
<p>Apakah air mani itu suci?</p>
<p>Mani atau cairan semen adalah cairan yang keluar ketika mimpi basah atau berhubungan intim. Ciri-ciri mani adalah warnanya keruh, memiliki bau yang khas, keluar dengan syahwat, keluar dengan memancar dan membuat lemas. Bedanya madzi dan mani, madzi adalah cairan tipis dan putih, keluar tanpa syahwat, tanpa memancar, tidak membuat lemas dan keluar ketika muqoddimah hubungan intim. Madzi itu najis, sedangkan mengenai status mani apakah najis ataukah suci terdapat perselisihan di kalangan ulama.</p>
<p>Ada yang mengatakan bahwa mani itu najis seperti Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dalil ulama yang menyatakan bahwa mani itu najis adalah riwayat dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha,</em> beliau berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَغْسِلُ الْمَنِىَّ ثُمَّ يَخْرُجُ إِلَى الصَّلاَةِ فِى ذَلِكَ الثَّوْبِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى أَثَرِ الْغَسْلِ فِيهِ</span></p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa mencuci bekas mani (pada pakaiannya) kemudian beliau keluar untuk melaksanakan shalat dengan pakaian tersebut. Aku pun melihat pada pakaian beliau bekas dari mani yang dicuci tadi.”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Sedangkan ulama lainnya menganggap bahwa mani itu suci. Ulama yang berpendapat seperti ini adalah para pakar hadits, Imam Asy Syafi’i, Daud Azh Zhohiri, dan salah satu pendapat Imam Ahmad.<a href="#_ftn3">[3]</a> Dalil yang mendukung pendapat kedua ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa ‘Aisyah pernah mengerik pakaian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>yang terkena mani. ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> mengatakan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">كُنْتُ أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه</span></p>
<p>“<em>Aku pernah mengerik mani tersebut dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Dalam lafazh lainnya, dari ‘Alqomah dan Al Aswad, mereka mengatakan,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">أَنَّ رَجُلاً نَزَلَ بِعَائِشَةَ فَأَصْبَحَ يَغْسِلُ ثَوْبَهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ إِنَّمَا كَانَ يُجْزِئُكَ إِنْ رَأَيْتَهُ أَنْ تَغْسِلَ مَكَانَهُ فَإِنْ لَمْ تَرَ نَضَحْتَ حَوْلَهُ وَلَقَدْ رَأَيْتُنِى أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرْكًا فَيُصَلِّى فِيهِ.</span></p>
<p>“Ada seorang pria menemui ‘Aisyah dan di pagi hari ia telah mencuci pakaiannya (yang terkena mani). Kemudian ‘Aisyah mengatakan, “Cukup bagimu jika engkau melihat ada mani, engkau cuci bagian yang terkena mani. Jika engkau tidak melihatnya, maka percikilah daerah di sekitar bagian tersebut. Sungguh aku sendiri pernah mengerik mani dari pakaian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>kemudian beliau shalat dengan pakaian tersebut.”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Penulis <em>Kifayatul Akhyar</em>, Taqiyuddin Abu Bakr Ad Dimaysqi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Seandainya mani itu najis, maka tidak cukup hanya dikerik (dengan kuku) sebagaimana darah (haidh) dan lainnya. Sedangkan riwayat yang menyatakan bahwa mani tersebut dibersihkan dengan dicuci, maka ini hanya menunjukkan anjuran dan pilihan dalam mensucikan mani tersebut. Inilah cara mengkompromikan dua dalil di atas. Dan menurut ulama Syafi’iyah, hal ini berlaku untuk mani yang ada pada pria maupun wanita, tidak ada beda antara keduanya.”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menjelaskan, “Sudah maklum bahwa para sahabat pasti pernah mengalami mimpi basah di masa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em>Pasti pula mani tersebut mengenai badan dan pakaian salah seorang di antara mereka. Ini semua sudah diketahui secara pasti. Seandainya mani itu najis, maka tentu wajib bagi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memerintahkan mereka untuk menghilangkan mani tersebut dari badan dan pakaian mereka sebagaimana halnya perintah beliau untuk beristinja’ (membersihkan diri selepas buang air), begitu pula sebagaimana beliau memerintahkan untuk mencuci darah haidh dari pakaian, bahkan terkena mani lebih sering terjadi daripada haidh. Sudah maklum pula bahwa tidak ada seorang pun yang menukil kalau Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa salam </em>memerintahkan salah seorang sahabat untuk mencuci mani yang mengenai badan atau pakaiannya. Dari sini, diketahui dengan yakin bahwa mencuci mani tersebut tidaklah wajib bagi para sahabat. Inilah penjelasan yang gamblang bagi yang ingin merenungkannya.”<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Yang dimaksud dengan mengerik di sini adalah menggosok dengan menggunakan kuku atau pengerik lainnya.<a href="#_ftn8">[8]</a> Seseorang bisa membersihkan badan atau pakaian yang terkena mani dengan cara mengerik jika mani tersebut dalam keadaan kering. Dan jika hanya dikerik masih banyak tersisa, maka lebih baik dengan dicuci.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Ringkasnya, mani itu suci. Inilah pendapat yang lebih kuat.</p>
<p><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id" target="_blank" rel="noopener">www.muslim.or.id</a>, dipublish ulang oleh <a href="undefined/" target="_blank" rel="noopener">https://rumaysho.com</a></p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca Juga:</span></strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/29157-ketika-bangun-tidur-celana-basah-dan-tidak-terasa-keluar-mani-apakah-wajib-mandi-junub.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketika Bangun Tidur, Celana Basah dan Tidak Terasa Keluar Mani, Apakah Wajib Mandi Junub?</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/19540-faedah-surat-yasin-manusia-dari-air-mani.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Faedah Surat Yasin: Manusia dari Air Mani</strong></span></a></li>
</ul>
<hr>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, Abu Malik Kamal bin As Sayid Saalim, 1/74, Al Maktabah At Taufiqiyah; <em>Kifayatul Akhyar</em> <em>fii Halli Ghoyatil Ikhtishor</em>, Al Imam Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad Al Husaini Ad Dimasyqi,  1/ 69, Darul Fikr, cetakan pertama, tahun 1424 H; dan <em>Majmu’ Al Fatawa</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 21/604, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Muslim no. 289, dari Sulaiman bin Yasar.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/75, <em>Kifayatul Akhyar</em>, 1/69-70 dan <em>Majmu’ Al Fatawa</em>, 21/604.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HR. Muslim no. 288.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> HR. Muslim no. 288.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Kifayatul Akhyar</em>, 1/70.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> <em>Majmu’ Al Fatawa</em>, 21/604-605.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat <em>Fathu Dzil Jalaali wal Ikrom Syarh Bulughil Marom</em>, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 1/208, Madarul Wathon, cetakan pertama, tahun 1425 H</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Lihat <em>Fathu Dzil Jalaali wal Ikrom Syarh Bulughil Marom</em>, 1/211.</p>
 