
<p>Masjid adalah rumah Allah yang berada di atas bumi. Memiliki kedudukan yang agung di mata kaum muslimin karena menjadi tempat bersatunya mereka ketika shalat berjamaah dan kegiatan beribadah lainnya. Umat Islam senantiasa akan mulia manakala kembali memakmurkan masjid seperti halnya generasi salaf dahulu.</p>
<p>Sebagai rumah dari rumah-rumah Allah <em>Ta’ala</em> yang mempunyai peranan vital, ada beberapa etika yang telah digariskan oleh Islam ketika berada di dalamnya. Antara lain :</p>
<h4>1. Mengikhlaskan Niat Kepada Allah <em>Ta’ala</em>
</h4>
<p>Hendaknya seseorang yang ingin ke masjid mengikhlaskan niatnya sehingga Allah <em>Ta’ala</em> menerima ibadah yang ia lakukan di masjid. Hendaknya ia mendatangi masjid untuk menunaikan tugas seorang hamba yaitu beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> tanpa dilandasi rasa ingin dipuji manusia atau ingin dilihat oleh masyarakat. Karena sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dari niatnya.</p>
<h4>2. Berpakaian Indah Ketika Hendak Menuju Masjid</h4>
<p>Sebagaimana perintah Allah <em>Ta’ala</em> dalam firman-Nya:</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ</p>
<p>“<em>Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid” </em>[1]
</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah</em> berkata, “dalam ayat ini, Allah tidak hanya memerintahkan hambanya untuk menutup aurat, akan tetapi mereka diperintahkan pula untuk memakai perhiasan. Oleh karena itu hendaklah mereka memakai pakaian yang paling bagus ketika shalat” [2].</p>
<p>Dan dijelaskan dalam kitab tafsir karangan Imam Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em>, “berlandaskan ayat ini dan ayat yang semisalnya disunahkan berhias ketika akan shalat, lebih-lebih ketika hari Jumat dan hari raya. Termasuk perhiasan yaitu siwak dan parfum” [3].</p>
<h4>3. Menghindari Makanan Tidak Sedap Baunya</h4>
<p>Maksudnya adalah larangan bagi seseorang yang makan makanan yang tidak sedap baunya, seperti mengonsumsi makanan yang menyebabkan mulut berbau, seperti bawang putih, bawang merah, jengkol, pete, dan termasuk juga merokok atau yang lainnya untuk menghadiri shalat jamaah, berdasarkan hadis,</p>
<p>Dari Jabir <em>radhiallahu’anhu</em> bahwasanya Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda, “<em>Barang siapa yang memakan dari tanaman ini (sejenis bawang dan semisalnya), maka janganlah ia mendekati masjid kami, karena sesungguhnya malaikat   terganggu   dengan   bau   tersebut, sebagaimana manusia</em>”[4].</p>
<p>Juga hadis Jabir, bahwa Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">مَنْ أَكَلَ ثَوْمًا أَوْبَصَلاً فًلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ قَالَ فَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ فيِ بَيْتِهِ</p>
<p>“<em>Barang siapa yang makan bawang putih atau bawang merah maka hendaklah menjauhi kita</em>”, atau bersabda, “<em>Maka hendaklah dia menjauhi masjid kami dan hendaklah dia duduk di rumahnya</em>”[5].</p>
<p>Hadis tersebut bisa dibawa ke persamaan kepada segala sesuatu yang berbau tidak sedap yang bisa menganggu orang yang sedang shalat atau yang sedang beribadah lainnya. Namun jika seseorang sebelum ke masjid memakai sesuatu yang bisa mencegah bau yang tidak sedap tersebut dari dirinya seperti memakai pasta gigi dan lainnya, maka tidak ada larangan baginya setelah itu untuk menghadiri masjid.</p>
<h4>4. Bersegera Menuju Rumah Allah <em>Ta’ala</em>
</h4>
<p>Bersegera menuju masjid merupakan salah satu ciri dari semangat seorang muslim untuk melakukan ibadah. Jika waktu shalat telah tiba, hendaklah kita bersegera menuju masjid karena di dalamnya terdapat ganjaran yang amat besar, berdasarkan hadis:</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu’anhu</em> bahwasanya Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda, “<em>Seandainya manusia mengetahui keutamaan shaf pertama, dan tidaklah mereka bisa mendapatinya kecuali dengan berundi niscaya mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui keutamaan bersegera menuju masjid niscaya mereka akan berlomba-lomba</em>”[6].</p>
<p>Jangan sampai kita menyepelekan dan menunda-nunda waktu untuk sesegera mungkin menuju masjid. Hendaknya selalu bersemangat dalam menghidupkan masjid dan mengisinya dengan amalan-amalan ibadah lainnya.</p>
<h4>5. Berjalan Menuju Masjid Dengan Tenang dan Sopan</h4>
<p>Hendaknya berjalan menuju shalat dengan khusyuk, tenang, dan tentram. Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> melarang umatnya berjalan menuju shalat secara tergesa-gesa walaupun shalat sudah didirikan. Abu Qatadah <em>radhiallahu’anhu</em> berkata, “Saat kami sedang shalat bersama Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, tiba-tiba beliau mendengar suara kegaduhan beberapa orang. Sesudah menunaikan shalat beliau mengingatkan,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">مَا شَأْنُكُم؟ قَالُوْا: اِسْتَعْجَلْنَا إِلىَ الصَّلاَةِ. فَقَالَ: فَلاَ تَفْعَلُوْا, إِذَا أَتَيْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَعَلَيْكُمْ بِاالسَّكِيْنَةِ  فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا</p>
<p>“<em>Apa yang terjadi pada kalian?” Mereka menjawab, “Kami tergesa-gesa menuju shalat.” Rasulullah menegur mereka, “Janganlah kalian lakukan hal itu. Apabila kalian mendatangi shalat maka hendaklah berjalan dengan tenang, dan rakaat yang kalian dapatkan shalatlah dan rakaat yang terlewat sempurnakanlah</em>”[7]
</p>
<h4>6. Adab Bagi Wanita [8]</h4>
<p>Tidak terlarang bagi seorang wanita untuk pergi ke masjid. Namun rumah-rumah mereka lebih baik Jika seorang wanita hendak pergi ke masjid, ada beberapa adab khusus yang perlu diperhatikan:</p>
<ol>
<li>Meminta izin kepada suami atau mahramnya</li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Tidak menimbulkan fitnah</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Menutup aurat secara lengkap</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Tidak berhias dan memakai parfum</span></li>
</ol>
<p>Perbuatan kaum wanita yang memakai parfum hingga tercium baunya dapat menimbulkan fitnah, sebagaimana sabda Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, “<em>Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluiar menuju masjid, maka tidak akan diterima shalatnya sehingga ia mandi</em>” [9]
</p>
<p>Abu Musa <em>radhiallahu’anhu</em> meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِىَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِى زَانِيَةً</p>
<p>“<em>Setiap mata berzina dan seorang wanita jika memakai minyak wangi lalu lewat di sebuah majelis (perkumpulan), maka dia adalah wanita yang begini, begini, yaitu seorang wanita pezina</em>”[10].</p>
<h4>7. Ketika Masuk Masjid Berdoa dan Mendahulukan Kaki Kanan</h4>
<p>Hendaklah orang yang keluar dari rumahnya membaca doa,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ</p>
<p>“<em>Dengan menyebut nama Allah aku bertawakal kepada-Nya, tidak ada daya dan upaya selain dari Allah semata</em>”[11].</p>
<p>Kemudian ketika berjalan menuju masjid hendaklah berdoa,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا</p>
<p>“<em>Yaa Allah… berilah cahaya di hatiku, di penglihatanku dan di pendengaranku, berilah cahaya di sisi kananku dan di sisi kiriku, berilah cahaya di atasku, di bawahku, di depanku dan di belakangku, Yaa Allah berilah aku cahaya</em>”[12].</p>
<h4>8. Shalat Tahiyatul Masjid</h4>
<p>Di antara adab ketika memasuki masjid adalah melaksanakan shalat dua rakaat sebelum duduk. Shalat ini diistilahkan para ulama dengan shalat tahiyatul masjid. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِ</p>
<p>“<em>Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk</em>” [13]
</p>
<p>Yang dimaksud dengan tahiyatul masjid adalah shalat dua rakaat sebelum duduk di dalam masjid. Tujuan ini sudah tercapai dengan shalat apa saja yang dikerjakan sebelum duduk. Oleh karena itu, shalat sunnah wudhu, shalat sunnah rawatib, bahkan shalat wajib, semuanya merupakan tahiyatul masjid jika dikerjakan sebelum duduk. Merupakan suatu hal yang keliru jika tahiyatul masjid diniatkan tersendiri, karena pada hakikatnya tidak ada dalam hadis ada shalat yang namanya ‘tahiyatul masjid’. Akan tetapi ini hanyalah penamaan ulama untuk shalat dua rakaat sebelum duduk. Karenanya jika seorang masuk masjid setelah adzan lalu shalat qabliah atau sunah wudhu, maka itulah tahiyatul masjid baginya. Syariat ini berlaku untuk laki-laki maupun wanita. Hanya saja para ulama mengecualikan darinya khatib jumat, di mana tidak ada satupun dalil yang menunjukkan bahwa Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> shalat tahiyatul masjid sebelum khutbah. Akan tetapi beliau datang dan langsung naik ke mimbar. Syariat ini juga berlaku untuk semua masjid, termasuk masjidil haram. Tahiyatul masjid disyariatkan pada setiap waktu seseorang itu masuk masjid dan ingin duduk di dalamnya. Termasuk di dalamnya waktu-waktu yang terlarang untuk shalat, menurut sebagian pendapat kalangan ulama[14].</p>
<h4>9. Mengagungkan Masjid</h4>
<p>Bentuk pengagungan terhadap masjid berupa hendaknya seseorang tidak bersuara dengan suara yang tinggi, bermain-main, duduk dengan tidak sopan, atau meremehkan masjid. Hendaknya juga ia tidak duduk kecuali sudah dalam keadaan berwudhu untuk mengagungkan rumah Allah <em>Ta’ala</em> dan syariat-syariat-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p>“<em>Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati</em>” [15].</p>
<h4>10. Menuggu Ditegakkannya Shalat Dengan Berdoa Dan Berdzikir</h4>
<p>Imam Ibnu Qudamah <em>rahimahullah</em> berkata, “Setelah shalat dua rakaat hendaknya orang yang shalat untuk duduk menghadap kiblat dengan menyibukkan diri berdzikir kepada Allah, berdoa, membaca Alquran, atau diam dan janganlah ia membicarakan masalah duniawi belaka”[16].</p>
<p>Terdapat keutamaan yang besar bagi seorang yang duduk di masjid untuk menunggu shalat, berdasarkan sabda Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فيِ الصَّلاَةِ مَاكَانَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ واْلمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ أَحَدِكُمْ مَادَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلىَّ فِيْهِ يَقُوْلُوْنَ: اَللّهُمَّ ارْحَمْهُ الّلهُمَّ اغْفِرْ لَهُ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ</p>
<p>“<em>Apabila seseorang memasuki masjid, maka dia dihitung berada dalam shalat selama shalat tersebut yang menahannya (di dalam masjid), dan para malaikat berdoa kepada salah seorang di antara kalian selama dia berada pada tempat shalatnya, Mereka mengatakan, “Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadanya, ya Allah ampunilah dirinya selama dia tidak menyakiti orang lain dan tidak berhadats</em>”[17].</p>
<h4>11. Mengaitkan Hati Dengan Masjid [18]</h4>
<p>Berusaha untuk selalu mengaitkan hati dengan masjid dengan berusaha mendatangi ke masjid sebelum shalat, menunggu shalat dengan berdzikir dan beribadah, dan tidak buru-buru beranjak. Dan keutamaan inilah yang akan dinaungi oleh Allah <em>Ta’ala</em> ketika nanti tiada naungan selain naungan-Nya. Sebagaimana dalam hadis, “<em>Tujuh jenis orang yang Allah Ta’ala akan menaungi mereka pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya… dan laki-laki yang hatinya selalu terkait dengan masjid)</em>”19</p>
<h4>12. Anjuran Untuk Berpindah Tempat Ketika Merasa Ngantuk</h4>
<p>Sebagaimana sabda Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, “<em>Jika salah seorang di antara kalian mengantuk, saat berada di masjid, maka hendaknya ia berpindah dari tempat duduknya ke tempat lain</em>”[20].</p>
<h4>13. Anjuran Membuat Pintu Khusus untuk Wanita [21]</h4>
<p>Dianjurkan untuk membuat pintu khusus bagi wanita untuk menjaga agar mereka tidak bercampur baur dengan kaum pria. Karena akibat dari campur baurnya laki-laki dan perempuan amatlah besar. Dan keburukan seperti ini akan lebih berbahaya kalau dilakukan di rumah Allah <em>Ta’ala</em>. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> membimbing para shahabatnya dengan seraya bersabda, “<em>Alangkah baiknya jika kita biarkan pintu ini untuk kaum wanita</em>” [22].</p>
<h4>14. Dibolehkan Untuk Tidur Di Masjid</h4>
<p>Dibolehkan tidur di dalam masjid bagi orang yang membutuhkannya, semisal orang yang kemalaman atau yang tidak punya sanak famili dan lainnya. Dahulu para sahabat Ahli Suffah (orang yang tidak punya tempat tinggal), mereka tidur di dalam masjid[23].</p>
<p>AI-Hafidz Ibnu Hajar menegaskan bahwa bolehnya tidur di dalam masjid adalah pendapat jumhur ulama[24]. Dan dibolehkan juga tidur dengan terlentang. Berdasarkan riwayat:</p>
<p>Dari Abbad Bin Tamim dari pamannya bahwasanya dia melihat Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> tidur terlentang di dalam masjid dengan meletakkan salah satu kakinya di atas kakinya yang lain [25].</p>
<p>AI-Khattabi  berkata,  “Hadis ini  menunjukkan bolehnya bersandar, tiduran dan segala bentuk istirahat di dalam masjid”[26].</p>
<h4>15. Boleh Memakai Sandal Di Masjid</h4>
<p>Berkata Imam At-Thahawi, “Telah datang atsar-atsar yang mutawatir tentang shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memakai sandal di dalam masjid”[27].</p>
<p>Berdasarkan hadis dari Sa’id Bin Yazid,  bahwasanya dia bertanya kepada Anas bin Malik, “Apakah Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> shalat memakai kedua sandalnya?” Anas menjawab: “Ya”[28].</p>
<p>Imam Nawawi berkata, “Hadis ini menunjukkan bolehnya shalat memakai sandal selama tidak terkena najis”[29].</p>
<h4>16. Boleh Makan Dan Minum Di Masjid</h4>
<p>Makan dan minum di dalam masjid dibolehkan asal tidak mengotori masjidnya. Berdasarkan hadis dari Abdullah bin Harits <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dia berkata, “<em>Kami makan daging bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam masjid</em>”[30].</p>
<h4>17. Boleh Membawa Anak Kecil Ke Masjid</h4>
<p>Dari Abu Qotadah <em>radhiallahu’anhu</em> dia berkata, “Suatu ketika Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>  keluar (untuk shalat-pent) dengan menggendong Umamah Binti Abil ‘Ash, kemudian beliau shalat. Apabila rukuk beliau menurunkannya, dan apabila bangkit beliau menggendongnya kembali”[31].</p>
<p>Imam Al-’Aini <em>rahimahullah</em> berkata, “Hadits ini menunjukkan bolehnya membawa anak kecil kedalam masjid”[32].<br>
Adapun hadits yang berbunyi, “<em>Jauhkanlah anak-anak kalian dari masjid</em>,” adalah hadits yang <em>dhaif</em> (lemah), didaifkan oleh Ibnu Hajar, Ibnu Katsir, Ibnu Jauzi, AI-Mundziri, dan lainnya [33].</p>
<h4>18. Menjaga dari Ucapan yang Jorok dan Tidak Layak di Masjid</h4>
<p>Tempat yang suci tentu tidak pantas kecuali untuk ucapan-ucapan yang suci dan terpuji pula. Oleh karena itu, tidak boleh bertengkar, berteriak-teriak, melantunkan syair yang tidak baik di masjid, dan yang semisalnya. Demikian pula dilarang berjual beli di dalam masjid dan mengumumkan barang yang hilang. Nabi  bersabda (yang artinya), “Apabila kamu melihat orang menjual atau membeli di masjid maka katakanlah, ‘Semoga Allah tidak memberi keberuntungan dalam jual belimu!’ Dan apabila kamu melihat ada orang yang mengeraskan suara di dalam masjid untuk mencari barang yang hilang, katakanlah, ‘Semoga Allah  tidak mengembalikannya kepadamu’. 34</p>
<h4>19. Dilarang bermain-main di masjid selain permainan yang mengandung bentuk melatih ketangkasan dalam perang. [35]</h4>
<p>Hal ini sebagaimana dahulu orang-orang Habasyah bermain perang-perangan di masjid dan tidak dilarang oleh Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> [36].</p>
<h4>20. Tidak Menjadikan Masjid Sebagai Tempat Lalu Lalang [37]</h4>
<p>Tidak sepatutnya seorang muslim berlalu di dalam masjid untuk suatu kepentingan tanpa mengerjakan shalat dua rakaat. Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda, ”<em>Di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah seorang melewati masjid namun tidak mengerjakan shalat dua rakaat di dalamnya dan seseorang tidak memberikan salam kecuali kepada orang yang dikenalnya)</em>”[38].</p>
<h4>21. Tidak menghias masjid secara berlebihan</h4>
<p>Di antara kesalahan yang terjadi di masjid adalah menghiasi masjid dan memahatnya secara berlebihan, berdasarkan hadis Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">إِذَا زَوَّقْتُمْ مَسَاجِدَكُمْ وَحَلَّيْتُمْ مَصَاحِفَكُمْ فَالدَّمَارُ عَلَيْكُمْ</p>
<p>“<em>Apabila kalian telah memperindah masjid kalian dan menghiasi mushaf-mushafmu maka kehancuran telah menimpa kalian</em>”[39]. Dalam riwayat lain disebutkan Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهىَ النَّاسُ فِي اْلمَسَاجِدِ</p>
<p>“<em>Tidak akan terjadi hari kiamat sampai manusia berlomba-lomba di dalam (memperindah) masjid</em>” [40]
</p>
<p>Dilarang berlebih-lebihan dalam menghias masjid karena hal itu menyelisihi sunnah Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, “<em>Apabila kalian telah menghiasi mushaf-mushaf kalian dan menghiasi masjid-masjid kalian, maka kehancuran akan menimpa kalian</em>”[41]. Beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> juga bersabda, “<em>Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah manusia berbangga-bangga dengan masjid</em>”[42].</p>
<h4>22. Tidak Mengambil Tempat Khusus Di Masjid</h4>
<p>Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> melarang seorang shalat seperti gagak mematuk, dan melarang duduk seperti duduknya binatang buas, dan mengambil tempat di masjid seperti unta mengambil tempat duduk [43]. Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, “hikmahnya adalah karena hal tersebut bisa mendorong kepada sifat pamer, riya, dan sumah, serta mengikat diri dengan adat dan ambisi. Demikian itu merupakan musibah. Maka dari itu, seorang hamba harus berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjerumus ke dalamnya” [44].</p>
<h4>23. Larangan Keluar Setelah Adzan Kecuali Ada Alasan</h4>
<p>Jika kita berada di dalam masjid dan azan sudah dikumandangkan, maka tidak boleh keluar dari masjid sampai selesai dtunaikannya shalat wajib, kecuali jika ada uzur. Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam sebuah riwayat dari Abu as Sya’tsaa <em>radhiallahu’anhu</em>, beliau berkata,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْمَسْجِدِ يَمْشِي فَأَتْبَعَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ بَصَرَهُ حَتَّى خَرَجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</p>
<p>“Kami pernah duduk bersama Abu Hurairah dalam sebuah masjid. Kemudian muazin mengumandangkan azan. Lalu ada seorang laki-laki yang berdiri kemudian keluar masjid. Abu Hurairah melihat hal tersebut kemudian beliau berkata, “<em>Perbuatan orang tersebut termasuk bermaksiat terhadap Abul Qasim (Nabi Muhammad) Shallallahu’alaihi Wasallam</em>” [45].</p>
<h4>24. Larangan Mencari Barang Yang Hilang Di Masjid Dan Mengumumkannya</h4>
<p>Apabila didapati seseorang mengumumkan kehilangan di masjid, maka katakanlah, “<em>Mudah-mudahan Allah tidak mengembalikannya kepadamu</em>”. Sebagaimana sabda Rasululllah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, “<em>Barangsiapa mendengar seseorang mengumumkan barang yang hilang di dalam masjid, maka katakanlah, “Mudah-mudahan Allah tidak mengembalikannya kepadamu. Sesungguhnya masjid-masjid tidak dibangun untuk ini</em>”[46].</p>
<h4><strong>25. Larangan Jual Beli di Masjid</strong></h4>
<p>Jika jual beli dilakukan di masjid, maka niscaya fungsi masjid akan berubah menjadi pasar dan tempat jual beli sehingga jatuhlah kehormatan masjid dengan sebab itu. Berdasarkan sabda Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, dari Abu Hurairah <em>radhiallahu’anhu</em>  bahwasanya Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda, “<em>apabila kalian melihat orang yang jual beli di dalam masjid maka katakanlah padanya, ‘Semoga Allah tidak memberi keuntungan dalam jual belimu!</em>”[47].</p>
<p>Imam As-Shan’ani berkata, “Hadis ini menunjukkan haramnya jual beli di dalam masjid, dan wajib bagi orang yang melihatnya untuk berkata kepada penjual dan pembeli semoga Allah tidak memberi keuntungan dalam jual belimu! Sebagai peringatan kepadanya”[48].</p>
<h4>26. Larangan Mengganggu Orang Yang Beribadah Di Masjid</h4>
<p>Orang yang sedang menjalankan ibadah di dalam masjid membutuhkan ketenangan sehingga dilarang mengganggu kekhusyukan mereka, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Di antara kesalahan yang sering terjadi, membaca ayat secara nyaring di masjid sehingga mengganggu shalat dan bacaan orang lain [49].</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda, “<em>Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Alquran. Atau beliau berkata, “Dalam shalat” </em>[50].</p>
<h4>27. Larangan Berteriak Dan Membuat Gaduh di Masjid</h4>
<p>Sebab, masjid dibangun bukan untuk ini. Demikian pula mengganggu dengan obrolan yang keras. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, “<em>Ketahuilah bahwa setiap kalian sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Rabbnya. Maka dari itu, janganlah sebagian kalian menyakiti yang lain dan janganlah mengeraskan bacaan atas yang lain</em>”[51].</p>
<p>Apabila mengeraskan bacaan Alquran saja dilarang jika memang mengganggu orang lain yang sedang melakukan ibadah, lantas bagaimana kiranya jika mengganggu dengan suara-suara gaduh yang tidak bermanfaat?! Sungguh, di antara fenomena yang menyedihkan, sebagian orang—terutama anak-anak muda—tidak merasa salah membuat kegaduhan di masjid saat shalat berjamaah sedang berlangsung. Mereka asyik dengan obrolan yang tiada manfaatnya. Terkadang mereka sengaja menunggu imam rukuk, lalu lari tergopoh-gopoh dengan suara gaduh untuk mendapatkan rukuk bersama imam. Untuk yang seperti ini kita masih meragukan sahnya rakaat shalat tersebut karena mereka tidak membaca Al-Fatihah dalam keadaan sebenarnya mereka mampu.</p>
<p>Tetapi, mereka meninggalkannya dan justru mengganggu saudara-saudaranya yang sedang shalat. Hal ini berbeda dengan kondisi sahabat Abu Bakrah <em>radhiallahu’anhu</em> yang ketika datang untuk shalat bersama Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> didapatkannya beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> sedang rukuk lalu ia ikut rukuk bersamanya dan itu dianggap rakaat shalat yang sah.</p>
<h4>28. Larangan Lewat di Dalam Masjid Dengan Membawa Senjata Tajam</h4>
<p>Janganlah seseorang lewat masjid dengan membawa senjata tajam, seperti pisau, pedang, dan sebagainya ketika melewati masjid. Sebab hal itu dapat mengganggu seorang muslim bahkan bisa melukai seorang muslim. Terkecuali jika ia menutup mata pedang dengan tangannya atau dengan sesuatu.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda, “<em>Apabila salah seorang di antara kalian lewat di dalam masjid atau pasar kami dengan membawa lembing, maka hendaklah ia memegang mata lembing itu dengan tangannya sehingga ia tidak melukai orang muslim</em>”[52].</p>
<h4>29. Larangan Lewat di Depan Orang Shalat</h4>
<p>Harap diperhatikan ketika kita berjalan di dalam masjid, jangan sampai melewati di depan orang yang sedang shalat. Hendaklah orang yang lewat di depan orang yang shalat takut akan dosa yang diperbuatnya. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>  bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَي الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِيْنَ، خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ</p>
<p>“<em>Seandainya orang yang lewat di depan orang yang shalat  mengetahui (dosa) yang ditanggungnya, niscaya ia memilih untuk berhenti selama 40 (tahun), itu lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yang sedang  shalat</em>”[53].</p>
<p>Yang terlarang adalah lewat di depan orang yang shalat sendirian atau di depan imam. Adapun jika lewat di depan makmum maka tidak mengapa. Hal ini didasari oleh perbuatan Ibnu Abbas <em>radhiallahu’anhu</em> ketika beliau menginjak usia balig. Beliau pernah lewat di sela-sela shaf jamaah yang diimami oleh Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dengan menunggangi keledai betina, lalu turun melepaskan keledainya  baru kemudian beliau bergabung dalam shaf. Dan tidak ada seorang pun yang mengingkari perbuatan tersebut. Namun demikian, sebaiknya memilih jalan lain agar tidak lewat di depan shaf makmum[54].</p>
<h4>30. Larangan melingkar di dalam masjid untuk berkumpul untuk kepentingan dunia</h4>
<p>Terdapat larangan melingkar di dalam masjid (untuk berkumpul) demi kepentingan dunia semata. Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">يَأْتِ عَلىَ النَّاسِ زَمَانٌ يَحْلِقُوْنَ فيِ مَسَاجِدِهِمْ وَلَيْسَ هُمُوْمُهُمْ إِلاَّ الدُّنْيَا  وَلَيْسَ ِللهِ فِيْهِمْ حَاجَةٌ فَلاَ تُجَاِلسُوْهُمْ</p>
<p>“<em>Akan datang suatu masa kepada sekelompok orang, di mana mereka melingkar di dalam masjid untuk berkumpul dan mereka tidak mempunyai kepentingan kecuali dunia dan tidak ada bagi kepentingan apapun pada mereka maka janganlah duduk bersama mereka</em>” [55].</p>
<h4>31. Larangan Keras Meludah Di Masjid</h4>
<p>Masjid sebagai tempat yang paling dicintai oleh Allah <em>Ta’ala</em> di muka bumi ini harus kita jaga kebersihannya. Oleh karena itu, dilarang meludah dan mengeluarkan dahak lalu membuangnya di dalam masjid, kecuali meludah di sapu tangan atau pakaiannya. Adapun di lantai masjid atau temboknya, hal ini dilarang. Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيْئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا</p>
<p>“<em>Meludah di masjid adalah suatu dosa, dan kafarat (untuk diampuninya) adalah dengan menimbun ludah tersebut</em>”[56].</p>
<p>Yang dimaksud menimbun ludah di sini adalah apabila lantai masjid itu dari tanah, pasir, atau semisalnya. Adapun jika lantai masjid itu berupa semen atau kapur, maka ia meludah di kainnya, tangannya, atau yang lain [57].</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>  juga bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian meludah ke arah kiblat, akan tetapi hendaknyaa ke arah kirinya atau ke bawah kakinya”[58].</p>
<h4>32. Keluar Masjid Dengan Mendahulukan Kaki Kiri Dan Membaca Doa</h4>
<p>Apabila keluar masjid, hendaklah kita mendahulukan kaki kiri seraya berdoa. Dari Abu Humaid <em>radhiallahu’anhu</em> atau dari Abu Usaid <em>radhiallahu’anhu</em> dia berkata, Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="font-size: 18px;" align="right">إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ</p>
<p>“<em>Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka hendaknya dia membaca, “Allahummaftahli abwaaba rahmatika” (Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu). Dan apabila keluar, hendaknya dia mengucapkan, “Allahumma inni as-aluka min fadhlika (Ya Allah, aku meminta kurnia-Mu)</em>”[59].</p>
<p>Demikianlah akhir yang Allah <em>Ta’ala</em> mudahkan kepada kami untuk menulis tentang adab-adab di masjid. Semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang saleh dan selalu istiqamah di jalan-Nya. Amiin.<br>
<em>Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.</em></p>
<p> </p>
<h5 style="text-align: left;" align="CENTER">Catatan Kaki</h5>
<div>
[1]  QS. AI-A’raf: 31.<br>
<span style="line-height: 1.5em;">[2</span><span style="line-height: 1.5em;">]  </span><em><span style="line-height: 1.5em;">Al-Ikhtiyarot al-fiqhiyyah</span></em><span style="line-height: 1.5em;"> karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 4/24<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[3]</span><span style="line-height: 1.5em;">  <em>Tafsir Qur’an Adzhim</em> karangan Imam Ibnu Katsir ( 2/195)<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[4]  </span><span style="line-height: 1.5em;">H</span><span style="line-height: 1.5em;">R. Bukhari no. 854 dan Muslim no. 1 564<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[5]  </span><span style="line-height: 1.5em;">HR Bukhari</span><span style="line-height: 1.5em;"> dan Muslim dan dinilai </span><span style="line-height: 1.5em;">shahih</span><span style="line-height: 1.5em;"> oleh Syeikh Al-Albani dalam <em>Irwaul Gholil</em> no.547<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[6]  </span><span style="line-height: 1.5em;">HR. Bukhari no 615<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[7]  </span><span style="line-height: 1.5em;">HR Bukhari no 635 dan Muslim no 437<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[8]  </span><span style="line-height: 1.5em;">Sebagian </span><span style="line-height: 1.5em;">dari </span><span style="line-height: 1.5em;">artikel “<em>A</em></span><em><span style="line-height: 1.5em;">dab S</span><span style="line-height: 1.5em;">halat B</span><span style="line-height: 1.5em;">erjamaah D</span><span style="line-height: 1.5em;">i M</span></em><span style="line-height: 1.5em;"><em>asjid</em>” </span><span style="line-height: 1.5em;">dalam </span><span style="line-height: 1.5em;">Muslim.or.id<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[9] </span><span style="line-height: 1.5em;"> HR.Ibnu Majah no 4002 dari Abu Hurairah <em>radhiallahu’anhu</em></span><span style="line-height: 1.5em;"> dan dinilai </span><span style="line-height: 1.5em;">shahih</span><span style="line-height: 1.5em;"> oleh Syeikh Al-Albani dalam shahih Ibni Majah no. 3233<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[10]</span><span style="line-height: 1.5em;"> HR. Tirmidzi dan dinilai </span><span style="line-height: 1.5em;">shahih </span><span style="line-height: 1.5em;">oleh Syeikh Al-Albani dalam kitab </span><span style="line-height: 1.5em;">Shahih At Targhib wa At Tarhib</span><span style="line-height: 1.5em;"> no. 2019<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[11]</span><span style="line-height: 1.5em;"> HR. Tirmidzi no. 3426 dan Abu Dawud no. 5095. Dinilai </span><span style="line-height: 1.5em;">shahih</span><span style="line-height: 1.5em;"> oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 2375 dan Syeikh Al-Albani dalam Al-Misykah no. 2443<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[12] HR. Bukhari no. 6316 dan Muslim no. 763.<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[13] HR. Bukhari no.537 dan Muslim no. 714<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[14] “<em>Adab ketika di masjid</em>” oleh Bustomi,MA. dan “<em>A</em><em>dab Shalat Berjamaah Di M</em><em>asjid</em>” dalam Muslim.or.id<br>
</span>[15] QS. Al-Hajj 32<br>
[16] <em>AI-Mughni</em> karangan Ibnu Qudamah رحمه االه jilid 2 halaman 119<br>
[17] HR Bukhari no 176 Muslim no 649<br>
<span style="line-height: 1.5em;">[18] <em>Al-Mausuuatul Aadaab Al-Islamiyyah</em> Abdul Aziz Bin Fathi As-Sayyid Nada hal 352-359<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[19] HR Bukhari dan Muslim dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam kitab shahih targhib wattarhib no.326<br>
</span><span style="line-height: 1.5em;">[20] HR Abu Dawud no 1119 dari Ibnu ‘Umar dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud no.990<br>
</span>[21] <em>Al-Mausuuatul Aadaab Al-Islamiyyah</em> Abdul Aziz Bin Fathi As-Sayyid Nada hal 352-359<br>
[22] HR Abu Dawud dari Ibnu ‘Umar dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam shahih Abi Dawud no.439<br>
[23] HR Bukhari no442<br>
<span style="line-height: 1.5em;">[24] <em>Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhari</em> Jilid 1 halaman 694<br>
</span>[25] HR Bukhari no 475 dan Muslim no2100<br>
[26] <em>Fathul Ban Syarah Shohih al-Bukhari</em> Jilid 1 halaman 729<br>
[27] <em>Musykilul Atsar</em> jilid I halaman 294<br>
[28] HR Bukhari no 386 dan Muslim no555<br>
[29] <em>Syarah Shahih Muslim</em> karya Imam an-Nawawi jilid 5 halaman 207<br>
[30] HR Ibnu Majah no 3311 dan dinilai shahih oleh Syeikh AI-Albani dalam <em>Mukhtasor Syamail Muhammadiyyah</em> no.139<br>
[31] HR Bukhari no 5996 dan Muslim no.543<br>
[32] <em>‘Umdatul Qori</em> jilid 2 halaman 501 dan Ats-Tsamar al-Mustathob jilid 2 halaman 761<br>
[33] <em>Ats-Tsamar al-Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab</em> karya Syeikh Al-Albani jilid 2 halaman 585<br>
[34] <em>Shahih Sunan at-Tirmidzi</em> jilid 2 halaman 63—64 no1321<br>
[35] “<em>Adab Ketika Di Masjid</em>” oleh Bustomi, MA.<br>
[36] HR. al-Bukhari no 454<br>
[37] <em>Al-Mausuuatul Aadaab Al-Islamiyyah</em> Abdul Aziz Bin Fathi As-Sayyid Nada hal 352-359<br>
[38] HR. Ath-Thabrani dalam al-Kaabir jilid IX halaman 9489 dari IbnuMas’ud dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami, no.5896<br>
[39] Dinilai hasan oleh Syeikh al-Albani dalam kitab <em>Sisilatus Shahihah</em> jilid 3 halaman 135<br>
[40] HR Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam Shohih Al-Jami no 5895<br>
[41] HR Al-Hakim dan at-Tirmidzi dalam an-Nawadzir dari Abu Darda’  sebgaimana terdapat dalam kitab Shahih al- Jami no585<br>
[42] HR An-Nasa-I dalam kitab sunan-nya jilid II halaman 32, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Abu Ya’la, dan al-Baihaqi dalam al-Kubra dari Anas bin Malik <em>radhiallahu’anhu</em><br>
[43] HR Abu Dawud no 862 dan al-Hakim (I/229) dan disetujui oleh adz-Dzahabi dari ‘Abdurrahman bin Syibl <em>rahiallahu’anhu</em><br>
[44] <em>Kanzul ‘Ummal</em> jilid VII halaman 458<br>
[45] HR. Muslim no 655 dan dinilai shahih oleh Syeikh al-Albani dalam kitab shahih Ibni Maajah no599<br>
[46] HR. Muslim dari Abu Hurairah <em>radhiallahu’anhu </em>dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam <em>at-Ta’liqot al-Hisan ‘ala Shahih Ibni Hibban</em>, no.1649<br>
[47] HR Tirmidzi no 1321, Hakim jilid 2 halaman 56, dan beliau berkata: Shahih menurut syarat Imam Muslim dan disetujuhi oleh Imam Adz-Zahabi Dan Syeikh Al-Albani menilai shahih dalam Al-Irwa 1295<br>
[48] Subulus Salam jilid 1 halaman 321 Lihat pula An-Nail al-Author jilid 1 halaman 455 dan Ats-Tsamar al-Mustathob jliid 2 halaman 696<br>
[49] al-Adzkar Imam an-Nawawi halaman 120<br>
[50] HR Abu Daud no 1332 dan Ahmad no 430 dan dinilai shahih oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab Nata-ijul Afkar jilid 2 halaman 16<br>
[51] HR Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam <em>Shahihal-Jami’</em><br>
[52] HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa <em>radhiallahu’anhu</em> dan dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albani dalam <em>shahih wa dho’if al-jami ashshoghir</em> no.798<br>
[53] HR Bukhari no 510 dan Muslim no1132<br>
[54] HR Bukhari no 76 dan Muslim no504<br>
[55] HR al-Hakim jilid 4 halaman 359 dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani<br>
[56] Shahih al-Bukhari no40<br>
[57] Lihat kitab Riyadhus Shalihin dalam bab “<em>an-Nahyu ‘anil Bushaqfil Masjid</em>”
<h5><span style="font-size: 0.83em; line-height: 1.5em;">Referensi</span></h5>
<ol>
<li>
<em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim</em>, Imam Ibnu Katsir</li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">Kitab-Kitab Karangan Syaikh Nashiruddin Al-Albani Seperti <em>Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah, Irwaul Gholil, Shohih Targhib Wat Tarhib</em></span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;"><em>Fathul Baari Fi Syarhi Shohi Al-Bukhari</em> Karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqolaani</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;"><em>Syarah Shahih Muslim</em> Karya Imam Nawawi</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;"><em>Al-Mausuuatul Aadaab Al-Islamiyyah</em> Abdul Aziz Bin Fathi As-Sayyid Nada</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;"><em>Ahkaam Al-Masaajid Fi Syari’ah Al-Islamiyyah</em>, Ibrahim Bin Sholih Al-Hudhoiri</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;"><em>Al-muslim wal masjid</em> karya Ahmad Muslim Da’dus</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;"><em>Al Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz</em> karya Syaikh Dr. ‘Abdul ‘Adzim Badawi  </span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">“<em>Adab shalat berjamaah di masjid</em>” situs muslim.or.id</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;">“<em>Adab ketika di masjid</em>” oleh Hepi Andi Bustoni, MA</span></li>
<li><span style="line-height: 1.5em;"><em>Hisnul Muslim min Adzkari Al-Kitabi was Sunnah</em>, Syeikh Sa’id bin Ali Wahf Al-Qohthoni</span></li>
</ol>
<p>—</p>
<p>Penulis: Afwan Awwab</p>
<p>Murajaah: Ust. Suhuf Subhan, M.Pd.I</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
</div>
 