
<p><strong>Aplikasi nyata mensyukuri nikmat. </strong></p>
<p>Di antara hal yang perlu untuk senantiasa kita ingat dalam hal  mensyukuri nikmat adalah perwujudan rasa syukur itu sendiri. Kebanyakan  kita beranggapan, bahwa mensyukuri nikmat hanya diwujudkan semata dengan  mengucapkan “<em>Alhamdulillah</em>” dengan lisan. Ini adalah anggapan  yang kurang tepat, karena syukur nikmat memiliki perwujudan yang sangat  banyak, di antaranya:</p>
<p>Mengucapkan <em>alhamdulillah,</em> atau ucapan yang semakna. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits, di antaranya pada firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</p>
<p><em>“Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.” </em></p>
<p>Ibnu Jarir <em>rahimahullah</em> berkata, “Makna ucapan “<em>Alhamdulillah</em>”  adalah bersyukur sepenuhnya hanya kepada Allah Yang Maha Agung dan  tanpa sesembahan-sesembahan lain atau sesama makhluk lainnya. Kita  bersyukur kepada Allah Ta’ala atas segala kenikmatan yang tiada  terhitung jumlahnya dan tiada makhluk yang menghitungnya. Di antara  kenikmatan-Nya ialah kita dikaruniai anggota tubuh yang sehat sehingga  dengan mudah kita dapat menjalankan ketaatan kepada-Nya. Berbagai rezeki  yang telah disiapkan untuk kita dalam kehidupan dunia, kehidupan yang  bahagia. Padahal Allah tidak berkewajiban untuk melakukan itu semua  untuk kita. Di tambah lagi, Allah<em> Ta’ala </em>juga telah menurunkan  untuk kita syariat agama-Nya yang dengannya kita dapat bahagia dan kekal  di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan abadi. Oleh karenanya,  hanya Allah yang berhak untuk mendapatkan segala ucapan puji syukur  kita.” (<em>Tafsir at-Thabari</em>, 1/59).</p>
<p>Menggunakan harta kekayaan untuk mendukung peribadahan kepada Allah <em>Ta’ala</em>, oleh karena itu dahulu Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menunaikan shalat malam hingga kedua kaki beliau menjadi bengkak. Dan tatkala istri beliau tercinta ‘Aisyah<em> radhiallahu ‘anha</em> berkata kepada beliau,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لِمَ تَصْنَعُ هذا يا رَسُولَ اللَّهِ؟ وقد غَفَرَ الله لك ما تَقَدَّمَ من ذَنْبِكَ وما تَأَخَّرَ؟</p>
<p>“<em>Mengapa engkau melakukan ini ya Rasulullah? Padahal Allah telah  mengampuni seluruh dosa-dosamu, baik yang terdahulu ataupun yang akan  datang?</em>” Beliau menjawab,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا</p>
<p>“<em>Tidakkah layak bagiku untuk menjadi seorang hamba yang bersyukur?</em>” (HR. <em>Muttafaqun ‘alaih</em>).</p>
<p>Demikianlah praktik Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam mensyukuri karunia Allah <em>Ta’a</em>la,  yang berupa diampuninya dosa-dosa beliau. Semakin besar kenikmatan yang  beliau terima, semakin gigih dalam menjalankan ibadah.</p>
<p>Melakukan sujud syukur setiap kali mendapatkan kenikmatan baru atau terhindar dari musibah.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(أَنَّهُ كان إذا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أو بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ (رواه أبو داود والترمذي وابن ماجة وغيرهم</p>
<p>“<em>Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mendapatkan suatu  hal yang menggembirakan, atau diberi kabar gembira tentangnya, beliau  segera bersujud sebagai ungkapan syukur kepada Allah</em>.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya).</p>
<p>Al-Munawi berkata, “Sujud adalah puncak sikap tawadhu’ dan rendah  diri seorang hamba di hadapan Allah, yaitu dengan meletakkan wajahnya  yang terhormat dan menunggingkan anggota tubuhnya. Demikianlah  sepantasnya sikap seorang mukmin. Setiap kali Allah menambahkan  kepadanya suatu kenikmatan, maka ia semakin bertambah merendah diri dan  semakin erat dalam menggantungkan segala kebutuhannya kepada Allah.  Dengan cara inilah kenikmatan dipikat dan diupayakan untuk berlipat  ganda.” (<em>Faidhul Qadir</em>, 5/118).</p>
<p>Demikianlah salah satu teladan yang diajarkan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>kepada  kita. Dan ini merupakan dalil lain yang menjelaskan bahwa amal ketaatan  adalah wujud nyata dari rasa syukur atas kenikmatan.</p>
<p>Menampakkan kenikmatan yang telah kita dapatkan, yaitu dengan menceritakan kenikmatan tersebut kepada orang lain. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ</p>
<p>“<em>Adapun dengan nikmat -nikmat Tuhanmu, maka hendaknya engkau sebut-sebut</em>.” (Qs. adh-Dhuha: 11).</p>
<p>Berdasarkan ayat ini, dahulu para sahabat beranggapan bahwa termasuk  kesempurnaan sikap syukur seseorang atas suatu kenikmatan ialah dengan  menyebut-nyebutnya (<em>Tafsir Ibnu Katsir,</em> 4/524). Oleh karena itu, dahulu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menceritakan kepada para sahabatnya kenikmatan besar yang telah beliau terima,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أنا سيد ولد آدم ولا فخر</p>
<p>“<em>Aku adalah pemimpin anak keturunan Adam, dan tiada berbangga-banggaan</em>.” (HR. Ahmad dan lainnya).</p>
<p>Pada hadits lain, beliau juga menceritakan akan kenikmatan lain yang telah dikaruniakan Allah kepadanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أُعْطِيتُ خَمْسًا لم يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ  مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا  رَجُلٍ من أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لي  الْمَغَانِمُ ولم تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وكان  النبي يُبْعَثُ إلى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إلى الناس عَامَّةً. متفق  عليه</p>
<p>“<em>Aku dikaruniai lima hal yang tidak pernah diberikan kepada  seorang nabipun sebelumku; Aku ditolong dengan dicampakkannya rasa takut  pada musuh-musuhku sejak aku masih berjarak perjalanan satu bulan dari  mereka. Bumi dijadikan bagiku sebagai tempat shalat (masjid) dan juga  alat bersuci, maka dari itu, barangsiapa dari umatku yang mendapatkan  shalat, maka hendaknya ia segera mendirikannya (dimanapun ia  berada-pen.), rampasan perang dihalalkan untukku, padahal sebelumku  tidak pernah dihalalkan untuk seorang nabipun, aku dikaruniai syafa’at  (kubra’), dan nabi-nabi sebelumku senantiasa diutus kepada kaumnya saja,  sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia.</em>” (HR. <em>Muttafaqun ‘alaih</em>).</p>
<p>Menceritakan kenikmatan semacam ini disyariatkan untuk kita lakukan, bila lawan bicara kita tidak memiliki sifat iri dan<em> hasad</em>.</p>
<p>Akan tetapi bila kita merasa, bahwa lawan bicara kita memiliki sifat  hasad atau iri, seyogyanya kita tidak melakukannya, dan lebih baik  menyembunyikan kenikmatan tersebut tanpa harus berdusta.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(استَعِيْنُوا عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ فَإِنَّ كُلَّ  ذِي نِعْمَةً مَحْسُودٌ (رواه الطبراني وغيره وحسنه الألباني</p>
<p>“<em>Berupayalah untuk mewujudkan kebutuhanmu dengan merahasiakan  kebutuhanmu; karena setiap orang yang mendapatkan kenikmatan pasti  dihasadi oleh orang lain</em>.” (HR. ath-Thabrani dan dihasankan oleh al-Albani).</p>
<p>Di antara bentuk menampakkan kenikmatan yang merupakan wujud nyata  dari syukur nikmat ialah dengan menggunakan kenikmatan tersebut, baik  berupa pakaian, alas kaki, kendaraan, rumah dan makanan.</p>
<p>Pada suatu hari, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyaksikan seorang sahabat beliau yang berpakaian kusut dan berdebu.  Menyaksikan penampilan sahabatnya yang tidak menarik tersebut, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya kepadanya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">أَلَكَ مَالٌ؟ قال: نعم، قد آتَانِي اللَّهُ من كل الْمَالِ، قال: (من  أَيِّ الْمَالِ؟) قال: آتَانِي اللَّهُ مِنَ الْخَيْلِ وَالرَّقِيقِ، فقال  له صلّى الله عليه وسلّم: (إذا آتَاكَ اللَّهُ مَالا، فَلْيُرَ عَلَيْكَ  أَثَرُ نِعْمَتِهِ وَكَرَامَتِهِ) رواه أحمد والطبراني وغيرهما وصححه  الألباني</p>
<p>“<em>Apakah engkau memiliki harta kekayaan?” Sahabat itu menjawab,  “Ya, sungguh Allah telah mengaruniaiku segala harta benda.” Nabi kembali  bertanya, “Harta apa saja yang engkau miliki?” Sahabat itu kembali  menjawab, “Allah telah mengaruniaku kuda, dan budak.” Maka Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Bila Allah telah  mengaruniaimu harta kekayaan, maka hendaknya nampak pada dirimu pertanda  kenikmatan dan karunia-Nya itu.</em>” (HR. Ahmad, ath- Thabrani dan lainnya, dan hadits ini dishahihkan oleh al-Albani).</p>
<p>Di antara wujud nyata sikap syukur nikmat ialah dengan senantiasa menyadari, bahwa segala kenikmatan adalah karunia Allah <em>Ta’ala </em>yang  wajib untuk disyukuri. Sebagaimana kita juga menyadari, bahwa kita  tidak akan pernah kuasa untuk menjalankan kewajiban bersyukur kepada-Nya  dengan sepenuhnya. Kenikmatan Allah yang kita terima lebih besar dan  lebih banyak dibanding sikap syukur yang kita lakukan. Bahkan, sikap  syukur itu sendiri merupakan kenikmatan baru yang wajib disyukuri.</p>
<p>Diriwayatkan dalam sebagian riwayat (<em>Israiliyat</em>), bahwa tatkala Nabi Musa<em> ‘alaihissala</em>m  diperintahkan untuk bersyukur kepada Allah, ia berkata, “Ya Allah,  bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu, sedangkan sikap syukurku  kepada-Mu adalah karunia baru dari-Mu yang aku terima? Allah menjawab  ucapan Nabi Musa <em>‘alaihissalam</em> ini dengan berfirman, ‘Wahai  Dawud, saat inilah engkau telah mensyukuri kenikmatan-Ku’, yaitu tatkala  engkau menyadari, bahwa engkau tidak kuasa untuk mensyukuri  kenikmatan-Nya dengan sepenuhnya (<em>Faidhul Qadir</em>, 4/512).</p>
<p>Inilah yang mendasari Imam asy-Syafi’i untuk berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الحمد لله الذي لا يؤدى شكر نعمة من نعمه الا بنعمة منه توجب مؤدي ماض نعمه بادائها نعمة حادثة يجب عليه شكره بها</p>
<p>“<em>Segala puji hanya milik Allah, yang kita tidak akan dapat  mensyukuri suatu kenikmatan-Nya, kecuali bila kita mendapatkan  kenikmatan-Nya yang lain. Dan kenikmatan yang telah menjadikannya dapat  mensyukuri kenikmatan yang telah lalu tersebut mengharuskannya untuk  kembali bersyukur kepada Allah karenanya</em>.” (<em>Ar-Risalah</em> oleh Imam asy-Syafi’i, 7).</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A<br> Artikel <a href="http://www.PengusahaMuslim.com">www.PengusahaMuslim.com</a></p>
 