
<p>Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini kami akan mencoba membahas terkait adab dalam memberikan nasehat. Semoga apa yang kami bahas ini bisa bermanfaat untuk kita semua.</p>

<h2>Islam Adalah Agama Nasehat</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Agama Islam adalah agama nasehat. Semua sendi dalam agama Islam adalah nasehat. Dan setiap kita dalam agama ini, akan senantiasa menasehati dan dinasehati.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana dalam hadits dari Tamim Ad Dariy </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الدين النصيحة قلنا : لمن ؟ قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Agama adalah nasehat”. Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?”. Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan umat muslim seluruhnya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim, no. 55).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun menyampaikan nasehat tidak boleh serampangan dan sembarangan. Ada adab-adab yang perlu diperhatikan ketika menyampai nasehat kepada orang lain. Berikut ini beberapa adab dalam memberikan nasehat:</span></p>
<h2>Adab Dalam Memberikan Nasehat</h2>
<ol>
<li>
<h3>Nasehat Didasari Niat Ikhlas</h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana kita ketahui bahwa amalan kebaikan tidak diterima dan tidak dianggap sebagai amalan shalih kecuali jika dengan niat yang ikhlas. Dari Umar bin Khathab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إنَّما الأعْمالُ بالنِّيَّةِ، وإنَّما لِامْرِئٍ ما نَوَى، فمَن كانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللَّهِ ورَسولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إلى اللَّهِ ورَسولِهِ، ومَن هاجَرَ إلى دُنْيا يُصِيبُها أوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُها، فَهِجْرَتُهُ إلى ما هاجَرَ إلَيْهِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan seseorang mendapatkan ganjaran sesuai niatnya. Orang yang hijrah untuk Allah dan Rasul-Nya maka ia mendapatkan ganjaran sebagai amalan hijrah untuk Allah dan Rasul-Nya. Orang yang hijrah untuk mendapatkan dunia atau untuk menikahi wanita, maka hijrahnya sekedar yang untuk apa yang ia niatkan tersebut”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no. 6953).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah ta’ala hanya menerima amalan ikhlas ditujukan kepada Allah semata tidak berbuat syirik kepada Allah termasuk syirik dalam niat. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertaqwa”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al Maidah: 27).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ath Thabari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وقد قال جماعة من أهل التأويل: ” المتقون ” في هذا الموضع، الذين اتقوا الشرك.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sejumlah ulama tafsir dalam kalangan salaf di beberepa tempat telah mengatakan: “muttaqun” di sini maksudnya orang-orang yang menjauhkan diri dari kesyirikan” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Ath Thabari</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<ol start="2">
<li>
<h3>Menasehati dengan Cara yang Benar Sesuai Syariat</h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain niat harus ikhlas, cara memberikan nasehat juga harus benar. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Rabb-Nya maka amalkanlah amalan kebaikan dan jangan mempersekutukan Rabb-nya dengan sesuatu apapun”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al Kahfi: 110).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">As Sa’di dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir</span></i><span style="font-weight: 400;">-nya menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا ْ} وهو الموافق لشرع الله، من واجب ومستحب، { وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ْ} أي: لا يرائي بعمله بل يعمله خالصا لوجه الله تعالى، فهذا الذي جمع بين { الإخلاص والمتابعة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“[maka amalkanlah amalan shalih] yaitu amalan yang sesuai dengan syariat Allah, berupa amalan yang wajib atau mustahab, [dan jangan mempersekutukan Rabb-nya dengan sesuatu apapun] maksudnya: jangan riya’ dalam amalan, namun harus ikhlas mengharap wajah Allah. Maka ayat ini menggabungka dua syarat diterimanya amalan: ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti tuntunan)”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka cara menasehati haruslah benar sesuai tuntunan syariat. Oleh karena itu dalam hadits dari Abu Sa’id Al Khudhri </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberikan tingkatan urutan dalam mengingkari kemungkaran. Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">من رأى منكم منكرا فليغيره بيده . فإن لم يستطع فبلسانه . فإن لم يستطع فبقلبه .وذلك أضعف الإيمان</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim, no.49).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini menunjukkan bahwa ketika tidak kemampuan untuk mengingkari dengan tangan maka tidak boleh nekat tetap melakukan pengingkaran dengan tangan, walaupun niatnya baik. Namun berpindah kepada cara selanjutnya yaitu mengingkari dengan lisan. Ini mengisyaratkan wajibnya mengikuti tuntunan syariat dalam ingkarul mungkar dan juga dalam nasehat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu para ulama menyatakan suatu kaidah penting:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الْغَايَةُ لاَ تُبَرِّرُ الْوَسِيْلَةَ إِلاَّ بِدَلِيْلٍ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tujuan tidak membolehkan wasilah (cara) kecuali dengan dalil”</span></i></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/35690-60-adab-dalam-menuntut-ilmu.html" target="_blank" rel="noopener">60 Adab Dalam Menuntut Ilmu</a></strong></em></p></blockquote>
<ol start="3">
<li>
<h3>Gunakan Kata-Kata yang Baik</h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam menyampaikan nasehat hendaknya menggunakan kata-kata yang baik, yaitu kata-kata yang penuh kelembutan dan hikmah. Perhatikan bagaimana Allah Ta’ala perintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam ketika akan memberi nasehat kepada Fir’aun, Allah berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Hendaknya kalian berdua ucapkan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia akan ingat atau takut kepada Allah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Thaha: 44).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal Fir’aun jelas kekafirannya dan kezalimannya. Bahkan ia mengatakan: “Aku adalah Tuhan kalian yang Maha Tinggi”. Namun tetap diperintahkan untuk memberi nasehat yang lemah lembut. Maka bagaimana lagi jika yang dinasehati adalah seorang Muslim yang beriman kepada Allah?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Celaan dan hinaan tidak menjadi halal ketika memberi nasehat kepada orang yang jatuh pada kesalahan. Celaan dan kata-kata kotor bukanlah akhlak seorang Mukmin. Dari Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ليسَ المؤمنُ بالطَّعَّانِ ولا اللَّعَّانِ ولا الفاحِشِ ولا البذَيُّ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Seorang Mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka bicara kotor dan suka bicara jorok”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Tirmidzi no.1977, dishahihkan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah Ash Shahihah</span></i><span style="font-weight: 400;"> no.320).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan janganlah menganggap remeh perkataan yang buruk dan menyakiti hati orang lain. Karena bisa jadi perkataan itu bisa menyeret kita ke dalam neraka sangat dalam. Dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">(إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ) وصححه الألباني في صحيح الترمذي .</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya seorang hamba ketika berbicara dengan perkataan yang dianggap biasa, namun akan menyebabkan ia masuk neraka 70 tahun”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Tirmidzi no. 2314, dishahihkan oleh Albani dalam Shahih At Tirmidzi).</span></p>
<ol start="4">
<li>
<h3>Tabayun; Cross-Check Berita</h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Hendaknya ketika memberikan nasehat kepada orang lain, tidak bertopang pada kabar yang tidak jelas dan simpang-siur. Karena kabar yang tidak jelas atau simpang siur, bukanlah ilmu dan bukanlah informasi sama sekali. Orang yang menyampaikannya disebut orang yang melakukan kebodohan. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Hujurat: 6).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka hendaknya cek dan ricek, klarifikasi dan konfirmasi, sebelum beranjak untuk memberikan nasehat. Itulah adab dalam memberikan nasehat yang harus kita lakukan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang mempercayai dan menyampaikan semua yang ia dengar tanpa cek dan ricek, klarifikasi dan konfirmasi, maka ia seorang pendosa. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi kita </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Cukuplah seseorang telah berdosa jika menyampaikan seluruh yang ia dengar”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no.5).</span></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/21107-pelajarilah-dahulu-adab-dan-akhlak.html" target="_blank" rel="noopener">Pelajarilah Dahulu Adab dan Akhlak</a></strong></em></p></blockquote>
<ol start="5">
<li>
<h3>Jangan Suuzhan! (Buruk Sangka)</h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Hendaknya nasehat yang diberikan kepada orang lain, bukan didasari oleh prasangka buruk. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">اِجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Hujuraat: 12).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إياكم والظنَّ، فإنَّ الظنَّ أكذب الحديث</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari no.5143, Muslim no. 2563).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hendaknya kita mencari kemungkinan-kemungkinan baik bagi saudara kita sesama Muslim, selama masih memungkinkan. Muhammad bin Manazil </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الْمُؤْمِنُ يَطْلُبُ مَعَاذِيرَ إِخْوَانِهِ ، وَالْمُنَافِقُ يَطْلُبُ عَثَرَاتِ إِخْوَانِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Seorang mu’min itu mencari udzur (alasan-alasan baik) terhadap saudaranya. Sedangkan seorang munafik itu mencari-cari kesalahan saudaranya” (HR. Al Baihaqi dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Syu’abul Iman </span></i><span style="font-weight: 400;">no.10437).</span></p>
<ol start="6">
<li>
<h3>Jangan Memaksa Agar Nasehat Diterima</h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hazm Al Andalusi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَا تنصح على شَرط الْقبُول مِنْك فَإِن تعديت هَذِه الْوُجُوه فَأَنت ظَالِم لَا نَاصح وطالب طَاعَة وَملك لَا مؤدي حق أَمَانَة وأخوة وَلَيْسَ هَذَا حكم الْعقل وَلَا حكم الصداقة لَكِن حكم الْأَمِير مَعَ رَعيته وَالسَّيِّد مَعَ عبيده</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jangan engkau menasehati orang dengan mempersyaratkan harus diterima nasehat tersebut darimu, jika engkau melakukan perbuatan berlebihan yang demikian, maka engkau adalah ORANG YANG ZHALIM bukan orang yang menasehati. Engkau juga orang yang menuntut ketaatan bak seorang raja, bukan orang yang ingin menunaikan amanah kebenaran dan persaudaraan. Yang demikian juga bukanlah perlakuan orang berakal dan bukan perilaku kedermawanan, namun bagaikan perlakuan penguasa kepada rakyatnya atau majikan kepada budaknya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al Akhlaq was Siyar fi Mudawatin Nufus</span></i><span style="font-weight: 400;">, 45).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka yang benar, sampaikan nasehat. Jika diterima, itu yang diharapkan. Jika tidak diterima maka tidak mengapa. Perhatikan nasehat Imam Malik berikut,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الهيثم بن جميل: قلت لمالك ابن انس: الرجل يكون عالما بالسنة أيجادل عنها؟ قال: لا .. ولكن يُخبِر بالسنة فإن قُبِلتْ منه وإلا سكت</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Haitsam bin Jamil mengatakan, saya pernah berkata kepada Imam Malik bin Anas: “seseorang yang alim (berilmu) terhadap sunnah Nabi, apakah boleh ia berdebat tentang As Sunnah?”. Imam Malik menjawab: “Jangan! Namun sampaikanlah tentang As Sunnah. Jika diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak diterima, ya sudah diam saja” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2/94).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan memberi nasehat adalah amalan shalih, ia akan diganjar pahala walaupun nasehat tidak diterima.</span></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/1546-adab-bertamu-dan-memuliakan-tamu.html" target="_blank" rel="noopener">Adab Bertamu dan Memuliakan Tamu</a></strong></em></p></blockquote>
<ol start="7">
<li>
<h3>Tidak Menasehati di Depan Umum</h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Hendaknya memberi nasehat kepada orang lain tidak dihadapan orang banyak. Karena orang yang dinasehati akan tersinggung dan merasa dipermalukan di depan orang-orang. Sehingga tujuan dari nasehat akan menjadi jauh tercapai. Oleh karena itu, adab dalam memberikan nasehat ini harus kita amalkan agar tujuan dari nasehat bisa tercapai.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Asy Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">تعمدني بنصحك في انفرادي . وجنبْني النصيحة في الجماعهْ .فإن النصح بين الناس نوع. من التوبيخ لا أرضى استماعهْ . وإن خالفتني وعصيت قولي. فلا تجزعْ إذا لم تُعْطَ طاعهْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri. Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian. Sesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk sesuatu Pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya. Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku. Maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Diwan Asy Syafi’i</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 56).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam</span></i><span style="font-weight: 400;">, halaman 77).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itulah Nabi Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda tentang menasehati pemimpin:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">من أراد أن ينصح لسلطان بأمر فلا يبد له علانية، ولكن ليأخذ بيده فيخلو به، فإن قبل منه فذاك،وإلا كان قد أدى الذي عليه</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa ingin menasehati penguasa dengan sesuatu hal, maka janganlah tampakkan nasehat tersebut secara terang-terangan. Namun ambillah tangannya dan bicaralah empat mata dengannya. Jika nasehat diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak diterima, engkau telah menunaikan apa yang dituntut darimu”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Takhrij As Sunnah Libni Abi Ashim</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1097).</span></p>
<ol start="8">
<li>
<h3>Jangan Melakukan Tahrisy</h3>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Hendaknya jauhi </span><i><span style="font-weight: 400;">tahrisy</span></i><span style="font-weight: 400;"> ketika berusaha memberikan nasehat. Apa itu </span><i><span style="font-weight: 400;">tahrisy</span></i><span style="font-weight: 400;">? Ibnu Atsir </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">التحريش : الإغراء بين الناس بعضهم ببعض</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tahrisy adalah memancing pertengkaran antara orang-orang satu sama lain” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Jami’ Al Ushul</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2/754).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan kata lain, </span><i><span style="font-weight: 400;">tahrisy</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah provokasi. Tahrisy adalah perbuatan langkah setan untuk memecah belah kaum Muslimin. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّ الشَّيْطَانَ قد أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ في جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ في التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya setan telah putus asa membuat orang-orang yang shalat menyembahnya di Jazirah Arab. Namun setan masih bisa melakukan tahrisy di antara mereka”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no. 2812).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Melakukan provokasi atau tahrisy ini termasuk </span><i><span style="font-weight: 400;">namimah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (adu domba). Al Imam Ibnu Katsir mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">النميمة على قسمين: تارة تكون على وجه التحريش بين الناس وتفريق قلوب المؤمنين فهذا حرام متفق عليه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Namimah ada dua macam: terkadang berupa tahrisy (provokasi) antara orang-orang dan mencerai-beraikan hati kaum Mu’minin. Maka ini hukumnya haram secara sepakat ulama” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Ibnu Katsir</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1/371, Asy Syamilah).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan </span><i><span style="font-weight: 400;">namimah</span></i><span style="font-weight: 400;"> ini merupakan dosa besar. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَا تُطِع كل حلاف مهين هماز مشاء بنميم</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menebar namimah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al Qalam: 10-11).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka hindarilah cara-cara yang berupa provokasi dalam menasehati sesama Muslim. Gunakan cara-cara yang baik, yang mendekatkan bukan membuat permusuhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian beberapa adab dalam memberikan nasehat. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik untuk mengamalkannya.</span></p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/25497-adab-seorang-murid-terhadap-guru.html" target="_blank" rel="noopener">Adab Seorang Murid Terhadap Guru</a></strong></em></p></blockquote>
<p>—</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://kangaswad.wordpress.com/about/" target="_blank" rel="noopener">Yulian Purnama</a></strong></p>
<p><strong>Artikel: Muslim.or.id</strong></p>
 