
<p><strong>Baca penjelasan sebelumnya pada artikel <a href="https://muslim.or.id/73265-20-mutiara-keindahan-bahasa-dalam-al-fatihah-bag-1.html"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">20 Mutiara Keindahan Bahasa dalam Al-Fatihah (Bag. 1)</span></a></strong>.</p>
<p><em>Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.</em></p>
<p>Pada artikel sebelumnya telah kami jelaskan tiga keindahan bahasa dalam Al-Fatihah, diantaranya:</p>
<p><em>Pertama, </em>keindahan maknanya.</p>
<p><em>Kedua, </em>keindahan akar bahasanya.</p>
<p><em>Ketiga, </em>keindahan statusnya sebagai nama Allah yang teragung.</p>
<p>Pada tulisan ini kami akan melanjutkan penjelasan delapan keindahan Al-Qur’an.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Keempat, bentuk pujian yang tertinggi dan menyeluruh untuk Allah <em>Ta’ala</em> semata (<em>Al-Mubaalaghah fits Tsanaa’</em>)</strong></span></h2>
<p>Diantara mutiara keindahan bahasa dalam Al-Fatihah adalah terdapat bentuk pujian yang tertinggi dan menyeluruh untuk Allah <em>Ta’ala</em> semata. Hal ini didapatkan dengan menerjemahkan <em>alif lam </em> pada {ٱلۡحَمۡدُ} sebagai <em>alif lam </em><em>lilistighraaq</em>. Sehingga kita dapat mengartikannya sebagai <em>alif lam</em> yang memiliki cakupan menyeluruh dan meliputi segala bentuk pujian serta syukur yang sempurna dari semua aspek.</p>
<p>Semua pujian dan syukur yang sempurna dikhususkan hanya untuk Allah <em>Ta’ala</em>. Hal tersebut merupakan hak Allah <em>Ta’ala</em> karena hanya Allah <em>Ta’ala</em> yang berhak mendapatkannya. Keistimewaan dan hak Allah <em>Ta’ala</em> ini didapatkan dari makna huruf <em>lam</em> yang ada pada {لِلَّهِ}. <em>Lam </em>disini adalah <em>lilistihqaq wal ikhtishash </em>[1] yang menunjukkan makna hak dan pengkhususan. Disamping itu, {ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ} adalah kalimat yang diawali <em>isim</em> (<em>jumlah ismiyyah</em>) yang menunjukkan faedah pujian yang sempurna dan dilakukan secara terus-menerus untuk Allah <em>Ta’ala</em> semata [2].</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kelima, terdapat berbagai kandungan seruan (<em>talwiinul khithaab</em>)</strong></span></h2>
<p>Pada {ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ} <em>zhahir</em>-nya adalah kalimat berita bahwa Allah <em>Tabaraka wa ta’ala </em>memuji diri-Nya. Namun, maksud  {ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ} sebenarnya adalah perintah kepada hamba-Nya untuk mengucapkan {ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ}. Hal itu dikarenakan dalam berita {ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ} terkandung pengajaran untuk hamba Allah <em>Ta’ala</em> agar mereka memuji-Nya.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Keenam, rahasia pengkhususan kepemilikan Allah <em>Ta’ala </em>terhadap hari pembalasan</strong></span></h2>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ</span></p>
<p><em>“Pemilik Hari Pembalasan”</em> (QS. Al-Fatihah: 4).</p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>adalah pemilik segala sesuatu, termasuk hari-hari di dalamnya. Namun, di dalam Al-Fatihah dikhususkan bahwa Allah adalah pemilik hari pembalasan. Rahasianya ada beberapa kemungkinan berikut ini:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> untuk mengagungkan hari tersebut dan menampakkan kengeriannya.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> menampakkan hanya Allah <em>Ta’ala </em>yang maha memiliki dengan kepemilikan yang hakiki. Pada hari pembalasan itu tidak ada lagi perbedaan antara kepemilikan raja dan rakyat biasa. Seluruh kepemilikan makhluk sirna, yang tersisa di sana adalah iman dan amal saleh.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/72506-tafsir-ringkas-surah-al-fatihah-bag-1.html">Tafsir Ringkas Surah Al-Fatihah (Bag. 1)</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Ketujuh, faedah sifat lafaz “Allah” (<em>At-Taqyiid bin Na’ti</em>)</strong></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ (2) ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ (3) مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ (4)</span></p>
<p><em>“(2) Segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah, Tuhan Pemelihara seluruh alam (3) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (4) Pemilik Hari Pembalasan”</em> (QS. Al-Fatihah: 2-4).</p>
<p>Kandungan beberapa ayat ini menunjukkan bahwa Allah disifati dengan empat sifat, yaitu:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> tuhan yang memelihara seluruh alam;</p>
<p><strong>Kedua,</strong> tuhan yang Maha Pengasih;</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> tuhan yang Maha Penyayang; dan</p>
<p><strong>Keempat,</strong> pemilik hari pembalasan.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kedelapan, pendahuluan dan pengakhiran (<em>At-Taqdiim wat Ta’khiir</em>)</strong></span></h2>
<p>Dalam ayat {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين} terdapat pendahuluan sesuatu yang pada asalnya di akhirkan.</p>
<p>Susunan {إِيَّاكَ نَعْبُدُ} pada asalnya adalah {نعبدك}, dengan mengakhirkan obyek {ك} setelah kata kerjanya {نعبد}. Namun, dalam ayat yang mulia ini susunan kalimatnya dibalik, yaitu obyek {إِيَّاك} didahulukan sebelum kata kerjanya {نَعْبُدُ}.</p>
<p>Demikian pula {إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} pada asalnya adalah {نستعين بك}, dengan mengakhirkan obyek {ك} setelah kata kerjanya {نستعين}. Namun, dalam ayat yang mulia ini susunan kalimatnya dibalik, yaitu obyek {إِيَّاك} didahulukan sebelum kata kerjanya {نَسْتَعِينُ}. Hal ini menunjukkan faedah pembatasan dan pengkhususan yang diterjemahkan sebagai, “Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah” dan “Hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan”.</p>
<p>Di dalam pembatasan ini terdapat dua rukun tauhid, yaitu meniadakan sesembahan selain Allah (<em>nafi’</em>) dan menetapkan satu-satunya sesembahan yang berhak disembah adalah Allah (<em>itsbat</em>). Inilah hakikat tauhid. Hanya kepada Allah <em>Ta’ala</em> seluruh peribadatan ditujukan. Tidak boleh mempersembahkan apa pun ibadah kepada selain-Nya. Begitu juga halnya <em>isti’anah </em>(memohon pertolongan) yang termasuk ibadah. Oleh karena itu, wajib memohon pertolongan (<em>isti’anah</em>) hanya kepada Allah <em>Ta’ala</em> saja.</p>
<p>Di samping terdapat faedah pembatasan dan pengkhususan, dalam ayat ini juga terdapat faedah pengagungan dan perhatian besar. Biasanya, bangsa Arab itu mendahulukan sesuatu yang terpenting sehingga layak diagungkan dan diperhatikan dengan sebesar-besarnya.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/72130-keutamaan-surat-al-fatihah-bag-1.html">Keutamaan Surah Al-Fatihah (Bag. 1)</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kesembilan, rahasia pendahuluan ibadah daripada <em>isti’anah</em></strong></span></h2>
<p>Dalam {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} terdapat pendahuluan ibadah daripada <em>isti’anah</em>. Faedanya antara lain:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> <em>isti’anah</em> dibutuhkan dalam setiap ibadah.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> mendahulukan hak Allah (mendapatkan persembahan ibadah) daripada hak makhluk.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> mendahulukan tujuan (<em>ibadatullah</em>) sebelum sarana (<em>isti’anah billah</em>).</p>
<p><strong>Keempat,</strong> mendahulukan ibadah secara umum daripada ibadah khusus (<em>isti’anah billah</em>).</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kesepuluh, rahasia pengulangan {</strong><strong>إِيَّاكَ</strong><strong>} pada ayat {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}</strong></span></h2>
<p>Pada ayat ini terdapat dua kata kerja yang berbeda sehingga masing-masing membutuhkan penegasan dan perhatian. Pengulangan {إِيَّاكَ} pada ayat ini mengandung dua faedah, yaitu:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> penegasan kekhususan Allah atas hak-Nya disembah dan hak-Nya tempat meminta pertolongan (<em>isti’anah</em>).</p>
<p><strong>Kedua,</strong> kenikmatan dalam bermunajat kepada Allah dan menyeru kepada-Nya dengan mengulangnya hingga dua kali.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kesebelas, rahasia penyebutan kata kami pada ayat </strong><strong>{</strong><strong>إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</strong><strong>}</strong></span></h2>
<p>Pada ayat {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} disebutkannya kata <em>kami</em>. Konteks kalimat ini adalah menampakkan penghambaan dan rasa butuh kepada Allah <em>Ta’ala.</em> Selain itu, ayat ini menampakkan pengakuan bahwa diri seorang hamba membutuhkan penyembahan kepada-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan meminta hidayah-Nya. Tentulah dalam kondisi ini yang cocok seorang hamba menyatakan <em>kami</em> daripada <em>saya</em>.</p>
<p>Lebih cocok seorang hamba menyatakan bahwa, <em>“Kami, seluruh makhluk adalah hamba-Mu dan ciptaan-Mu, kami semua menyembah-Mu semata dan memohon pertolongan kepada-Mu saja”.</em> Tidaklah pantas seorang hamba dalam kondisi ini mengatakan, <em>“Hanya saya saja hamba-Mu dan ciptaan-Mu, saya menyembah-Mu semata, dan memohon pertolongan kepada-Mu saja”</em>.</p>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/67689-fatwa-ulama-membaca-amin-setelah-membaca-al-fatihah-di-luar-shalat.html">Fatwa Ulama: Membaca Āmīn Setelah Membaca Al-Fatihah di Luar Salat</a></strong></li>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/59146-membaca-al-fatihah-di-awal-dan-akhir-doa.html">Membaca Al-Fatihah di Awal dan Akhir Doa</a></strong></li>
</ul>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Sa’id Abu Ukkasyah</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><strong>[1]</strong> Tafsir Abu Hayan dan Ibnu ‘Asyur <em>Rahimahumallah.</em></p>
<p><strong>[2]</strong> <em>I’rabul Qur’an wa bayanuhu</em>, Muhyiddin Darwis <em>Rahimahullah.</em></p>
 