
<p>Menikah adalah salah satu fase yang indah bagi setiap muslim dan muslimah yang mendambakan rumah tangga penuh cinta dan keberkahan</p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Keutamaan besar dari sebuah ikatan pernikahan</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">telah menganjurkan pernikahan dan menjanjikan kecukupan bagi orang yang menikah. Janganlah kita takut untuk menikah hanya karena khawatir miskin. Karena Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Nikahkan orang-orang yang sendirian di antara kamu dan hamba-hamba sahayamu, laki-laki atau perempuan, yang shalih dan telah pantas menikah. </span><b>Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka kaya dengan karunia-Nya. </b><span style="font-weight: 400;">Allah itu Mahaluas pemberian-Nya dan Dia Maha Mengetahui.”</span> <b>(QS. An-Nuur [24]: 32)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>التمسوا الغنى في النكاح، وتلا هذه الآية.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Carilah kecukupan dengan menikah.” Kemudian beliau pun membacakan ayat ini. </span><b>(</b><b><i>Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, </i></b><b>12: 241)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Qurthubi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وهذا وعد بالغنى للمتزوجين طلب رضا الله واعتصاما من معاصيه</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Janji ini hanya ditujukan kepada orang yang hendak menikah untuk mendulang ridha Allah dan melindungi diri dari maksiat.”  </span><b>(</b><b><i>Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, </i></b><b>12: 241)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Umar bin Al-Khaththab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ’anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>عجبي ممن لا يطلب الغنى في النكاح، وقد قال الله تعالى: إن يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله.</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Aku heran terhadap orang yang tidak mencari kekayaan lewat pernikahan. Padahal Allah telah berfirman yang artinya,’Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka kaya dengan karunia-Nya’.”</span> <b>(</b><b><i>Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, </i></b><b>12: 241)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita harus memiliki keyakinan bahwa Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">akan menolong kita ketika kita hendak menikah dengan niat menjaga kehormatan diri kita dari fitnah. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ثَلَاثٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُ: الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَالنَّاكِحُ الْمُسْتَعْفِفُ، وَالْمُكَاتَبُ يُرِيدُ الْأَدَاءَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Ada tiga kelompok manusia yang pasti ditolong oleh Allah: (1) mujahid di jalan Allah; (2) pemuda yang menikah untuk menjaga kehormatan diri; dan (3) budak yang berusaha memerdekakan diri (agar lebih leluasa beribadah).”</span> <b>(HR. Ahmad no. 7416. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menilai bahwa sanad hadits ini kuat)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/38410-mahar-berlebihan-dan-membebani-akan-mengurangi-keberkahan-pernikahan.html" data-darkreader-inline-color="">Mahar Berlebihan &amp; Membebani akan Mengurangi Keberkahan Pernikahan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kaum laki-laki diciptakan lemah ketika menghadapi fitnah wanita</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sungguh kaum laki-laki itu diciptakan lemah ketika menghadapi wanita. Allah Ta’al</span><i><span style="font-weight: 400;">a </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”</span> <b>(QS. An-Nisaa’ [4] : 28)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> Ibnu Katsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengutip perkataan Thawus </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkaitan dengan ayat tersebut,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أي: في أمر النساء</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Yaitu dalam urusan-urusan wanita.” </span><b>(</b><b><i>Tafsiirul Qur’anil ’Adziim, </i></b><b>2: 267) </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al-Jalalain </span></i><span style="font-weight: 400;">disebutkan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَا يَصْبِر عن النساء والشهوات</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(Yaitu bahwa manusia) tidak bisa bersabar berkaitan dengan (fitnah) wanita dan fitnah syahwat.” </span><b>(</b><b><i>Tafsir Al-Jalalain, </i></b><b>1: 105)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal Rasulullah telah mengabarkan bahwa wanita adalah fitnah yang paling berbahaya bagi lelaki. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Aku tidak meninggalkan sepeninggalku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi lelaki melebihi fitnah wanita.”</span> <b>(HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">juga bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat apa yang kalian perbuat. Oleh karena itu, hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita. Sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Israil adalah berkenaan dengan wanita.”</span> <b>(HR. Muslim no. 2742)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/22305-fatwa-ulama-berzina-lalu-menikah-sahkah-pernikahannya.html" data-darkreader-inline-color="">Berzina Lalu Menikah, Sahkah Pernikahannya?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kondisi fitnah zaman ini</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu pada zaman sekarang ini, ketika fitnah wanita sangat dahsyat menggoda, sangatlah dianjurkan untuk segera menikah. Karena hal itu merupakan benteng pertahanan sehingga kita lebih mampu untuk menahan pandangan dan memelihara kemaluan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah pun memerintahkan para pemuda untuk segera menikah. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena menikah itu lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan siapa saja yang belum mampu menikah, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesuangguhnya puasa itu bisa berfungsi sebagai tameng.” </span><b>(HR. Bukhari no. 5066 dan Muslim no. 1400)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sampai-sampai Imam Ahmad </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan, “Sepatutnya orang di zaman sekarang (pada zaman Imam Ahmad, pent.) untuk mencari hutang untuk menikah, supaya dia tidak memandang hal-hal yang tidak halal sehingga amal shalih yang dilakukan menjadi sia-sia.”</span> <b>(</b><b><i>Ta’zhim As-Sunnah,</i></b><b> hal. 23)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika demikian di zaman Imam Ahmad </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">, bagaimana lagi dengan zaman sekarang ini?!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menikah merupakan suatu ibadah yang sangat agung. Bahkan karena sangat agungnya, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menganggapnya sebagai separuh agama. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Jika seseorang telah menikah, dia telah melengkapi separuh agamanya. Hendaknya dia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang lain.” </span><b>(HR. Al-Baihaqi dan Hakim. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam </b><b><i>Silsilah Ash-Shahihah </i></b><b>no. 625)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/18781-pernikahan-rasulullah-dengan-khadijah-radhiallahuanha.html" data-darkreader-inline-color="">Pernikahan Rasulullah Dengan Khadijah Radhiallahu’anha</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/52497-pemimpin-rumah-tangga-1.html" data-darkreader-inline-color="">Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 3 Jumadil awwal 1441/ 29 Desember 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 