنتَ للمال إذا أمسكتَه … فإذا أنفقتَه فالمالُ لَكْ …</p>
<p>“Kamu dimiliki oleh harta jika kamu menyimpanny, tetapi jika kamu menafkahkannya maka harta itu milikmu”.</p>
<p> </p>
<p>Tua-tua Keladi, semakin tua semakin menjadi rakus dan tamaknya terhadap harta.</p>
<p>Dalam  arti lain, kerakusan dan ketamakan terhadap harta tidak termakan oleh  zaman, mau ubanan-kah, bungkuk badan-kah… pokoknya tetap oplos, tetap  menipu, membuat makar yang penting harta, harta, dan harta.</p>
<p>Mari perhatikan saudaraku pembaca…</p>
<ol>
<li>Sabda Nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em>
</li>
</ol>
<p class="arab">عَنْ  أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَهْرَمُ  ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ  وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ »</p>
<p>Artinya: “Anas bin Malik <em>radhiallahu</em> ‘<em>anhu</em> meriwayatkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Anak manusia akan menua tetapi bertambah kuat darinya dua perkara; ketamakan terhadap harta dan keinginan panjang  umur</em>”.<strong> (</strong>HR. Muslim).</p>
<p>Saudaraku pembaca…</p>
<p>Karena  kerakusan dan ketamakan terhadap harta, 1 manusia bisa lebih ganas  daripada 2 serigala yang lagi lapar yang dilepas pada sebuh kambing!!!</p>
<p>Mari perhatikan…</p>
<ol>
<li>Hadis Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</li>
</ol>
<p class="arab">عَنِ  ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الأَنْصَارِىِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ  رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ  أُرْسِلاَ فِى غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى  الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ ».</p>
<p>Artinya: “Ibnu Ka’ab bin Malik Al Anshary meriwayatkan dari <em>bapaknya  radhiallahu ‘anhu,</em> beliau berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘<em>Tidaklah  dua serigala lapar dilepas pada seekor kambing, lebih merusak  dibandingkan tamaknya seseorang terhadap harta dan kedudukan yang bisa  merusak agamanya’.”<strong> </strong></em><strong>(</strong>HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam <em>Shahih At Targhib wa At Tarhib</em>, no. 3250).</p>
<p>Makna  Hadis: Ketamakan dan kerakusan terhadap harta dan kedudukan lebih  merusak agama seseorang daripada kerusakan dan keganasan dua ekor  serigala yang lagi lapar yang dilepas pada seekor kambing.</p>
<p>Saudaraku pembaca…</p>
<p>Akhirnya  setelah ini semua, kita mengetahui bahwa penyebab seorang melakukan  oplos, tipuan dalam barang dangannya, makar dalam jual belinya dan  sebagainya yang merugikan orang banyak terutama kaum muslim.</p>
<p>Penyebabnya yaitu <strong>ketamakan dan kerakusan manusia terhadap</strong>.</p>
<p>Maka tidak heran kalau seorang berkata, “<strong>Nyari yang haram aja susah, apa lagi yang halal</strong>”.</p>
<p>Maka  tidak heran kalau seorang berkata, “Yang halal ada ditangan saya  sedangkan yang haram yang bukan di tangan saya, dengan cara apapun saya  mendapatkannya”.</p>
<p>Akhirnya segala cara dihalalkan, mau oplos,  menipu, membohongi, memalsukan atau cara apapun yang merugikan orang  banyak terutama kaum muslim.</p>
<p>Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">عَنْ  أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم –  قَالَ « يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ ، لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ مَا  أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلاَلِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ » .</p>
<p>Artinya: Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <strong><em>“</em></strong><em>Akan datang pada manusia suatu masa, seseorang tidak memperhatikan apa yang dia ambil, apakah dari yang halal atau yang haram”.<strong> </strong></em><strong>(</strong>HR. Bukhari).</p>
<p>Di dalam riwayat Imam Ahmad dengan lafazh yang lain ada baiknya kit abaca agar lebih jelas:</p>
<p class="arab">عَنْ  أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «  لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ  مِنَ الْمَالِ بِحَلاَلٍ أَوْ بِحَرَامٍ ».</p>
<p>Artinya: Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sungguh  akan benar-benar datang pada manusia suatu zaman, seseorang tidak  memperhatikan dengan apa yang diambil, dengan (cara) yang halal atau  dengan (cara) yang haram”.</em> (HR. Ahmad).</p>
<p><strong>Dua hadis di atas adalah kabar dari Rasulullah <em>shallalahu ‘alaihi wasallam</em> atas perkara yang akan terjadi dan pada saat yang bersamaan juga sebagai bentuk celaan dan peringatan keras dari beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> agar umatnya tidak melakukannya.</strong></p>
<p>Saudaraku pembaca…</p>
<p>Semoga  bisa dipahami dan diamalkan serta jangan lagi mengoplos kalau sudah  mengoplos atau tidak jadi mengoplos jika baru punya niat mengoplos.</p>
<p>Bersambung insyaAllah…</p>
<p><strong>“Ancaman bagi para pengoplos, penipu, dan pembuat makar!!!” </strong></p>
<p>Ditulis oleh Ahmad Zainuddin</p>
<p>Jumat 5 Shafar 1433H, Dammam KSA.</p>
<p>Artikel www.PengusahaMuslim.com</p>
<p> </p>
 