
<p>Bermain tiktok sama platform lainnya, hukumnya tergantung pemanfaatannya. Jika pemanfaatannya mubah, dihukumi mubah (boleh). Jika pemanfaatannya haram, dihukumi haram.</p>



<p>Ada <strong>sepuluh dosa atau kesalahan</strong> yang perlu diingatkan pada penggemar tiktok.</p>



<ol>
<li>Sudah berkurang rasa malu. Ada yang berusaha melawan sifat malu demi eksis. Bahkan emak-emak dan bapak-bapak pun ingin bermain, padahal sudah berumur tua dan tidak pantas.</li>
<li>Adanya musik, sampai-sampai ibadah seperti shalawat dibuat dengan musik.</li>
<li>Susah menundukkan pandangan, karena banyak wanita yang bertabarruj (berpenampilan indah) saat tampil di tiktok.</li>
<li>Ketagihan, baik si pemain maupun yang menonton. Akhirnya waktu dibiarkan jadi sia-sia.</li>
<li>Banyak perbuatan <em><strong>alay</strong></em> (gaya berlebihan untuk menarik perhatian), di antaranya joget, menari, dan dansa.</li>
<li>
<em>Challenge </em>(tantangan) yang tidak bermutu banyak sekali.</li>
<li>Perbuatan nge-<em>prank</em>.</li>
<li>Mengurangi <em>muru’ah</em>.</li>
<li>Laki-laki bergaya meniru perempuan.</li>
<li>Video <em>lipsync</em> dengan suara lawan jenis.</li>
</ol>



<p></p>



<h3>Pertama: Berkurangnya rasa malu</h3>



<p>Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, </p>



<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ</span></p>



<p>‘<em>Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!</em>’” (HR. Bukhari, no. 3484, 6120)</p>



<p>Dari Abu Hurairah<em> radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>



<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ</span></p>



<p>”<em>Malu merupakan bagian dari keimanan</em>.” (HR. Muslim, no. 161)</p>



<p>Rasa malu ini juga dipuji oleh Allah.</p>



<p>Dari Ya’la bin Umayyadh <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>



<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِىٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ</span></p>



<p>”<em>Sesungguhnya Allah itu Mahamalu dan Maha Menutupi, Allah cinta kepada sifat malu dan tertutup, maka jika salah seorang di antara kalian itu mandi maka hendaklah menutupi diri</em>.” (HR. Abu Daud, no. 4014, dikatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani).</p>



<p></p>



<h3>Kedua: Adanya musik, sampai-sampai ibadah seperti shalawat dibuat dengan musik.</h3>



<p>Dari Abu Malik Al-Asy’ari <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>



<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ ،</span></p>



<p>“<em>Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik.  …</em>” (HR. Bukhari no. 5590).</p>



<p>Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa joget atau menari dalam <strong>rangka dzikir atau ibadah</strong> termasuk bidah yang dinilai maksiat. Perbuatan semacam ini tidaklah pernah dicontohkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Perbuatan tersebut juga tidak diajarkan oleh para imam atau ulama salaf. Lihat <em>Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah</em>, 23:10.</p>



<p></p>



<h3>Ketiga: Susah menundukkan pandangan</h3>



<p>Dari Jarir bin Abdullah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>



<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.</span></p>



<p>“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)</p>



<p></p>



<h3>Keempat: Ketagihan, baik si pemain maupun yang menonton. Akhirnya waktu dibiarkan jadi sia-sia.</h3>



<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, </p>



<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ</span></p>



<p>“<em>Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat</em>.” (HR. Tirmidzi, no. 2317; Ibnu Majah, no. 3976. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih)</p>



<p></p>



<h3>Kelima: Banyak perbuatan <em><strong>alay</strong></em> (gaya berlebihan untuk menarik perhatian), di antaranya joget, menari, dan dansa.</h3>



<p>Disebutkan dalam <em>Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah</em>, pada jilid ke-23, halaman 10 bahwa ulama Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, dan Al-Qafal dari Syafiiyyah menyatakan joget <strong>dihukumi makruh</strong> dengan alasan karena ia adalah perbuatan <em>dana’ah</em> (rendah) dan <em>safah</em> (kebodohan). Joget merupakan perbuatan yang menjatuhkan wibawa (<em>muru’ah</em>), juga termasuk perbuatan <em>lahwun</em> (kesia-siaan). Al-Abbi mengatakan, ‘Para ulama memaknai hadits jogetnya orang Habasyah bahwa maksudnya (bukan joget sebagaimana yang kita ketahui) <strong>namun sekadar lompat-lompat ketika bermain pedang, dan alat-alat perang mereka</strong>.’ Sehingga sesuai dengan riwayat yang lain yang menyatakan bahwa orang Habasyah bermain-main di dekat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan alat-alat perang mereka.’ Demikian pemaparan ini semua dengan asumsi bahwa joget tersebut tidak dibarengi dengan hal yang diharamkan syariat seperti minum khamar dan membuka aurat. Jika dibarengi hal yang diharamkan maka hukumnya haram menurut sepakat ulama.”</p>



<p><strong>Catatan dari ulama Syafiiyah</strong>, walaupun bergoyang (<em>ar-raqshu</em>), hukumnya itu boleh. Akan tetapi, tidak boleh gerakannya lemah gemulai seperti perempuan. Jika gerakannya lemah gemulai, seperti itu diharamkan pada laki-laki dan perempuan. </p>



<p></p>



<h3>Keenam: <em>Challenge</em> (tantangan) yang tidak bermutu banyak sekali</h3>



<h3>Ketujuh: Perbuatan nge-<em>prank</em>.</h3>



<p>Ada challenge yang sifatnya prank dan ada yang jadi perbuatan tidak bermutu.</p>



<p>Kalau perbuatan tersebut untuk nge-<em>prank</em>, maka dihukumi terlarang berdasarkan dalil-dalil berikut.</p>



<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا</span></p>



<p>“<em>Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain</em>.” (HR. Abu Daud, no. 5004; Ahmad 5: 362. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini <strong><em>hasan</em></strong>).</p>



<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>



<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لأَبِيهِ وَأُمِّهِ</span></p>



<p>“<em>Barangsiapa mengacungkan senjata tajam kepada saudaranya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai dia meninggalkan perbuatan tersebut, walaupun saudara tersebut adalah saudara kandung sebapak dan seibu</em>.” (HR. Muslim, no. 2616)</p>



<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>



<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">لاَ يُشِيْرُ أَحَدُكُمْ إِلَى أَخِيْهِ بِالسِّلاَحِ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى أَحَدُكُمْ لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ</span></p>



<p>“<em>Janganlah seseorang diantara kalian mengacungkan senjata kepada saudaranya karena sesungguhnya kalian tidak tahu bisa jadi setan merenggut (nyawanya) melalui tangannya sehingga mengakibatkannya masuk ke lubang api neraka</em>.” (HR. Bukhari, no. 7072; Muslim, no. 2617)</p>



<p>Kalau perbuatan <em>challenge</em> tersebut bukan prank, maka berarti telah melakukan perbuatan sia-sia.</p>



<p></p>



<h3>Kedelapan: Mengurangi muru’ah (kewibawaan)</h3>



<p>Para ulama sepakat akan ditolaknya persaksian para penari (<em>ar-raqqash</em>) karena seperti ini menjatuhkan <em>muru’ah</em> (kewibawaan). Padahal <em>muru’ah</em> ini adalah faktor diterimanya suatu persaksian.</p>



<p></p>



<h3>Kesembilan: Laki-laki bergaya meniru perempuan.</h3>



<h3>Kesepuluh: Video lipsync dengan suara lawan jenis.</h3>



<p><em><strong>Sinkronisasi bibir atau lip sync </strong></em>adalah sikap seseorang seolah benar-benar bernyanyi dengan menggerakkan bibirnya dibarengi dengan lagu yang diputar melalui kaset atau media yang lain. Ketepatan, kelancaran, dan penghayatan akan menentukan seberapa berhasilnya sinkronisasi bibir. </p>



<p><strong>Meniru lawan jenis seperti di atas terkena laknat dalam hal gaya maupun suara.</strong></p>



<p>Dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, ia berkata,</p>



<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ</span></p>



<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki</em>” (HR. Bukhari, no. 5885).</p>



<p>Dalam lafazh Musnad Imam Ahmad disebutkan,</p>



<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ</span></p>



<p>“<em>Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu pula wanita yang menyerupai laki-laki</em>” (HR. Ahmad no. 3151, 5:243. Sanad hadits ini <em>shahih</em> sesuai syarat Bukhari).</p>



<p>Begitu pula dalam hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu </em>disebutkan,</p>



<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ</span></p>



<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian lelaki.</em>” (HR. Ahmad, no. 8309, 14:61. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, perawinya tsiqah termasuk perawi Bukhari Muslim selain Suhail bin Abi Shaih yang termasuk perawi Muslim saja).</p>



<p>Semoga bermanfaat.</p>



<p>—</p>



<p><a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Muhammad Abduh Tuasikal </a></p>



<p><strong>Artikel <a href="https://remajaislam.com" target="_blank" rel="noreferrer noopener">RemajaIslam.Com</a></strong></p>



<p></p>
 