
<p style="text-align: left;" align="CENTER"><i>“Si Anu, kasihan hidupnya, tiap hari harus banting tulang hanya sekedar untuk menutup hutang, padahal shalatnya rajin”</i></p>
<p style="text-align: left;" align="CENTER"><i>“Lha itu, tetanggaku, boro-boro nutup hutang, malah tiap bulan kesulitan nambah hutang”</i></p>
<p style="text-align: left;" align="CENTER"><i>“Pak fulan mah, orang yang paling enak hidupnya di komplek sini, pulang pergi dianter sopir pribadi, mana pembantunya di rumahnya lima orang lagi”</i></p>
<p style="text-align: left;" align="CENTER"><i>“Teman SMA saya sekarang ada yang jadi menteri lho”</i></p>
<p align="LEFT">Mungkin begitulah kira-kira yang acapkali kita dengar tentang obrolan manusia seputar kaya dan miskin. <span lang="en-US">A</span>danya orang yang miskin dan kaya <span lang="en-US">adalah perkara yang biasa kita jumpai di sekitar kita. </span>Yakinilah sobat, bahwa setiap perkara yang ditakdirkan oleh Allah di muka bumi ini, pastilah ada hikmah di balik itu semua, kita sadari atau tidak, kita ketahui atau tidak.</p>

<h2 align="LEFT">Perbuatan Allah berkisar antara karunia dan ihsan dengan keadilan dan hikmah</h2>
<p align="LEFT">Yakinilah, bahwa jika Allah menghendaki sesuatu untuk terjadi, pastilah hal itu sudah berdasarkan ilmu, kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Perbuatan Allah tidak pernah kosong dari hikmah dan maslahat serta pasti bersih dari dari kezaliman dan kesalahan.</p>
<p align="LEFT">Perbuatan Allah berkisar antara karunia dan ihsan dengan keadilan dan hikmah. Jika Allah memberi, maka memberi dengan karunia dan ihsan-Nya, dan jika mencegah atau memberi cobaan, maka itu dilakukan dengan keadilan-Nya.</p>
<p align="LEFT">Semua perbuatan Allah pasti indah dan terpuji. Tidak ada satupun dari perbuatan-Nya yang tercela dan buruk, dan semua takdir-Nya adalah baik, sempurna dan indah, walaupun peristiwa yang ditakdirkan oleh-Nya (kejadian yang terjadi pada makhluk), ada yang buruk dan tercela.</p>
<p align="LEFT">Rasulullah <em>shallalahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">إن الله جميلٌ يحب الجمال</span></p>
<p align="LEFT">“<i>Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan</i>”. (HR. Muslim).</p>
<h2 align="LEFT">Seluruh alam semesta ini milik Allah dan semua keputusan pengaturan alam semesta terserah Allah, <span lang="en-US">Dzat</span> <span lang="en-US">Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana lagi Maha Adil</span>
</h2>
<p align="LEFT">Allah <i>Ta’ala </i>telah membagi rezeki di antara hamba-hamba-Nya, Dia <i>‘Azza wa Jalla</i> melapangkan rezeki sebagian manusia dan menyempitkan rezeki sebaian yang lain, hal itu dilakukan untuk suatu hikmah yang sempurna, yang berkonsekuensi pada pujian terhadap-Nya atas seluruh keputusan-Nya.</p>
<p align="LEFT">Seluruh alam semesta ini milik Allah dan semua keputusan pengaturan alam semesta terserah Allah, justru ini menunjukkan Ketuhanan-Nya yang haq.</p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Allah </span><span lang="en-US"><i>Ta’ala</i></span> berfirman,</p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ</span></p>
<p align="LEFT">“<i>Dan Allah melebihkan sebahagian kalian dari sebagian yang lain dalam hal rezeki”</i> (An-Nahl: 71).</p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ</span></p>
<p align="LEFT">“<i>Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” </i>(Al-‘Ankabuut: 62).</p>
<p align="LEFT">Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di <i>rahimahullah </i><span lang="en-US">menafsirkan firman Allah di dalam surat Al-‘Ankabuut ayat 62 di atas,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">الحمد لله، الذي خلق العالم العلوي والسفلي، وقام بتدبيرهم ورزقهم، وبسط الرزق على من يشاء، وضيقه على من يشاء، حكمة منه، ولعلمه بما يصلح عباده وما ينبغي لهم</span></p>
<p align="LEFT">“<span lang="en-US">Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menciptakan alam atas dan bawah serta mengatur mereka dan memberi rezeki mereka, melapangkan rezeki bagi hamba yang Allah kehendaki dan menyempitkan rezeki hamba yang Allah kehendaki, hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya” (Tafsir As-Sa’di, hal. 746 ).</span></p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US"><i>Al-Allamah</i></span><span lang="en-US"> Ibnu Katsir </span><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span><span lang="en-US">menjelaskan,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">فمنهم الغني والفقير ، وهو العليم بما يصلح كلا منهم ، ومن يستحق الغنى ممن يستحق الفقر</span></p>
<p align="LEFT">“<span lang="en-US">Maka diantara mereka (makhluk) ada yang kaya dan ada pula yang miskin. Dan Dia (Allah) Maha Mengetahui tentang apa yang cocok bagi masing-masing diantara mereka dan Maha Mengetahui siapa saja yang cocok berstatus kaya dan siapa saja yang cocok berstatus miskin”</span><i> </i><span lang="en-US">(Tafsir Ibnu Katsir, 4/165).</span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT">Sobat, ingatlah bahwa si miskin dan si kaya, keduanya sama saja di sisi Allah, asal sama-sama bertakwa. Semakin bertakwa seseorang, maka semakin dicintai oleh Allah.</p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Allah </span><span lang="en-US"><i>Ta’ala </i></span><span lang="en-US">berfirman</span><span lang="en-US"><i>,</i></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="en-US" align="CENTER">إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ</p>
<p align="LEFT">“<span lang="en-US"><i>Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kalian” </i></span><span lang="en-US">(Al-Hujuraat:13).</span></p>
<blockquote>
<p align="LEFT"><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/6286-orang-yang-paling-kaya.html" target="_blank" rel="noopener">Orang yang Paling Kaya</a></strong></em></p>
</blockquote>
<h2 lang="en-US" align="LEFT">Hikmah adanya si miskin dan si kaya</h2>
<p lang="en-US" align="LEFT">Banyak sesungguhnya hikmah dari fenomena adanya si miskin dan si kaya, namun berikut ini sebagiannya saja dari hikmah-hikmah tersebut.</p>
<h3 lang="en-US" align="LEFT"><b>1. Agar makhluk mengetahui Kemahaesaan Allah dalam pengaturan mereka (mentauhidkan Allah dalam Rububiyyah-Nya)</b></h3>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Dengan adanya orang yang miskin dan yang kaya, maka seorang hamba terdorong menyakini dengan keyakinan kuat, bahwa hanya Allah lah Sang Pemilik alam semesta ini dan Dia lah satu-satunya Dzat Yang Maha Esa dalam mematikan, mengidupkan, menakdirkan, mengatur alam semesta ini, dan dalam seluruh makna-makna Rububiyyah-Nya.</span></p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Rabbul ‘Alamin </span><span lang="en-US"><i>‘Azza wa Jalla</i></span><span lang="en-US"> berfirman,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" style="text-align: center;" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</span></p>
<p align="LEFT">“<span lang="en-US"><i>Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” </i></span><span lang="en-US">(Al-Faatihah).</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">menafsirkan firman Allah di atas,</span></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">فدل قوله <span lang="en-US">{ </span>رَبِّ الْعَالَمِينَ <span lang="en-US">} </span>على انفراده بالخلق والتدبير<span lang="en-US">, </span>والنعم<span lang="en-US">, </span>وكمال غناه<span lang="en-US">, </span>وتمام فقر العالمين إليه<span lang="en-US">, </span>بكل وجه واعتبار<span lang="en-US">.</span></span></p>
<p align="LEFT">“<span lang="en-US">Maka firman Allah</span><span lang="en-US"><b> {</b></span><span style="font-family: Tahoma;"><b>رَبِّ الْعَالَمِينَ</b></span><span lang="en-US"><b>} </b></span><span lang="en-US">menunjukkan kepada Keesaan-Nya dalam penciptaan, pengaturan, nikmat, kesempurnaan kekayaan-Nya. Dan menunjukkan kepada kesempurnaan butuhnya seluruh makhluk (alam semesta) kepada-Nya, dari segala sisi dan sudut pandang”</span><i> </i><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">(Tafsir As-Sa’di,hal. 27).</span></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Disebabkan Allahlah satu-satunya Sang Pemilik alam semesta ini, maka Allahlah yang mengatur semuanya dan semuanya dibawah kehendak-Nya. Apa saja yang dikehendaki oleh-Nya pasti terlaksana dan pasti kehendak-Nya itu baik dan sempurna.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Rabbul ‘Alamin </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>‘Azza wa Jalla</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> berfirman,</span></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“<span lang="en-US"><i>Dan kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">(At-Takwiir: 29).</span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">menafsirkan firman Allah di atas,</span></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">أي<span lang="en-US">: </span>فمشيئته نافذة، لا يمكن أن تعارض أو تمانع</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“<span lang="en-US">Maksudnya kehendak-Nya pastilah terlaksana, tidak mungkin dilawan atau dihalangi”</span></span><i> </i><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">(Tafsir As-Sa’di,hal.1079).</span></span></p>
<h3 lang="en-US" align="LEFT"><b>2. Agar si miskin menjadi orang yang sabar dan si kaya menjadi orang yang bersyukur</b></h3>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Allah telah menentukan pembagian rezeki di antara hamba-hamba-Nya, lalu ada yang miskin ada pula yang kaya. Adapun bagi orang yang ditakdirkan miskin, maka di antara hikmahnya, agar hamba yang miskin tersebut merasa senantiasa membutuhkan Allah, sehingga muncullah berbagai macam bentuk peribadatan dari dirinya, baik ibadah yang lahir maupun yang batin, seperti banyak berdoa, senantiasa bertawakal, mengharap </span><span lang="en-US"><i>(raja`)</i></span><span lang="en-US">, dan </span><i> </i><span lang="en-US">mendekatkan diri kepada-Nya dan ia pun berkesempatan meraih derajat orang-orang yang bersabar.</span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT">Demikian juga bagi orang yang kaya, ia akan mengetahui dan merasakan betapa besarnya nikmat Allah atas dirinya. Sehingga akan terdorong untuk mensyukurinya, karena ia sadar bahwa kekayaan itu adalah ujian, maka ia berusaha jalani ujian itu dengan sebaik-baiknya, sehingga ia menjadi golongan orang-orang yang bersyukur kepada Allah.</p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Jika demikian sikap keduanya (si miskin dan si kaya tersebut), maka sesungguhnya kekayaan dan kemiskinan itu sama saja bagi seorang muslim, yaitu sama-sama sebagai ujian dari Allah asalkan seseorang sudah sungguh-sungguh berusaha mengambil yang bermanfaat dalam hidupnya sesuai dengan ajaran Allah. Yang membedakan diantara keduanya hanyalah ketakwaan.</span></p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Rasulullah </span><em><span lang="en-US">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></em><span lang="en-US"> bersabda,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ</span></p>
<p><em>“</em><em>Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya</em><em>”</em> (HR. Muslim).</p>
<p><span lang="en-US">Wahai saudaraku yang sedang ditakdirkan miskin, tidakkah Anda ingin menggapai janji Allah berikut ini,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="en-US" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ</span></p>
<p align="LEFT">“<span lang="en-US"><i>Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” </i></span><span lang="en-US">(Az-Zumar:10).</span></p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Wahai saudaraku yang sedang diuji dengan kekayaan, tidakkah Anda ingin mencontoh sosok figur panutan dalam mensikapi kekayaan, yaitu Nabi Sulaiman </span><span lang="en-US"><i>‘alaihis salam, </i></span><span lang="en-US">seperti yang dikisahkan dalam kisah berikut ini</span><span lang="en-US">,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" lang="en-US" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ</span></p>
<p align="LEFT">“<span lang="en-US"><i>Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia</i></span><span lang="en-US">” (An-Naml:40).</span></p>
<blockquote>
<p align="LEFT"><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/5945-keutamaan-orang-kaya-yang-bersyukur.html" target="_blank" rel="noopener">Keutamaan Orang Kaya Yang Bersyukur</a></strong></em></p>
</blockquote>
<h3 lang="en-US" align="LEFT"><b>3. Untuk kemaslahatan agama dan dunia mereka</b></h3>
<p lang="en-US" align="LEFT">Allah membagi-bagi rezeki diantara para hamba-Nya agar tegak maslahat agama dan dunia mereka.</p>
<p lang="en-US" align="LEFT">Kalau seandainya semua hamba-Nya kaya, tentu banyak di antara mereka yang akan bertindak melampaui batas lagi sewenang-wenang, berupa melakukan kemaksiatan ataupun kekufuran.</p>
<p lang="en-US" align="LEFT">Namun, jika semua hamba-Nya dijadikan miskin, akan banyak urusan yang terbengkalai, karena banyak urusan umat ini yang memerlukan harta dalam jumlah yang banyak.</p>
<p lang="en-US" align="LEFT">Nah, jika semua orang satu tingkatan dalam masalah rezeki, tentulah akan kesulitan bagi sebagian orang untuk memanfaatkan sebagian orang yang lainnya. Siapa yang akan jadi bawahan dalam perusahaan? Siapa yang akan jadi pembantu dan sopir pribadi? Siapa yang akan jadi direktur, jika semua satu derajat dalam kekayaan?</p>
<p lang="en-US" align="LEFT">Jika semua orang sama dalam hal rezeki, dimana akan didapatkan kasih sayang dari si kaya kepada si miskin? Kapan nampak amalan menyambung tali silaturahmi dengan harta?</p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Rabbul ‘Alamin </span><span lang="en-US"><i>‘Azza wa Jalla</i></span><span lang="en-US"> berfirman,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" style="text-align: center;" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ</span></p>
<p align="LEFT">“<span lang="en-US"><i>Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfa’atkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” </i></span><span lang="en-US">(Az-Zukhruf:32).</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">menafsirkan firman Allah di atas,</span></span></p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">أي<span lang="en-US">: </span>ليسخر بعضهم بعضا، في الأعمال والحرف والصنائع<span lang="en-US">. </span>فلو تساوى الناس في الغنى، ولم يحتج بعضهم إلى بعض، لتعطلت كثير من مصالحهم ومنافعهم<span lang="en-US">. </span></span></p>
<p align="LEFT">“<span lang="en-US">Maksudnya agar sebagian mereka dapat memanfa’atkan sebagian yang lain dalam aktivitas,profesi,dan produksi/karya. Kalau seandainya manusia sama dalam kekayaan dan sebagian mereka tidak membutuhkan sebagian yang lain, tentu akan terhambat berbagai maslahat dan urusan mereka yang bermanfa’at</span><span lang="en-US"><i>” </i></span><span lang="en-US">(Tafsir As-Sa’di, hal. 908).</span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT">Namun, Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui itu telah membagi-bagi rezeki hamba-hamba-Nya. Sehingga manusia tidak sama dalam masalah rezeki. Ada yang kaya dan ada pula yang miskin.</p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Maka Allah memerintahkan orang yang kaya untuk bersyukur dan berinfak dan memerintahkan orang yang miskin untuk bersabar serta mengharapkan kasih sayang dari </span><span lang="en-US"><i>Ar-Razzaaq</i></span><span lang="en-US">. Oleh karena itu wajib kita ridha Allah sebagai Rabb Sang Pengatur kita,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">رضيت بالله ربا و بالإسلام دينا و بمحمد صلى الله عليه و سلم نبيّا</span></p>
<p align="LEFT">“<span lang="en-US"><i>Aku ridho Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad </i></span><span style="font-family: Tahoma;"><span lang="ar-SA">صلى الله عليه و سلم</span> </span><span lang="en-US"><i>sebagai nabiku (yang diutus oleh Allah)” </i></span><span lang="en-US">(HR. Ahmad dan yang lainnya, dishahihkan oleh Imam Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).</span></p>
<h3 align="LEFT"><span lang="en-US"><b>4. Mengingatkan mereka perbedaan kedudukan mereka di Akhirat</b></span></h3>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Adanya perbedaan keadaan manusia dalam masalah rezeki di dunia, mengingatkan kepada manusia kepada perbedaan nasib mereka di Akhirat. Sebagaimana manusia di dunia ini berbeda-beda nasibnya, ada yang tinggal di istana megah dan menaiki mobil yang mewah, namun adapula yang sangat miskin, tinggal di kolong jembatan, jangankan kendaraan, rumah pun hanya sebatas tenda buatan.</span></p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Nah, di akhirat pun nasib mereka juga berbeda-beda, bahkan perbedaannya lebih besar dan lebih mencolok serta lebih lama. </span></p>
<p align="LEFT"><span lang="en-US">Allah </span><span lang="en-US"><i>Ta’ala</i></span> berfirman,</p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا</span></p>
<p align="LEFT">“<i>Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya” </i>(<span lang="en-US">Al-Israa’: </span>21).</p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">menafsirkan firman Allah di atas,</span></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-size: 21pt;">{ انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ } في الدنيا بسعة الأرزاق وقلتها، واليسر والعسر والعلم والجهل والعقل والسفه وغير ذلك من الأمور التي فضل الله العباد بعضهم على بعض بها. { وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا } فلا نسبة لنعيم الدنيا ولذاتها إلى الآخرة بوجه من الوجوه. فكم بين من هو في الغرف العاليات واللذات المتنوعات والسرور والخيرات والأفراح ممن هو يتقلب في الجحيم ويعذب بالعذاب الأليم، وقد حل عليه سخط الرب الرحيم وكل من الدارين بين أهلها من التفاوت ما لا يمكن أحدا عده.</span></p>
<p align="LEFT">“<b>Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain)</b> di dunia dengan lapang-sedikitnya rezeki , mudah-sulitnya, berilmu-tidaknya, cerdas-bodohnya dan selainnya dari perkara-perkara yang dengan itu Allah lebihkan sebagian hamba-Nya atas sebagian yang lain. <b>Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya</b> maka kenikmatan dunia dan kelezatannya dibandingkan kenikmatan dan kelezatan di Akherat tidak ada apa-apany, dilihat dari sisi manapun. Bagaimana jauhnya perbedaan antara orang yang berada di kamar-kamar yang tinggi dan (merasakan) kelezatan yang beranekaragam,kesenangan, kebaikan dan kegembiraan (penduduk Surga) dengan orang yang terbolak-balik di Neraka Jahim, diadzab dengan adzab yang pedih dan telah merasakan kemurkaan Ar-Rabbuur Rahiim (Tuhan Yang Maha Penyayang)? Dan diantara penghuni masing-masing dari kedua tempat tersebut (baca:diantara penghuni dunia dan Akherat) memiliki perbedaan yang tidak mungkin seorangpun ada yang mampu menghitungnya<i>” </i><span lang="en-US">(Tafsir As-Sa’di, hal.523).</span></p>
<blockquote>
<p align="LEFT"><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/6292-kaya-tanpa-iman.html" target="_blank" rel="noopener">Kaya Tanpa Iman</a></strong></em></p>
</blockquote>
<p align="LEFT">***</p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><b>Referensi:</b></p>
<ol>
<li lang="en-US">
<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>.</li>
<li lang="en-US">
<em>Tafsir As-Sa’di</em>.</li>
<li lang="en-US">
<span lang="en-US">K</span>itab <em>Arzaqul ‘Ibad</em>
</li>
</ol>
<p align="LEFT">—</p>
<p align="LEFT"><strong>Penulis: <a href="https://www.kajiantauhid.com/" target="_blank" rel="noopener">Ustadz Sa’id Abu Ukasyah</a></strong></p>
<p align="LEFT"><strong>Artikel Muslim.or.id</strong></p>
 