
<p><em>Baca pembahasan sebelumnya <a href="https://muslim.or.id/33581-10-kiat-istiqomah-11.html">10 Kiat Istiqomah (11)</a></em></p>
<p><b>KIAT KETUJUH:</b></p>
<p><b>“Seorang hamba, meski bagaimanapun tingginya tingkat istiqomahnya, maka ia tidak boleh bersandar kepada amalnya”</b></p>
<p>Kewajiban seorang hamba adalah tidak bersandar kepada amalnya, meski bagaimanapun tingginya tingkat istiqomahnya, walaupun bagaimanapun tingginya keshalehannya.</p>
<p>Jangan sampai ia tertipu dan silau dengan ibadahnya, shalatnya, puasanya, dzikirnya ataupun ketaatan lainnya yang ia lakukan.</p>
<p>Ibnul Qoyyim <i>rahimahullah</i> berkata:</p>
<p style="text-align: right;"><b>والمطلوبُ منَ العبد الاستقامةُ وهيَ السَّداد، فإنْ لمْ يَقدِر عليهَا فالمُقارَبَة، فإنْ نَزل عنهَا فالتَّفريطُ والإضَاعةُ،</b></p>
<p>“Yang tertuntut dari seorang hamba adalah istiqomah, yaitu <i>sadaad</i><i>, </i>jika ia tidak mampu maka bersikaplah <i>muqaarabah</i><i>. </i>Adapun jika melakukan di bawah <i>muqaarabah, </i>berarti terjerumus ke dalam mengurangi batasan (syar’i) dan menelantarkan(nya)”.</p>
<p>Sebagaimana di dalam <i>Ash-Shahihain </i>dari hadits A’isyah <i>radhiyallahu ‘anha </i>dari Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i>beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: right;"><b> سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، فَإِنَّهُ لَنْ يُدْخِلَ الجَنَّةَ أَحَدًا عَمَلُهُ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ الله!؟ قَالَ: وَلَا أَنَا؛ إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ الله مِنْهُ بِمَغْفِرَةٍ ورَحْمَةٍ</b></p>
<p><i>“Bersikaplah kalian sesuai dengan (sunah) dan mendekatilah, serta bergembiralah, karena sesungguhnya amal seseorang tidaklah memasukkan dirinya kedalam surga”. </i>Para sahabat bertanya: “Tidak pula Anda wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: <i>“Tidak pula saya, hanya saja Allah melimpahkan kepadaku ampunan dan rahmat dari-Nya”.</i></p>
<p>Dalam hadits ini, Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i> menggabungkan seluruh kedudukan-kedudukan dalam agama Islam ini, beliau <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i> memerintahkan (umatnya) untuk istiqomah, yaitu: lurus dan benar dalam seluruh niat, ucapan dan perbuatan.</p>
<p>Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i> mengabarkan dalam hadits Tsauban, yaitu:</p>
<p style="text-align: right;"><b>استَقِيمُوا ولنْ تُحْصُوا، واعْلَمُوا أنَّ خَيْرَ أعْمَالِكُم الصَّلاة</b></p>
<p><i>“Istiqomahlah dan kalian tidaklah akan mampu (untuk istiqomah dalam semua ketaatan dengan sebenar-benar istiqomah), dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat” </i>(HR. Imama Malik dalam Al-Muwaththa` dan Ibnu Majah, dinilai sahih oleh Al-Albani).</p>
<p>Bahwa mereka tidak mampu <i>(untuk istiqomah dalam semua ketaatan dengan sebenar-benar istiqomah), </i>sehingga Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i> mengalihkan kepada <i>muqaarabah, </i>yaitu: agar mereka mendekat kepada istiqomah sesuai dengan kemampuan mereka, seperti orang yang membidik suatu sasaran, maka jika tidak tepat mengenai sasaran, setidaknya mendekati sasaran tersebut! (Madarijus Salikin: 2/105).</p>
<p>Selanjutnya, Ibnul Qayyim <i>rahimahullah </i>menjelaskan kandungan lain dari  hadits A’isyah <i>radhiyallahu ‘anha</i> dalam <i>Ash-Shahihain </i>di atas, Ibnul Qayyim <i>rahimahullah</i> berkata:</p>
<p style="text-align: right;"><b>فأخبَرهُم أنَّ الاستقَامَة والمقارَبة لا تُنْجي يومَ القِيامةِ، فلا يَرْكَن أحدٌ إلى عمَلِه ، ولا يَعْجَب به ، ولا يَرى أنَّ نَجاتَه به ؛ بَل إنَّما نجاتُه برحمةِ الله وعفوِه وفضلِه</b></p>
<p>“Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wasallam </i>pun mengabarkan bahwa istiqomah <i>(sadaad)</i> dan <i>muqaarabah </i>tidaklah menyelamatkan (pelakunya) pada hari kiamat kelak, maka janganlah seseorang bersandar kepada amalnya (merasa aman) dan janganlah ia bangga/silau dengan amalannya, serta janganlah ia memandang bahwa hakekatnya keselamatan dirinya ditentukan oleh amalnya, akan tetapi hakekatnya keselamatan dirinya adalah karena rahmat Allah, maaf-Nya dan karunia-Nya” (Madarijus Salikin: 2/105).</p>
<p><b>(Bersambung)</b></p>
<h2>Daftar link artikel ini:</h2>
<ol>
<li><a href="https://muslim.or.id/31217-10-kiat-istiqamah-1.html">10 Kiat Istiqamah (1)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/31331-10-kiat-istiqamah-2.html">10 Kiat Istiqamah (2)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/31345-10-kiat-istiqamah-3.html">10 Kiat Istiqamah (3)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/32372-10-kiat-istiqamah-4.html">10 Kiat Istiqamah (4)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/32376-10-kiat-istiqamah-5.html">10 Kiat Istiqamah (5)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/32382-10-kiat-istiqomah-6.html">10 Kiat Istiqamah (6)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/32443-10-kiat-istiqomah-7.html">10 Kiat Istiqamah (7)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/33383-10-kiat-istiqomah-8.html">10 Kiat Istiqamah (8)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/33385-10-kiat-istiqomah-9.html">10 Kiat Istiqomah (9)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/33387-10-kiat-istiqomah-10.html">10 Kiat Istiqomah (10)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/33581-10-kiat-istiqomah-11.html">10 Kiat Istiqomah (11)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/33584-10-kiat-istiqomah-12.html">10 Kiat Istiqomah (12)</a></li>
</ol>
<p>Penulis: <span class=""><span class="author xt-post-author"><a title="Posts by Sa'id Abu Ukkasyah" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" rel="author" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Sa’id Abu Ukkasyah</a></span></span><br>
Artikel: <a href="http://muslim.or.id">Muslim.or.id</a></p>
 