
<p><strong>Kiat kesebelas untuk menggapai keberkahan : Tawakkal kepada Allah. </strong></p>
<p>Bila di atas dijelaskan, bahwa di antara penyebab diberkahinya rezeki  kita adalah bekerja dan senantiasa merasa puas dengan rezeki yang telah  Allah berikan kepada kita, maka satu hal lagi yang menjadi kunci  keberkahan, yaitu senantiasa ber-<em>tawakkal</em> kepada Allah dalam urusan rezeki.</p>
<p>Hendaknya seorang muslim senantiasa beriman dan yakin bahwa rezekinya telah ditentukan dan ditakdirkan oleh Allah <em>Ta’ala</em>.  Setiap anak manusia yang terlahir ke dunia ini, terlahir dengan membawa  takdir rezekinya masing-masing. Bahkan, sejak pertama kali ruhnya  ditiupkan ke dalam raganya, ketika ia masih berupa janin dalam kandungan  ibunya, Allah telah memerintahkan seorang mailakat untuk menuliskan  rezekinya.  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ في بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا  ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلك ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذلك  ثُمَّ يَبْعَثُ الله مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ وَيُقَالُ له  اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِيٌّ أو سَعِيدٌ ثُمَّ  يُنْفَخُ فيه الرُّوحُ – متفق عليه</p>
<p><em>“Sesungguhnya, penciptaan salah seorang darimu disatukan dalam  perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk nutfah / air mani),  kemudian berubah menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian  berubah menjadi sekerat daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus  seorang malaikat untuk menuliskan empat hal, dikatakan kepada malaikat  itu, ‘Tulislah amalannya, rezekinya, ajalnya, sengsara atau bahagia’,  kemudian ditiupkan ruh padanya.”</em> (HR. <em>Muttafaqun ‘alaih</em>).</p>
<p>Oleh karena itu, tidaklah kita mati dan meninggalkan kehidupan dunia ini, melainkan setalah kita mengenyam seluruh rezeki kita.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لا تستبطئوا الرزق ، فإنه لن يموت العبد حتى يبلغه آخر رزق هو له، فأجملوا في الطلب: أخذ الحلال، وترك الحرام</p>
<p><em>“Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu terlambat datangnya, karena  sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang  kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya, maka  tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil  yang halal dan meninggalkan yang haram.”</em> (HR. Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan al-Hakim, serta dishahihkan oleh al-Albani).</p>
<p>Bila kita telah memahami hal ini, niscaya kita tidak akan pernah  ditimpa gundah atau tekanan batin karena memikirkan rezeki atau  penghasilan. Kita akan bekerja mencari rezeki dengan tenang dan hati  yang sejuk serta jauh dari rasa was-was.</p>
<p>Hal ini bukan berarti kita berpangku tangan dan bermalas-malasan,  dengan alasan tawakkal dan menanti datangnya rezeki yang telah  ditakdirkan. Akan tetapi, kita tetap menjalankan usaha yang halal dengan  sekuat tenaga dan daya yang kita miliki, adapun hasilnya, maka kita  serahkan sepenuhnya kepada Allah.</p>
<p>Betapa indah permisalan yang diberikan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang seorang mukmin yang beriman dan ber-<em>tawakkal</em> kepada Allah, yang sedang bekerja sekuat tenaganya untuk mengais rezekinya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(لو أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ على اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ  كما يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً (رواه أحمد  وغيره</p>
<p><em>“Andaikata engkau ber-tawakkal kepada Allah dengan  sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan melimpahkan rezeki-Nya  kepadamu, sebagaimana Allah melimpahkan rezeki kepada burung, yang  (setiap) pagi pergi dalam keadaan lapar dan pada sore hari pulang ke  sarangnya dalam keadaan kenyang.”</em> (HR. Ahmad, dan lain-lain).</p>
<p>Pada hadits ini, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menggambarkan praktik <em>tawakkal</em> yang benar dengan burung. Setiap burung pada pagi hari keluar dari  sarangnya, dan bekerja terbang ke sana dan kemari mencari rezekinya  masing-masing. Tidak ada dari mereka yang berpangku tangan dan  bermalas-malasan di sarangnya. Oleh karena itu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berpesan kepada umatnya,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلي اللَّهِ من الْمُؤْمِنِ  الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ على ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ  بِاللَّهِ ولا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فلا تَقُلْ: لو أَنِّي  فَعَلْتُ، كان كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وما شَاءَ  فَعَلَ؛ فإن لو تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان) رواه مسلم</p>
<p><em>“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh  Allah dibanding seorang mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat  kebaikan. Senantiasa berusahalah untuk melakukan segala yang berguna  bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau  menjadi lemah. Dan bila engkau ditimpa sesuatu, maka janganlah engkau  berkata, ‘Seandainya aku berbuat demikian, demikian, niscaya akan  terjadi demikian dan demikian.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Allah telah  menakdirkan dan apa yang Ia kehendakilah yang akan Ia lakukan, karena  ucapan “seandainya” akan membukakan (pintu) godaan setan.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Demikianlah seyognyanya seorang mukmin yang ber-tawakkal. Ia bekerja  dengan sekuat tenaga dan kemampuan yang ia miliki dengan disertai  keimanan yang teguh dan tawakkal yang bulat kepada Allah. Dengan cara  inilah Allah <em>Ta’ala</em> akan melimpahkan rezeki dan keberkahan kepada kita, dan dengan cara inilah kita akan berhasil menggapai janji Allah,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ  لا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ  اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا</p>
<p><em>“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan  mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang  tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang ber-tawakkal kepada Allah,  niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah (berkuasa untuk)  melaksanakan urusan yang dikehendakai-Nya. Sesungguhnya Allah telah  mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap urusan.”</em> (Qs. ath-Thalaq: 2-3).</p>
<p>Artikel: www.PengusahaMuslim.com</p>
 