
<p dir="ltr"><strong>Baca pembahasan sebelumnya</strong> <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id/44092-10-kaidah-dalam-menyucikan-jiwa-bag-4.html">10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 4)</a></span></p>
<p dir="ltr"><strong>Kaidah keempat: Mencari seseorag sebagai panutan dan teladan</strong></p>
<p dir="ltr">Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</span></p>
<p dir="ltr">“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.“ <strong>(QS. Al-Ahzab [33]: 21)</strong></p>
<p dir="ltr">Ibnu Katsir <em>rahimahullahu Ta’ala</em> berkata,</p>
<p dir="ltr" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">هَذِهِ الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ أَصْلٌ كَبِيرٌ فِي التَّأَسِّي بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ وَأَحْوَالِهِ</span></p>
<p dir="ltr">“Ayat yang mulia ini merupakan landasan (pokok) penting dalam meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam ucapan, perbuatan dan keadaan beliau.”<strong> (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 11: 133)</strong></p>
<p dir="ltr">Al-Hasan <em>rahimahullahu Ta’ala</em> berkata, “Sekelompok orang berkata pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya kami mencintai Rabb kami.” Maka Allah Ta’ala turunkan ayat ini,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ</span></p>
<p dir="ltr">“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” <strong>(QS. Ali ‘Imran [3]: 31)</strong></p>
<p dir="ltr"><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29010-bolehkah-belajar-dari-kitab-saja-ketika-sulit-berguru-pada-ulama.html">Bolehkah Belajar Dari Kitab Saja Ketika Sulit Berguru Pada Ulama?</a></span></p>
<p dir="ltr">Mengikuti dan meneladani Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah bukti benarnya kecintaan seseorang kepada Allah Ta’ala. Hal ini karena mengikuti dan meneladani Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> serta menempuh jalan beragama beliau yang lurus adalah penyucian jiwa itu sendiri. Dan tidaklah mungkin seorang bisa mencapai penyucian jiwa tanpa mengikuti ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p dir="ltr">Gembong-gembong kesesatan di setiap masa berinovasi dengan menciptakan metode-metode baru lagi mungkar, dan mengklaim hal itu mampu menyucikan jiwa, menjernihkan hati, memperkuat hubungan dengan Allah Ta’ala, dan klaim-klaim lain dalam perkataan mereka. Mereka pun memberi wejangan untuk mengasingkan diri dari masyarakat (jamaah) dan menyendiri di tempat-tempat yang gelap, mengulang-ulang model dzikir dan kalimat (lafadz) tertentu, dan mereka menyangka hal itu bisa menyucikan, menjernihkan, memelihara jiwa, dan klaim-klaim lain yang batil (dusta).</p>
<p dir="ltr">Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">وتزكية النفوس : أصعب من علاج الأبدان وأشد فمن زكى نفسه بالرياضة والمجاهدة والخلوة التي لم يجىء بها الرسل فهو كالمريض الذي يعالج نفسه برأيه وأين يقع رأيه من معرفة الطبيب فالرسل أطباء القلوب فلا سبيل إلى تزكيتها وصلاحها إلا من طريقهم وعلى أيديهم وبمحض الانقياد والتسليم لهم والله المستعان</span></p>
<p dir="ltr">“Menyucikan jiwa lebih sulit dan lebih berat daripada mengobati badan. Barangsiapa menyucikan jiwanya dengan <em>riyadhah</em> (latihan-latihan rohani untuk menyucikan jiwa, pent.), <em>mujahadah</em> (usaha sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu menurut pengikut tasawwuf, pent.) dan <em>khulwah</em> (menyendiri) yang tidak diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah seperti orang yang mengobati diri sendiri dengan mengandalkan pendapat sendiri. Apakah pendapatnya itu akan sesuai dengan ilmu yang dimiliki oleh para dokter? Para rasul adalah dokter hati. Tidak ada jalan untuk menyucikan dan memperbaiki hati manusia kecuali mengikuti jalan dan melalui arahan mereka, dan dengan semata-mata menaati dan menerima ajaran mereka. <em>Wallahul musta’an</em> (Dan Allah adalah sebaik-baik tempat untuk meminta pertolongan).” <strong>(Madaarijus Saalikiin, 2: 300)</strong></p>
<p dir="ltr"><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27667-tepatkah-belajar-agama-tanpa-guru.html">Tepatkah Belajar Agama Tanpa Guru?</a></span></p>
<p dir="ltr">Demikian pula, seluruh amal yang tidak dilandasi tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalan tersebut tertolak. Sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</span></p>
<p dir="ltr">“Barangsiapa yang beramal dengan amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” <strong>(HR. Muslim no. 1718)</strong></p>
<p dir="ltr">Sufyan bin ‘Uyainah <em>rahimahullahu Ta’ala</em> bekata,</p>
<p dir="ltr" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">إن رسول الله صلى الله عليه و سلم هو الميزان الأكبر، فعليه تعرض الأشياء؛ على خلقه، وسيرته، وهديه، فما وافقها فهو الحق، وماخالفها فهو الباطل</span></p>
<p dir="ltr">“Sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah <em>al-mizan al-akbar</em> (parameter kebenaran yang agung), segala sesuatu diperbandingkan dengan beliau, baik dengan akhlaknya, sejarah hidupnya, maupun dengan petunjuknya. Apa yang sesuai dengannya, itulah kebenaran. Dan apa yang bertentangan dengannya, itulah kebatilan.”<strong> (Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam <em>Al-Jaami’ li akhlaaq ar-raawi wa adaab as-saami’</em>, 1: 79)</strong></p>
<p dir="ltr">Oleh karena itu, wajib bagi orang yang ingin menyucikan jiwanya untuk bersungguh-sungguh mengikuti, mencontoh dan meneladani Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, serta menjauhi berbagai perkara dan metode-metode baru (bid’ah) yang diklaim oleh para pencetusnya bahwa hal itu dapat menyucikan jiwa.</p>
<p dir="ltr"><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li dir="ltr"><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/25497-adab-seorang-murid-terhadap-guru.html">Adab Seorang Murid Terhadap Guru</a></span></li>
<li dir="ltr"><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/42381-memberikan-keteladanan-dengan-amal-perbuatan.html">Memberikan Keteladanan dengan Amal Perbuatan</a></span></li>
</ul>
<p dir="ltr"><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p dir="ltr">***</p>
<p dir="ltr">@Kantor Jogja, 22 Shafar 1440/ 31 Oktober 2018</p>
<p dir="ltr"><strong>Penerjemah: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim">M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p>Artikel: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></span></p>
<p> </p>
<p dir="ltr"><strong>Referensi:</strong></p>
<p dir="ltr">Diterjemahkan dari kitab <em><strong>‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi,</strong></em> hal. 20-22, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr<em> hafidzahullahu Ta’ala</em>.</p>
 